Kamis, 23 April 2026

Pojok Humam Hamid

Proposal Trump, Otoritas Teknokratis, dan Prospek Damai Palestina

Ini bukanlah langkah pertama yang diambil oleh kelompok-kelompok Palestina untuk mencari solusi terhadap masalah mereka. 

Editor: Zaenal
SERAMBINEWS.COM/HANDOVER
DIASPORA GLOBAL ACEH - Sosiolog Prof. Dr. Ahmad Humam Hamid, MA, menjadi pembicara pada acara diskusi yang digelar oleh Diaspora Global Aceh di Hotel Ambhara, Jakarta, Rabu (20/8/2025). 

Oleh Ahmad Humam Hamid*)

KONFLIK Palestina-Israel telah berlangsung selama beberapa dekade, menghasilkan ketegangan, kekerasan, dan penderitaan bagi jutaan manusia. 

Berbagai upaya perdamaian, dari negosiasi Oslo, 1993, hingga inisiatif-inisiatif internasional lainnya, telah muncul dengan harapan mengakhiri konflik ini. 

Namun, sebagian besar dari upaya tersebut mengalami kegagalan karena berbagai alasan, termasuk ketidakpercayaan, ketidaksepakatan prinsipil, serta ketegangan internal baik di pihak Palestina maupun Israel. 

Proposal perdamaian terbaru dari Presiden Amerika Serikat, Donald Trump dua hari yang lalu, yang mengusulkan penghentian perang, pertukaran tawanan, dan bantuan kemanusiaan untuk Gaza, menjadi titik tolak yang menarik untuk dibahas lebih dalam. 

Dalam konteks ini, pembentukan otoritas teknokratis di Gaza menjadi salah satu aspek penting yang dapat membawa harapan baru bagi perdamaian di kawasan ini.

Usulan Trump untuk menghentikan perang dan memberikan akses kemanusiaan serta pertukaran tawanan mendapat respons dari berbagai pihak, termasuk Hamas. 

Hamas, sebagai salah satu aktor utama dalam konflik ini, menunjukkan kesiapan untuk ikut aktif dalam proses perdamaian. 

Dalam pernyataannya, Hamas menyatakan komitmennya untuk menghentikan agresi yang sedang berlangsung di Gaza.

Komitmen itu tentu saja dengan catatan bahwa kondisi di lapangan harus mendukung pelaksanaan perdamaian. 

Hamas menggarisbawahi bahwa mereka akan terlibat dalam proses ini, asalkan ada jaminan bagi hak-hak rakyat Palestina dan penghormatan terhadap prinsip-prinsip internasional.

Salah satu elemen penting dalam respons Hamas adalah kesiapan mereka untuk menyerahkan pengelolaan Gaza kepada otoritas teknokratis yang lebih independen dan berbasis pada kesepakatan nasional Palestina. 

Ini adalah langkah penting karena selama ini Gaza dikelola oleh Hamas, yang sering terjebak dalam rivalitas politik dengan teman sejawatya, Al Fatah dan kesulitan mendapatkan pengakuan internasional. 

Dengan mengusulkan badan teknokratis yang netral dan efisien, Hamas berharap dapat memperbaiki citra mereka di mata dunia internasional dan menciptakan stabilitas yang lebih baik di wilayah yang sangat tertekan ini.

Namun, ini bukanlah langkah pertama yang diambil oleh kelompok-kelompok Palestina untuk mencari solusi terhadap masalah mereka. 

Baca juga: Pep Guardiola Bela Palestina: Kita Sedang Menyaksikan Genosida di Gaza

Jalan Menuju Perdamaian

Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved