Opini
ISBI Aceh dalam Bingkai Sejarah Peradaban Aceh
Sejarah mencatat bahwa Aceh bukan sekadar daerah yang kebetulan menjadi tempat persinggahan para pedagang asing. Ia adalah pusat gravitasi
Oleh: Prof. Dr. Apridar, S.E., M. Si, Guru Besar Universitas Syiah Kuala dan Ketua Dewan Pakar ICMI Orwil Aceh
DI ujung barat Kepulauan Nusantara, terbentang sebuah tanah yang menyimpan jejak peradaban gemilang. Tanah Rencong begitu masyarakatnya menyebut, telah menorehkan tinta emas dalam sejarah Indonesia. Dari pesisir timur hingga barat, dari masa kerajaan hingga era modern, Aceh telah memainkan peran sentral yang tak terbantahkan.
Kini, di tengah gempuran globalisasi dan arus modernisasi, muncul sebuah institusi yang bertekad melanjutkan estafet peradaban itu: Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Aceh.
Berdiri di lereng Bukit Jantho, kampus muda ini tidak sekadar menjadi perguruan tinggi seni biasa, melainkan penjaga obor kebudayaan yang pernah menyala terang di masa lalu.
Baca juga: Ironi JKA: Dana Masa Depan Aceh Habis untuk Membayar Utang Kemanusiaan Negara
Dalam tulisan ini, kita akan menyelami tiga pilar utama yang menghubungkan ISBI Aceh dengan sejarah panjang peradaban Aceh: posisi Aceh sebagai poros peradaban Islam di Nusantara, warisan budaya Aceh yang diakui dunia, dan peran strategis ISBI dalam mengembalikan kejayaan Aceh.
Aceh sebagai Poros Peradaban Islam di Nusantara
Sejarah mencatat bahwa Aceh bukan sekadar daerah yang kebetulan menjadi tempat persinggahan para pedagang asing. Ia adalah pusat gravitasi peradaban Islam di Nusantara selama berabad-abad.
Para akademisi, termasuk Buya Hamka dan Syed Hussein Naquib al-Attas, meyakini bahwa syiar Islam pertama kali datang ke Indonesia langsung dari Jazirah Arab, dan Aceh adalah pintu gerbang utamanya.
Hamka dengan tegas membantah teori Gujarat yang dinilainya sebagai manipulasi orientalis untuk mengaburkan fakta historis hubungan berbilang abad antara Arab dan Aceh. Dengan kata lain, Aceh adalah "penerima" pertama dakwah Islam di seantero Nusantara, sebuah fakta yang diakui secara luas oleh para sejarawan.
Jejak peradaban Islam di Aceh dimulai jauh sebelum Kesultanan Aceh Darussalam berdiri. Kerajaan Samudera Pasai, yang didirikan oleh Marah Silu bergelar Sultan Malik as-Saleh sekitar tahun 1267 M, merupakan kerajaan Islam pertama dan tertua di Indonesia.
Wilayah kekuasaannya mencapai seluruh Aceh dan menjadi pusat perdagangan penting yang sering dikunjungi pedagang dari Cina, India, Siam, Arab, dan Persia.
Bahkan musafir Maroko, Ibnu Batuthah, singgah di negeri ini pada tahun 1345 dan mencatat kejayaannya. Samudera Pasai bukan sekadar kerajaan dagang, melainkan juga pusat pengkajian ilmu pengetahuan dan penyebaran agama Islam.
Puncak kejayaan Islam di Aceh, bagaimanapun, terjadi pada masa Kesultanan Aceh Darussalam. Didirikan pada 1496 M oleh Sultan Ali Mughayat Syah, kesultanan ini menjadi regenerasi dari kerajaan-kerajaan Islam yang telah tumbuh sebelumnya.
Pada puncak keemasannya di bawah kepemimpinan Sultan Iskandar Muda (1607-1636), Aceh mencapai status sebagai lima besar negara adidaya dunia pada zamannya.
Wilayah kekuasaannya membentang luas, meliputi seluruh Aceh, Johor, Malaka, hingga negeri-negeri di timur Malaya, bahkan Pahang, Kedah, dan Patani. Tidak heran jika Aceh dijuluki "Serambi Mekkah" sebuah gelar yang mencerminkan perannya sebagai pusat kebudayaan Islam di kawasan ini.
Apa yang membuat Aceh begitu istimewa di mata dunia? Jawabannya terletak pada sistem pemerintahan yang berlandaskan syariat Islam.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/apridarrr.jpg)