Senin, 13 April 2026

Opini

Motivasi Orang Tua, Energi Terbesar Meraih Cita

Padahal, saya sudah berusaha menyampaikan materi tersebut dengan baik. Mulai dari menyiapkan bahasan yang mudah dipahami, menuntun dengan contoh-conto

Editor: Ansari Hasyim
SERAMBINEWS.COM/FOR SERAMBINEWS
Nelliani, M.Pd, Guru SMA Negeri 1 Baitussalam.        

Oleh: Nelliani, M.Pd, Guru SMA Negeri 1 Baitussalam            

SAYA mengakhiri pembelajaran hari ini dengan rasa campur aduk dalam hati. Betapa tidak, kemampuan memahami siswa saya masih tetap sama, jika tidak mau dibilang belum paham-paham juga, meskipun sudah tiga kali pertemuan kami membahas materi yang sama. Hari ini saya mengulang kembali materi itu sebagai pemantapan sekaligus persiapan penilaian akhir tahun. Namun, pencapaian hasil belajar siswa benar-benar menguji kesabaran. 

Padahal, saya sudah berusaha menyampaikan materi tersebut dengan baik. Mulai dari menyiapkan bahasan yang mudah dipahami, menuntun dengan contoh-contoh sederhana, membuka ruang diskusi, sampai menggunakan media supaya pembelajaran lebih menarik. Tetapi pemahaman siswa tidak kunjung membaik. Anehnya, siswa saya tidak melihat itu sebagai masalah, malah ada yang santai saja dengan ketidakpahamannya.

Menuju kantor, saya lihat rekan-rekan sedang terlibat diskusi cukup serius. Isi diskusi membahas tema yang sama cuma beda kasus. Seorang wali kelas mengeluh ada siswanya bermasalah dengan kehadiran. Si anak sudah pecah rekor. Ketidakhadirannya melebihi batas yang ditoleransi sekolah. 

Wali kelas bingung, si anak tidak kunjung muncul sedangkan ujian kenaikan kelas tinggal menghitung hari. Berbagai usaha dilakukan, memanggil orang tua sampai kunjungan rumah. Namun si anak bergeming, tetap tidak mau sekolah dengan alasan yang tidak jelas. 

Ibu wali bicara dengan nada protes, “bagaimana bisa naik kelas jika hadir saja malas”. Sebagaimana ibu wali, saya turut mengungkapkan kegalauan yang sama, “bagaiman bisa dapat nilai bagus jika belajar saja tidak mau”. Permasalah berikutnya, ketika guru memberi nilai secara objektif, si anak dan orang tuanya sepakat tidak terima dengan bermacam pembenaran. 

Diskusi hari itu benar-benar serius ibarat mengurai benang kusut permasalah yang membuat guru kehabisan akal. Apa yang mempengaruhi anak-anak ini sehingga terkesan kurang punya daya juang?. Setelah diskusi panjang, pembicaraan mengerucut pada kesimpulan, sebagus apapun metode belajar dan sehebat apapun guru mengajar, jika tidak dibarengi motivasi dari pribadi siswa maka proses belajar tetap tidak akan bermakna apa-apa.

Motivasi 

Persoalan motivasi sekilas terdengar sederhana. Pada kenyataannya, motivasi tidaklah sesederhana yang dipikirkan. Dalam dunia pendidikan, motivasi memegang peranan penting terhadap kemajuan belajar peserta didik. Fakta menunjukkan, bagaimana keberhasilan belajar seorang anak diperoleh karena adanya motivasi. Sebaliknya, tidak sedikit kegagalan menghampiri hanya akibat lemahnya motivasi. 

Santrock dalam bukunya psikologi pendidikan (2007) menyatakan, motivasi adalah proses yang memberi semangat, arah dan kegigihan pada perilaku. Artinya, perilaku yang termotivasi adalah perilaku yang penuh energi, terarah dan bertahan lama. Santrock dalam buku tersebut menulis sebuah kisah nyata bagaimana motivasi berpengaruh pada perjuangan seorang pemuda dalam meraih impian. Penulis menyajikannya sebagai bahan renungan.

Terry Fox, seorang pemuda Kanada, mampu menyelesaikan lari jarak jauh yang luar biasa dalam sejarah (McNally, 1990). Dia rata-rata berlari sejauh jarak lari marathon (26,2 mil) setiap hari selama lima bulan dan berhasil menempuh 3.359 mil melintasi Kanada. Yang membuatnya menjadi luar biasa, Terri berlari menggunakan kaki palsu karena dia kehilangan satu kaki akibat kanker. Ketika masuk rumah sakit karena kanker, dia berkata kepada dirinya, jika bisa bertahan hidup, maka dia akan melakukan sesuatu untuk membantu mendanai riset kanker (Santrock, 2007:510).  

Terri mampu menyelesaikan larinya karena punya motivasi. Motivasi telah memberi tujuan dari tindakannya yaitu membantu pasien pengidap kanker. Motivasi membuatnya bersemangat dan gigih (mampu bertahan) meskipun halangan menghadang. Kisah Terri adalah gambaran bagaimana motivasi membantu seseorang bertahan dalam perjuangan mencapai suatu tujuan.   

Sebagaimana Terri, motivasi peserta didik di sekolah juga berkaitan dengan alasan di balik perilakunya. Sejauh mana perilaku tersebut diberi dorongan, semangat, arah dan bantuan untuk bertahan meraih tujuan yang hendak dicapai. Dorongan itu bisa berasal dari dalam diri (intrinsik) maupun dari luar pribadi siswa (ekstrinsik). Jika energi terbesar Terri berasal dari dalam dirinya, maka motivasi peserta didik biasanya banyak dipengaruhi oleh dorongan dari lingkungannya.  

Dalam konteks ini, lingkungan yang dimaksud adalah orang tua. Berdasarkan pengalaman penulis, orang tua merupakan sumber motivasi bagi seorang siswa. Karena orang tua figur yang paling dekat dengan sang anak, paling mengetahui keadaan mereka dan paling memahami keinginan mereka. Orang tua dapat memberi motivasi sesering mungkin, karena sebagian besar waktu anak dihabiskan di rumah bersama orang tua dan keluarganya. 

Orang tua yang peduli pada pendidikan anak, senantiasa hadir dalam setiap tahapan belajarnya. Mereka terbuka untuk bekerja sama dan saling membantu. Jika di sekolah anak mendapatkan pendidikan dan pembelajaran bersama gurunya, maka saat di rumah, orang tua yang melanjutkan proses pembelajarannya melalui bimbingan dan dukungan. Orang tua menyadari, sejatinya mereka, guru dan sekolah memiliki visi sama yaitu untuk pendidikan anak yang lebih baik. 

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved