Kupi Beungoh

Hari Anak Nasional: Selamatkan Anak dari Kecanduan Gadget!

Solusi atas kecanduan gadget tidak bisa diserahkan kepada satu pihak. Semua pihak harus bergerak. Orang tua harus introspeksi...

Editor: Eddy Fitriadi
For Serambinews.com
Maysarah, Alumnus Pascasarjana UIN Ar-Raniry Banda Aceh Prodi Pendidikan Bahasa Arab. 

Oleh: Maysarah, Alumnus Pascasarjana UIN Ar-Raniry Banda Aceh Prodi Pendidikan Bahasa Arab 

MOMENTUM hari anak Indonesia setiap tahun rutin memperingati Hari Anak Nasional dengan beragam slogan semangat tentang masa depan anak. Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA) merayakan serentak di seluruh daerah di Indonesia, yang didukung oleh Kementerian/Lembaga yang sebelumnya lagi dipusatkan di satu kota. 

Narasi kunci yang akan digaungkan secara nasional pada HAN 2025 antara lain: Anak Hebat, Indonesia Kuat, Anak Cerdas Digital, Pendidikan Inklusif untuk Semua, Stop Perkawinan Anak dan Anak Terlindungi Menuju Indonesia Emas 2045. Staf Ahli Menteri Komunikasi dan Digital, Molly Prabawati dalam sambutannya menyampaikan bahwa dunia digital membawa peluang sekaligus tantangan besar bagi anak-anak.

Menurut data UNICEF menunjukkan setiap setengah detik satu anak di dunia mengakses internet untuk pertama kalinya. Di Indonesia, dari 221 juta pengguna internet, lebih dari 9 persen adalah anak usia di bawah 12 tahun. Situasi ini menempatkan anak-anak pada risiko tinggi terhadap konten berbahaya, penipuan digital, hingga eksploitasi daring dengan menggunakan gadget atau gawai. 

Namun, di balik perayaan yang semarak itu, ada keresahan dari banyak pihak termasuk penulis sendiri. Penulis mengamati yang terjadi di sekitar. Mulai dari di kampung maupun di kota, semua orang menggunakan gadget dengan tanpa ada edukasi atau pembatasan termasuk anak-anak.

Orang dewasa saja yang notabenya sudah bisa memfilter baik dan buruknya sesuatu, masih juga rentan pada kelalaian dan permasalahan di gadget, seperti permasalahn di medsos atau bahkan grup WhatsApp dan lain sebagainya, lalu bagaimana dengan anak- anak yang belum bisa memfilter dan kemudian  terserang kecanduan gedget? 

Di setiap tongkrongan yang tersedia wifi dimanapun, pasti ikut diramaikan oleh anak-anak.  Sepulang sekolah mereka langsung berkumpul bukan untuk bermain seperti layaknya permainan anak-anak masa dulu, seperti main bola, kelereng atau robot robotan. Tapi mereka lebih asyik menatap layar gadget mereka untuk bermain games atau media sosial atau menonton video pendek di youtube atau tiktok.

Fenomena lainnya sering dijumpai balita yang menangis bisa didiamkan dengan gadget dengan menampilkan tontonan video yang membuat anak terhibur sebagai alternatif. 

Penulis tidak menafikan kecanggihan dan kebutuhan pada gadget namun tujuan tulisan ini sebagai edukasi untuk penulis sendiri khususnya dan masyarakat luas umumnya. Karena banyak sekali dampak yang ditimbukan dari kecanduan gadget.

Salah satu kasus dampaknya seperti yang terjadi di Surabaya tahun 2024 sekitar 3.000 anak dan remaja menjalani perawatan Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Menur yang sebagian besar mereka mengalami gangguan jiwa, lantaran kecanduan gadget atau handphone.  (https://www.metrotvnews.com/read/bw6Co0g9-ribuan-anak-dirawat-di-rsj-mayoritas-gegara-kecanduan-gawai). 

Ada pertanyaan penting yang masih menjadi tantangan yang tidak boleh diabaikan: yaitu bagaimana menyelamatkan anak-anak kita dari sekian banyaknya problematika anak, yang salah satunya yaitu kecanduan gadget? Dalam diam, layar-layar kecil itu menggerus masa kecil anak-anak kita, mengubah dunia bermain menjadi dunia yang sunyi, membuat mereka akrab dengan game namun asing dengan lingkungan sosial. 

Generasi Layar, Generasi yang Terancam?
Kemajuan teknologi adalah keniscayaan. Namun, yang mengkhawatirkan adalah perubahan pola hidup anak-anak akibat masifnya penggunaan gadget. Badan Pusat Statistik (BPS) 2024 menyebut bahwa 39,71 persen anak usia dini di Indonesia telah menggunakan telepon seluler, sementara 35,57 persen lainnya sudah mengakses internet.

Apabila dirinci per kelompok usianya, maka terdapat 5,88 persen anak di bawah usia 1 tahun yang sudah menggunakan telepon genggam/gawai dan 4,33 persen anak di bawah usia tahun yang mengakses internet pada 2024. Kemudian, terdapat 37,02 persen anak usia 1-4 tahun dan 58,25 persen anak usia 5-6 tahun yang menggunakan telepon genggam, sedangkan 33,80 persen anak usia 1-4 tahun dan 51,19 persen yang berusia 5-6 tahun tercatat telah mengakses internet. Bahkan, di wilayah tertinggal, anak usia 13–14 tahun sudah kecanduan mengakses media sosial.( https://www.komdigi.go.id/berita/artikel/detail/komitmen-pemerintah-melindungi-anak-di-ruang-digital). 

Hasil Survei Nasional Kecanduan Gadget oleh Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA) tahun 2023 menunjukkan, 59,6 persen anak Indonesia mengalami gejala kecanduan gadget, seperti tantrum saat HP diambil, mengabaikan interaksi sosial, dan sulit fokus belajar.

Fenomena anak kecanduan gadget semakin mencolok pasca pandemi Covid-19. Pembelajaran daring menjadi pintu gerbang anak-anak berkenalan lebih dalam dengan gadget. Sayangnya, ketika pandemi usai, kebiasaan buruk itu terus berlanjut. Anak-anak semakin sulit dipisahkan dari layar, baik untuk bermain game, menonton video YouTube, berselancar di media sosial, hingga menonton konten-konten yang tidak sesuai usianya.

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved