Jumat, 17 April 2026

Katherine Shakdam Bantah Berhubungan Seks dengan Para Petinggi Iran

Ia membantah semua tuduhan yang menyebutnya telah melakukan hubungan seksual dengan 120 pejabat tinggi Iran.

Editor: Yocerizal
X
BANTAH TUDUHAN - Catherine Perez-Shakdam membantah telah melakukan hubungan seksual dengan para pejabat tinggi Iran, Ia juga membantah tuduhan yang menyebutnya agen Mossad, mata-mata Israel. 

Ia bahkan berhasil mewawancarai Presiden Ebrahim Raisi dan menghadiri konferensi-konferensi pro-Palestina.

Namun di balik itu, ia diduga kuat sebagai agen intelijen Mossad. 

Baca juga: Satria Kumbara Ingin Pulang, Minta Maaf dan Mohon Pertolongan Prabowo

Baca juga: Demi Gajah, Prabowo Tambah Hibah Lahan di Aceh jadi 90.000 Hektare

Di bawah kedok jurnalis, ia membangun hubungan erat dengan para istri pejabat, personel militer, dan tokoh agama.

Informasi yang diperoleh disinyalir bocor ke Israel dan membantu operasi terhadap fasilitas nuklir dan tokoh IRGC Iran antara 2022–2024.

News 18 sebelumnya melaporkan bahwa Perez-Shakdam masuk ke Iran dua tahun lalu sebagai mata-mata rahasia.

"Dia dilaporkan menyusup ke dalam urusan internal negara itu, memainkan peran kunci dalam keberhasilan operasi Israel," demikian laporan News 18.

Ia juga dituduh yang membocorkan sejumlah rahasia penting Iran termasuk keberadaan para jenderal militer dan pejabat top Teheran yang kemudian terbunuh dalam serangan Israel.

Namun dugaan itu juga dibantah oleh Kantor Berita Asia Barat (WANA) milik pemerintah.

Kantor berita tersebut mengatakan tidak ada tanda-tanda spionase yang ditemukan dalam kasus Shakdam.

"Lembaga keamanan dan peradilan Iran telah dengan jelas menyatakan bahwa tidak ada dokumen atau laporan yang menunjukkan perilaku tidak bermoral, komunikasi mencurigakan, atau tindakan ilegal yang dilakukan oleh Shakdam selama berada di Iran," laporan WANA.

Baca juga: Gedung Pasar Aceh Lama Akan Dirobohkan, Sejumlah Pedagang di Relokasi

Baca juga: Wali Nanggroe Aceh, Perlu Tim Adhoc Awasi Dana Otsus Aceh

Kehidupan Ganda

Shakdam sekarang bekerja sebagai analis politik dan juru bicara untuk organisasi pro-Israel yang disebut 'We Believe in Israel'.

Ia pertama kali menarik perhatian otoritas Republik Islam ketika ia menerbitkan sebuah artikel di surat kabar berbahasa Inggris 'Yemen Observer'; yang mengkritik intervensi AS di Irak.

Shakdam pindah ke negara itu pada tahun 2009 setelah menikah dengan seorang pria Yaman. Pasangan itu kemudian berpisah dan memiliki dua anak.

Tulisan-tulisan dan pandangan publik Shakdam akhirnya membawanya diundang untuk tampil di radio dan televisi pemerintah Iran sebagai suara Barat yang kritis terhadap kebijakan luar negeri Barat, khususnya Amerika Serikat. 

Undangan-undangan ini membuka pintu bagi Shakdam ke lingkaran dalam kekuasaan di Iran.

Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved