Kupi Beungoh
Hari Anak Nasional: Selamatkan Anak dari Kecanduan Gadget!
Solusi atas kecanduan gadget tidak bisa diserahkan kepada satu pihak. Semua pihak harus bergerak. Orang tua harus introspeksi...
Dampak Buruk yang Terabaikan
Orangtua, guru, bahkan pemerintah perlu berperan penting dan harus menyadari terhadap bahaya kecanduan gadget. Seperti dalam buku Pendekatan Psikologi Anak oleh M Amin Syam dan Irwab Akib menjelaskan bahwa anak-anak membutuhkan perhatian dari orangtuanya, guru dan lingkungan.
Banyak penelitian telah mengungkapkan dampak seriusnya terhadap tumbuh kembang anak. Anak-anak yang kecanduan gadget cenderung mengalami penurunan konsentrasi, sulit fokus belajar, prestasi sekolah menurun, bahkan berisiko mengalami gangguan kesehatan mental seperti depresi dan kecemasan.
Menurut Ahmad Sudi Pratikno dan Sumantri dalam jurnal penelitiannya yang bertajuk “Digital Parenting: Bagaimana Mencegah Kecanduan Gadget Pada Anak” dijelaskan bahwa dari dampak yang tersebut di atas diperlukan adanya (parenting) pada orangtua guru dan lingkungan di sekitar anak.
Tak hanya itu, interaksi sosial anak pun menjadi sangat minim. Di lingkungan perumahan, pemandangan anak-anak bermain kian langkaDalam jangka panjang, hal ini dapat menciptakan generasi yang individualis, sulit bersosialisasi, bahkan tak peka terhadap lingkungan sekitarnya.
Dari sisi kesehatan fisik, kecanduan gadget juga mengancam postur tubuh anak. Banyak anak mengalami keluhan mata minus sejak dini, gangguan tulang belakang, obesitas akibat kurang gerak, serta gangguan tidur karena paparan layar sebelum tidur.
Penggunaan gadget pada anak menjadi perhatian karena dapat memicu kecanduan dan berdampak negatif pada perkembangan fisik, mental, dan sosial mereka. Anak-anak yang kecanduan gadget cenderung mengalami masalah dalam konsentrasi, perkembangan bahasa, dan keterampilan motorik.
Frekuensi penggunaan gadget yang lebih tinggi dikaitkan dengan penurunan kecerdasan verbal dan peningkatan volume otak yang lebih kecil setelah beberapa tahun yang berpengaruh pada pemrosesan bahasa, perhatian, memori, fungsi eksekutif, fungsi emosional dan penghargaan.(https://kanal.psikologi.ugm.ac.id/anak-kecanduan-gadgetmengapa-dan-bagaimana-mengatasinya/).
Di Mana Peran Orang Tua?
Sering kali anak bukan kecanduan gadget, tapi anak kecanduan perhatian yang tidak ia dapatkan dari orangtuanya. Akhirnya gadget menjadi pelarian. Anak menangis, diberi HP; anak rewel, ditenangkan dengan video YouTube. Tanpa disadari, orangtua telah menanamkan kebiasaan kurang baik sejak dini.
Menurut survey KPAI, masih ada sebanyak 79 % , masih banyak orang tua yang tidak menerapkan peraturan penggunaan gadget kepada anak. Padahal, orang tua perlu konsisten dalam menerapkan batasan waktu dan memberikan contoh dengan mengurangi penggunaan gadget di hadapan anak. (https://kanal.psikologi.ugm.ac.id/anak-kecanduan-gadget-mengapa-dan-bagaimana-mengatasinya/)
Maka, sangat penting bagi orang tua mulai membatasi screen time anak sesuai rekomendasi WHO, yakni maksimal 1 jam per hari untuk anak usia 2-5 tahun, dan maksimal 2 jam per hari untuk usia 6-12 tahun. Lebih dari itu harus diimbangi aktivitas fisik dan interaksi sosial. Orang tua perlu mengikuti koridor agar tumbuh kembang tidak terganggu. Anak usia 1,5 tahun, misalnya, harus dijauhkan dari gawai.(https://www.tempo.co/gaya-hidup/aturan-menggunakan-gawai-untuk-anak-ini-saran-psikolog-725402).
Peran keluarga sangat krusial dalam membentuk perilaku anak. Membatasi waktu penggunaan gadget, mengajak anak bermain aktif, memberikan alternatif kegiatan kreatif, hingga menjadi contoh dalam penggunaan gadget yang sehat adalah tanggung jawab utama orangtua.
Sekolah bertanggung jawab
Tidak hanya keluarga, institusi sekolah juga memiliki peran penting. Di sisi lain, sekolah juga bisa mengambil bagian dalam edukasi digital. Anak-anak perlu diberikan literasi digital sejak dini, agar mampu memilah mana konten positif dan mana yang merusak. Pendidikan karakter perlu diperkuat, agar anak tidak hanya pintar dalam akademik, tetapi juga cerdas dalam mengendalikan diri di era digital.
Sekolah harus mulai mengintegrasikan pendidikan literasi digital, membekali anak kemampuan memilah konten positif, serta mengembalikan budaya bermain, berolahraga, dan kegiatan kreatif. Psikolog anak Seto Mulyadi atau Kak Seto bahkan menyampaikan bahwa era dunia digital sekarang ini ibarat pisau bermata dua, ada sisi positif yang bisa didapatkan anak-anak. Sebaliknya dari sisi negatifnya, terdapat ancaman child grooming, cyber bullying, pornografi, radikalisme, kekerasan dan hoaks. (https://ugm.ac.id/id/berita/kak-seto-bagi-tips-mendidik-anak-di-era-digital/).
Program seperti outdoor learning, ekstrakurikuler seni dan olahraga, serta edukasi keamanan digital harus menjadi arus utama pendidikan masa kini. Sekolah juga bisa menghidupkan kembali budaya bermain tradisional, menggalakkan aktivitas olahraga, serta menumbuhkan interaksi sosial antar murid. Anak perlu kembali merasakan bahwa dunia nyata jauh lebih seru daripada dunia maya.
Negara Harus Turun Tangan
Di Indonesia, regulasi terhadap penggunaan gadget anak masih lemah. Negara seharusnya berani menerapkan pembatasan usia penggunaan aplikasi, pengawasan konten yang lebih ketat, serta edukasi nasional mengenai bahaya kecanduan gadget.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/MaysarahAlumnus-Pascasarjana-UIN-Ar-Raniry-Banda-Aceh.jpg)