Jumat, 10 April 2026

Jurnalisme Warga

Secangkir Kupi Khop dan Pesona Samudra Hindia dari Puncak Geurutee

Perjalanan darat dari Kabupaten Aceh Timur ke Meulaboh, ibu kota Aceh Barat, memang tidak pendek. Lebih dari 12 jam kami harus menempuh jalur lintas b

|
Editor: mufti
IST
FAISAL, S.T., M.Pd., Kepala SMKN 1 Julok, Ketua IGI Daerah Aceh Timur, dan alumnus UIN Sultanah Nahrasiyah, melaporkan dari Aceh Jaya 

FAISAL, S.T., M.Pd., Kepala SMKN 1 Julok, Ketua IGI Daerah Aceh Timur, dan alumnus UIN Sultanah Nahrasiyah, melaporkan dari Aceh Jaya

PERJALANAN darat dari Kabupaten Aceh Timur ke Meulaboh, ibu kota Aceh Barat, memang tidak pendek. Lebih dari 12 jam kami harus menempuh jalur lintas barat-selatan Aceh yang meliuk-liuk, membelah gunung, dan pesisir, demi mengikuti ajang tahunan Lomba Kompetensi Siswa (LKS) ke-33 Tingkat Provinsi Aceh.

Letih itu terbayar lunas saat rombongan dari Cabang Dinas Pendidikan Wilayah Kabupaten Aceh Timur sampai di titik persinggahan favorit para pelintas, yakni Puncak Geurutee.  Berhenti di Puncak Geurutee rasanya bukan sekadar transit. Ia sudah menjadi semacam “ritual wajib” yang tidak tertulis bagi siapa pun yang menempuh perjalanan panjang di jalur barat.

Angin gunung yang menggigit lembut, panorama laut lepas berwarna biru tua yang menyapu cakrawala, serta deretan warung kayu berdiri anggun di tebing curam seolah menjadi pelipur lelah paling paripurna.

Kami turun dari kendaraan masing-masing dengan riuh rendah. Sebagian langsung mencari tempat duduk di kafe yang paling pojok, yang spotnya konon paling 'instagramable'. Sebagian lain memesan mi goreng Geurutee dan kelapa muda, dan tentu saja, tidak ketinggalan kopi khas daerah ini: kupi khop’ (kopi terbalik).

Kupi khop

Baru saja kami menikmati semilir angin, sebuah momen kecil, tapi lucu, terjadi. Salah seorang dari kami, sebut saja F, duduk manis di depan segelas ‘kupi khop’ yang baru saja disajikan. Gelas kaca itu terbalik, ditutupi piring kecil. Satu sedotan diselipkan di bawah bibir gelas. F terpaku beberapa detik, lalu dengan polosnya bertanya kepada pemilik warung, “Meu’ah Kak, nyoe kiban cara ta jep? (Maaf Kak. ini... bagaimana cara minumnya ya)?”

Kak Cut, pemilik warung, tersenyum sambil menahan tawa. “Nyan ‘kupi khop’ Pak (Itu kopi terbalik, Pak).”

“Cara minumnya diembus dulu, kemudian disedot pelan dari bawah.”

“Gelasnya jangan dibalik ya, nanti banjir kopi,” katanya sambil terkekeh. Sontak tawa pun pecah di meja kami.

Tak lama kemudian, salah satu anggota rombongan lain yang duduk di bangku atas dekat jendela warung, berinisial SA, nyelutuk dalam bahasa Aceh, “Meunyoe lage nyoe hek bak tajep! Seulama teuingat han kujep lee ‘kupi khop’  (Kalau seperti ini, capek minumnya! Selama teringat takkan kuminum lagi ‘kopi khop’),” ucapnya lantang, disambut gelak tawa pengunjung warung.

“Hana buet mita buet! Cok peulaken cilet bak prut (Tak ada kerja, cari kerja. Ambil belangkin oleskan ke perut),” sambung saya, sambil memegangi perut karena terlalu banyak tertawa. 

Momen sederhana itu menghadirkan hangatnya suasana kebersamaan, yang mungkin tidak akan kami dapati di tempat lain.

Puncak Geurutee

Secara administratif, Puncak Geurutee terletak di Lamno, Kecamatan Jaya, Kabupaten Aceh Jaya. Dari Banda Aceh, perjalanan ke tempat ini hanya memakan waktu sekitar dua jam dengan jarak tempuh lebih kurang 67 km.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved