Konflik Iran vs Israel

Update Kerugian Capai Rp1,6 Triliun, True Promise Operation Iran vs Israel 2025: Siapa Lebih Unggul?

Serangan tersebut menyebabkan kerugian ekonomi besar bagi Israel, mencapai 100 juta dolar AS atau sekitar Rp 1,6 triliun. 

Penulis: Gina Zahrina | Editor: Nur Nihayati
mna/tangkap layar
BALASAN MENGHANCURKAN - Angkatan bersenjata Iran melontarkan peluru artileri dalam sebuah latihan militer. Staf Umum Angkatan Bersenjata Iran bersumpah akan membalas serangan Israel pada Jumat (13/6/2025) dengan serangan yang lebih menghancurkan. 

SERAMBINEWS.COM - Ketegangan di Timur Tengah kembali memuncak setelah Iran dan Israel saling melancarkan serangan militer sejak Jumat (13/6/2025). 

Konflik terbaru akhir akhir ini dipicu oleh serangan udara Israel yang menghantam fasilitas pertahanan penting milik Iran, dan dilaporkan menewaskan tokoh militer senior, termasuk Kepala Garda Revolusi Iran (IRGC), Jenderal Hossein Salami. 

Serangan tersebut langsung memicu respons keras dari Iran yang kemudian menyatakan keadaan perang.

Sebagai balasan, Iran meluncurkan serangan besar-besaran ke wilayah Israel pada Sabtu malam (14/6/2025). 

Ratusan drone pembunuh, rudal balistik, dan rudal jelajah menghujani kota-kota besar seperti Tel Aviv dan Yerusalem Barat. 

Iran menamai operasi ini sebagai “True Promise Operation”, sebagai bentuk pembalasan atas serangan Israel sebelumnya yang menghantam konsulat Iran di Suriah.

Baca juga: Lagi! Serangan Rudal Iran di Israel Tewaskan 3 Orang dan Lukai Puluhan Lainnya, 30 Mobil Rusak Parah

Meski sebagian besar serangan berhasil dicegat oleh sistem pertahanan berlapis Israel, seperti Iron Dome, Arrow, dan David’s Sling, beberapa rudal tetap berhasil lolos dan menyebabkan kerusakan di wilayah selatan Israel

Militer Israel mengonfirmasi adanya kerusakan ringan di sebuah pangkalan militer, serta melaporkan seorang gadis terluka akibat pecahan rudal yang jatuh.

Menurut laporan media pemerintah Iran, IRNA, serangan tersebut menyebabkan kerugian ekonomi besar bagi Israel, mencapai 100 juta dolar AS atau sekitar Rp 1,6 triliun. 

Biaya tinggi ini sebagian besar berasal dari pengoperasian sistem pertahanan udara, di mana satu rudal pencegat Iron Dome diperkirakan menelan biaya sekitar 50.000 dolar AS sebagaimana dikutip dari Youm7.

Perbandingan Kekuatan Militer Iran dan Israel

Dalam hal kekuatan militer, Iran memiliki jumlah personel yang jauh lebih besar. Berdasarkan data dari Global Fire Power, Iran memiliki sekitar 610.000 personel aktif, 350.000 pasukan cadangan, dan 220.000 anggota Garda Revolusi, termasuk Pasukan Elite Quds. 

Selain itu, Iran juga mendapat dukungan dari kelompok-kelompok proksi bersenjata di Lebanon (Hizbullah), Suriah, Irak, dan Yaman.

Baca juga: Cara Iran Tembak Jatuh Tiga Jet Tempur Siluman F-35 Milik Israel Buatan AS, 2 Pilot Zionis Ditangkap

Iran memiliki armada laut yang kuat dengan 25 kapal selam, 7 fregat, dan 21 kapal patroli. Namun, banyak dari peralatan militernya merupakan peninggalan era lama yang mulai usang, meskipun Iran terus meningkatkan teknologi drone tempur yang telah terbukti efektif dan bahkan diekspor ke Rusia.

Sementara itu, Israel memiliki pasukan yang lebih kecil dalam jumlah tetapi lebih unggul dari sisi teknologi dan efisiensi. 

Israel tercatat memiliki kekuatan udara yang canggih, sistem pertahanan rudal berlapis yang sangat efektif, serta diyakini memiliki senjata nuklir, meski tidak pernah dikonfirmasi secara resmi. 

Israel juga mendapat dukungan militer penuh dari sekutu utamanya, Amerika Serikat, yang menyediakan bantuan teknologi, logistik, hingga pertahanan strategis.

Dari sisi kekuatan laut, Israel hanya memiliki 5 kapal selam, namun memiliki lebih banyak kapal patroli dan korvet canggih. 

Israel juga terkenal dengan kemampuan intelijen yang mumpuni dan serangan presisi tinggi yang sering ditujukan ke wilayah Suriah, Lebanon, dan bahkan Iran.

Baca juga: Israel Menggila Lagi, Bombardir Ladang Gas Iran, Terlihat Kobaran Api Besar

Dampak Regional dan Global

Konflik ini tidak hanya berdampak langsung bagi kedua negara, tetapi juga mengancam stabilitas kawasan. 

Negara-negara tetangga seperti Irak, Yordania, dan Lebanon telah menutup wilayah udaranya sebagai langkah pengamanan. 

Sejumlah maskapai internasional juga telah membatalkan penerbangan ke dan dari Timur Tengah karena risiko keamanan.

Ketegangan ini juga terjadi hanya enam bulan setelah perang antara Israel dan Hamas di Gaza yang telah menyebabkan ribuan korban jiwa dan meningkatkan ketegangan di seluruh kawasan. 

Saat ini, dunia menanti dengan cemas langkah selanjutnya dari kedua negara. Baik Iran maupun Israel sama-sama menyatakan kesiapan untuk melanjutkan operasi militer jika provokasi terus berlanjut. 

Namun, banyak pihak berharap masih ada ruang bagi diplomasi sebelum situasi benar-benar lepas kendali.  Karena jika perang terbuka benar-benar terjadi, dampaknya bisa jauh lebih luas dari yang bisa dibayangkan.

(Serambinews.com/Gina Zahrina)

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved