Rabu, 20 Mei 2026

Kupi Beungoh

Aceh, Pusat Tamaddun Islam Asia Tenggara

Bandara SIM, yang kini menjadi salah satu tersibuk di Asia Tenggara, mengalami transformasi

Tayang: | Diperbarui:
Editor: Ansari Hasyim
IST
Nurdin Hasan, Jurnalis di Banda Aceh 

Oleh : Nurdin Hasan, Jurnalis Freelance
 
JUMAT cerah menyelimuti Banda Aceh. Semilir sepoi angin menyapa warga beraktifitas. Hari itu, 4 Muharram 1462 atau 19 Februari 2040, dicatat sebagai sejarah gemilang Serambi Mekkah.
 
Pukul 10.45 pagi, sebuah pemandangan megah tersaji di langit. Pesawat super canggih jumbo jet Boeing 757-500 mendarat mulus di Bandara Internasional Sultan Iskandar Muda (SIM) Blang Bintang. Dari dalamnya, muncul sosok yang dinanti, Imam Besar Masjidil Haram dan beberapa syeikh Arab Saudi. 
 
Bandara SIM, yang kini menjadi salah satu tersibuk di Asia Tenggara, mengalami transformasi luar biasa. Dengan tiga landasan pacu yang membentang di bekas areal persawahan, bandara terbesar di Sumatra ini sejak lima tahun terakhir telah menjadi gerbang utama bagi pesawat-pesawat berbadan lebar. Ini menandakan kebangkitan Aceh sebagai poros regional.

Baca juga: Wagub Fadhlullah Bahas Rencana Investasi  dan Pusat Tamaddun Aceh dengan Dubes UEA

Kedatangan Syeikh Makkah bukan tanpa alasan. Dia akan menjadi pembicara utama seminar internasional tentang tantangan Islam di masa depan dan sekaligus menyaksikan peresmian "Pusat Tamaddun Islam Asia Tenggara" di kawasan Syiah Kuala, Banda Aceh.
 
Bangunan berlantai lima dengan arsitektur modern yang memadukan sentuhan Rumoh Aceh, berdiri megah di lahan seluas 10 hektar. Proyek monumental ini dibiayai dari hibah sejumlah negara Islam, menjadi simbol kuatnya persaudaraan Muslim.
 
Sebelum sang syeikh tiba, para ulama berpengaruh negara-negara sahabat lebih dulu hadir. Ini bentuk dukungan penuh negara-negara Islam, dan sekaligus menjadikan perhelatan itu sebagai muzakarah ulama dunia paling signifikan dalam dekade terakhir. 
 
Rombongan Imam Besar Masjidil Haram segera menuju pusat kota Banda Aceh. Sebelumnya, di ruang kedatangan bandara, mereka disambut hangat dengan Tarian Ranub Lampuan, sebagai wujud ”peumulia jamee” masyarakat Aceh.
 
Di pusat kota, warga berbondong ke Masjid Raya Baiturrahman. Begitu juga masjid-masjid lain seantero Aceh juga didatangi kaum pria, untuk menunaikan salat Jumat. Padahal, waktunya masih 1 jam lagi.
 
Fenomena ini bukanlah hal baru di Aceh. Sejak lima tahun terakhir, seluruh pria di Aceh secara disiplin menghentikan aktivitas mereka 30 menit sebelum waktu salat tiba. 
 
Jalanan sepi. Masjid-masjid di seluruh Aceh dipenuhi kaum lelaki. Khusus hari Jumat, satu jam sebelum pelaksanaan salat, warga berbondong-bondong menuju masjid.
 
Keseharian begini merupakan buah dari "peuneutoh" Paduka Yang Mulia Wali Nanggroe, yang menyerukan agar kaum pria untuk menunaikan salat lima waktu secara berjamaah di masjid. 
 
Awalnya, penerapan kebijakan ini tentu menimbulkan pro dan kontra. Tapi, berkat sosialisasi simpatik dari polisi Wilayatul Hisbah, dukungan para santri, ulama, dan pemerintah, salat lima waktu berjamaah kini telah menjadi kebutuhan warga Aceh. 
 
Perubahan ini juga membawa dampak positif yang luas dalam tatanan sosial dan pemerintahan di Aceh. Perekonomian Aceh maju pesat. Masyarakat hidup dalam kecukupan. Penduduk miskin bagaikan mencari jarum di tumpukan jerami.
 
Lompatan itu tak terlepas dari keputusan pemerintah membuat aturan agar semua perusahaan tambang, terutama emas, di Aceh membagikan 50 persen keuntungan untuk rakyat. Keputusan dituangkan dalam qanun yang disahkan, tujuh tahun silam. 
 
Praktik kolusi, korupsi dan nepotisme telah lenyap. Tak ada pejabat pemerintah yang meminta fee proyek. Malah, anggota dewan menolak dana pokir. Mereka teguh memegang amanah dan memilih hidup zuhud. Ini menegaskan tingginya komitmen Aceh pada tata kelola pemerintahan yang jujur, bersih dan transparan.
 
Syarat mampu mengaji bagi calon anggota dewan dan pejabat pemerintah telah dihapus. Rata-rata mereka yang duduk di gedung parlemen telah menghafal minimal 10 juz Al-Qur’an. Ini jelas sangat kontras dengan 15 tahun silam, dimana banyak calon yang mengaji seperti ”kameng jak ateuh batee licen.” 
 
 Kehangatan silaturahmi
 
Sekitar pukul 12.15 WIB, rombongan Syeikh Makkah tiba ke Masjid Raya Baiturrahman, untuk menunaikan salat Jumat. Area yang telah diperluas hingga ke Krueng Daroy dan Sungai Aceh, menawarkan pemandangan makin memesona. Tidak ada lagi deretan toko dan gedung.
 
Keagungan arsitektur bersejarah kian terpancar di tengah hamparan halaman luas yang tertata apik. Kawasan yang dulu asrama tentara telah menjadi taman hijau yang luas dan lokasi parkir. 
 
Suasana dalam dan sekitar masjid sudah dipenuhi jamaah. Beberapa ulama berpengaruh dunia sudah terlebih dulu berada dalam masjid. Mereka berbaur dengan warga Aceh yang memadati masjid, meskipun waktu salat Jumat masih sekitar 30 menit lagi. 
 
Lantunan ayat suci Al-Qur'an dari qari terdengar syahdu, meresapi setiap sudut kota. Jamaah larut dalam zikir, sambil menanti tibanya pelaksanaan salat Jumat. Aroma dupa dan wewangian menambah kekhusyukan, menciptakan atmosfer spiritual mendalam.
 
Usai salat, gemuruh doa menggema. Secara tak terduga, Syeikh Masjidil Haram dan para ulama dunia turun ke halaman masjid. Mereka larut dalam kehangatan, bersilaturahmi dengan rakyat Aceh yang antusias. 
 
Senyum ramah terpancar dari wajah para pemimpin umat dan ulama dunia, berbaur dengan warga yang ingin bersalaman atau mengabadikan foto bersama. Momen ini memperlihatkan eratnya tali persaudaraan antara ulama dan rakyat, serta semangat kebersamaan yang menjadi ciri khas Aceh.
 
 Pusat Tamaddun 
 
Usai momen silaturahmi yang penuh makna, rombongan beranjak ke lokasi acara pembukaan seminar internasional dan peresmian Pusat Tamaddun Islam Asia Tenggara di kawasan Syiah Kuala. Bekas hutan bakau telah disulap. 
 
Diiringi deburan ombak Selat Malaka, bangunan lima lantai menjulang. Maha karya arsitektur modern memukau, dengan tetap mendekap erat warisan budaya Aceh. 
 
Fasadnya didominasi perpaduan material kaca dan beton berwarna terang, memantul cahaya matahari tropis. Detil-detil rumit mengingatkan pada Rumoh Aceh tradisional sangat terasa. Ukiran-ukiran geometris Islami menghiasi dinding dan motif atap limas, dimodifikasi secara modern.
 
Di sekeliling bangunan, area seluas 10 hektar ini adalah perpaduan lanskap hijau menyejukkan.
Makam ulama besar Kerajaan Aceh, Syekh Abdurrauf As-Singkili berada dalam komplek Pusat Tamaddum Islam. 
 
Taman-taman tertata rapi dengan pepohonan tropis. Kolam air mancur menciptakan suasana tenang, penuh inspiratif. Jalur pejalan kaki yang luas menghubung berbagai fasilitas di kompleks Pusat Tamaddun.
 
Pintu masuk utama menghadap ke arah kiblat, dirancang dengan lengkungan besar dan kaligrafi Arab yang elegan, menyambut setiap pengunjung. Aula utama yang luas dan terang benderang dengan atrium tinggi, memamerkan keindahan arsitektur interior. 
 
Ruangan-ruangan di setiap lantai dipenuhi fasilitas modern – seperti perpustakaan digital interaktif, ruang seminar berteknologi tinggi, museum peradaban Islam dengan artefak digital dan fisik, serta pusat penelitian yang canggih.
 
Dari ketinggian, Pusat Tamaddun tampak seperti permata di Kota Banda Aceh, sebuah simpul yang menghubungkan masa lalu, sekarang, dan masa depan peradaban Islam di Asia Tenggara. 
 
Cahayanya terpancar, tak hanya bangunan fisik, tapi juga sebagai simbol ilmu pengetahuan, spiritualitas, dan kebudayaan Islam yang dinamis dan maju. Ini tempat tradisi bertemu inovasi, dan di mana generasi masa depan ditempa untuk menjadi pemimpin peradaban Islam global.
 
Muzakarah tiga hari menandai tonggak sejarah baru bagi Aceh, meneguhkan posisinya sebagai pusat peradaban Islam yang disegani di Asia Tenggara. Selain itu, Aceh juga turut berkontribusi dalam perkembangan kemajuan Islam.
 
Aceh 2040 bukan lagi sekadar nama di peta, melainkan sebuah realitas yang hidup dan bernafas dengan nilai-nilai Islami. Aceh telah menjadi mercusuar peradaban yang memancarkan cahaya ke seluruh dunia.(*)

 

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved