Sabtu, 16 Mei 2026

Mengenal Druze, Suku Arab yang Dilindungi Israel di Suriah

Suku Druze sendiri merupakan salah satu kelompok etnoreligius yang hidup di Timur Tengah, terutama di Suriah, Lebanon, Israel, dan Yordania.

Tayang:
Editor: Faisal Zamzami
Tangkap Layar
DRUZE - Komunitas Druze di Israel memprotes UU negara Yahudi di Tel Aviv, Israel, Sabtu (4/8). 

Pada Maret, ratusan orang tewas dalam penindakan keras terhadap sekte Alawi, tempat Assad berasal, di Kota Latakia, Suriah barat.

Pada April, bentrokan antara angkatan bersenjata pro-pemerintah dan milisi Druze menewaskan sedikitnya 100 orang.

Isu utama yang menegangkan hubungan antara pemerintah baru Suriah dan Druze adalah pelucutan senjata milisi Druze dan integrasi.

Al-Sharaa, yang berusaha mengkonsolidasikan faksi-faksi bersenjata di bawah militer yang bersatu, belum berhasil mencapai kesepakatan dengan Druze, yang bersikeras mempertahankan senjata dan milisi independen mereka.

 

Kitab Suci Suku Druze

Suku ini juga memiliki kitab suci yang dinamakan sebagai Rasail al-Hikmah (Surat-surat Kebijaksanaan) yang berisi tentang doktrin agama dan etika yang ditulis oleh Hamzah bin Ali dan murid-muridnya.

Menariknya, kita ini bersifat rahasia untuk orang asing.  Hanya sekelompok kecil orang yang disebut uqqal (orang berakal) yang merupakan pemimpin rohani dan sosial suku Druze.

Mereka memiliki kepercayaan yang sinkretis, yaitu menggabungkan unsur dari berbagai agama dan filsafat, seperti Islam, Kristen, Yahudi, Zoroaster, Buddha, Hindu, dan Yunani Kuno.

Konsep Keyakinan Suku Druze

Druze meyakini konsep reinkarnasi, di mana jiwa manusia diyakini akan berpindah dari satu tubuh ke tubuh lain setelah kematian, bergantung pada perbuatan baik atau buruk yang dilakukan selama hidup.

Mereka juga mengamini konsep taqiyya, strategi menyembunyikan identitas dan keyakinan untuk melindungi diri dari potensi ancaman dan diskriminasi.

Suku Druze memiliki identitas etnik dan budaya yang kokoh, dijaga dengan tekun melalui warisan tradisi turun-temurun.

Wilayah tempat tinggal mereka sering kali berada di pegunungan yang sulit dijangkau, memberikan perlindungan dan otonomi yang mereka perlukan.

Bahasa mereka sendiri adalah dialek Arab yang khas, dipengaruhi oleh berbagai bahasa lain.

Halaman 3/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved