Minggu, 26 April 2026

Opini

Dua Dekade Helsinki, Tiga Kado dari Aceh untuk Indonesia

Sejak saat itu peluru berhenti berbicara. Jalan-jalan yang pernah sunyi oleh curiga kembali diisi obrolan sepele yang

Editor: Ansari Hasyim
SERAMBINEWS/FOR SERAMBINEWS.COM
Ari Palawi, akademisi USK. 

Oleh: Ari Palawi*)

Kado Pertama. Kebenaran yang Berani Diucapkan

PAGI di Banda Aceh sering dimulai oleh suara yang akrab. Riuh pasar, aroma kopi, langkah-langkah kecil anak sekolah. Di sela-sela itu ada ingatan yang tak pernah jauh. Lima belas Agustus selalu datang membawa rasa. Di sebuah kota yang jauh dari pesisir ini, dulu orang-orang duduk menghadapi satu sama lain, lalu menyepakati jalan pulang.

Sejak saat itu peluru berhenti berbicara. Jalan-jalan yang pernah sunyi oleh curiga kembali diisi obrolan sepele yang menenangkan.
Dua dekade berlalu. Kita patut mengakui buah yang sudah ada. Pemilu lokal berjalan. Banyak mantan kombatan menjadi warga yang sibuk bekerja, sebagian menjadi pelayan publik. Anak-anak tumbuh tanpa suara tembak. Rakyat bisa menegakkan punggung di sawah, di bengkel, di kelas.

Ini bukan hal kecil. Ini buah doa banyak orang, air mata keluarga, juga kebesaran hati dari semua pihak. Tidak ada yang remeh dari itu.
Namun kebenaran yang berani diucapkan juga menuntut kita melihat yang belum. Sebagian janji masih menggantung di langit yang sama. Simbol-simbol yang seharusnya menjadi ruang bersama masih terasa seperti pintu yang setengah tertutup.

Pembagian manfaat dari sumber daya belum terasa merata di kampung-kampung yang jaraknya hanya sepelemparan batu dari pabrik atau dari laut. Keadilan bagi keluarga yang kehilangan masih cenderung menjadi tema seminar, belum menjadi kenyataan yang menyentuh dapur mereka. Di sela pencapaian, tumbuh rasa getir. Seakan manfaat perdamaian lebih banyak singgah di meja segelintir orang dibanding singgah di piring warga biasa.

Kado pertama yang kita persembahkan untuk Indonesia adalah keberanian menatap cermin. Kita ingin cermin yang jujur. Bukan untuk mencari salah, tetapi untuk menyusun ulang cara berjalan. Kebenaran membuat kita ringan melangkah. Ia menghapus kabut. Dengan kebenaran, kita bisa mengatakan bahwa perdamaian sudah menghentikan perang, tetapi belum selesai menata hidup. Kita bisa mengakui bahwa sebagian kebijakan memang bekerja, sebagian masih menunggu nyala. Kita bisa menulis catatan yang rapih tentang apa yang sudah, apa yang belum, dan siapa yang bertanggung jawab menuntaskannya.

Kebenaran yang jujur juga mengubah cara kita berbicara tentang pihak. Dulu kita berdiri berhadapan. Kini kita berdiri bersebelahan menghadap masa depan yang sama. Di titik ini, kalimat paling sulit justru yang paling sederhana. Terima kasih. Maafkan. Mari lanjut. Kalimat-kalimat itu adalah engsel yang membuat pintu perdamaian terus bisa dibuka dan ditutup dengan tenang.

Kado Kedua. Keadilan yang Menyentuh Tubuh dan Hati

Di banyak rumah, ingatan masih tinggal seperti lukisan yang tak pernah selesai. Sebuah kursi kosong di ruang tamu. Seragam sekolah yang dulu tak sempat disetrika. Sebuah cincin yang disimpan diam-diam di laci. Keadilan yang layak tidak hanya berbentuk pasal dan nomor aturan.

Ia juga berbentuk kursi yang kembali terisi, meski tidak oleh orang yang sama, melainkan oleh rasa aman dan pengakuan.
Kado kedua adalah cara kita memulihkan luka, bukan menutupinya. Kita membutuhkan pengakuan yang jelas kepada korban, bukan sekadar belasungkawa. Pengakuan ini bisa hadir dalam bentuk yang dapat disentuh dan dipakai. Beasiswa bagi anak-anak yang orang tuanya hilang dan tak kembali. Pelayanan kesehatan jiwa yang ramah di puskesmas, bukan hanya di kota besar.

Program pekerjaan yang didesain untuk keluarga yang menjadi tulang punggung tunggal. Skema pendampingan hukum yang mengantar mereka memahami dokumen, menggugat hak, dan menerima kabar tanpa menunggu bertahun-tahun.
Keadilan juga membutuhkan ruang untuk berkisah. Kita bisa membangun rumah ingatan yang tidak dingin. Bukan museum yang jauh dan kaku, melainkan ruang terbuka yang ditenun oleh sekolah, meunasah, komunitas seni, dan kampus.

Di sana, generasi muda bisa duduk bersama para saksi. Mereka mendengar, bertanya, dan menuliskan ulang pengalaman menjadi pelajaran. Seni tradisi bisa memeluk cerita ini agar tidak tercecer. Rapa’i dan hikayat bukan sekadar pertunjukan. Ia menjadi cara bertutur yang mengikat empati.
Di sisi lain, keadilan menuntut keterbukaan. Arsip yang relevan harus dibuka seterang mungkin.

Proses hukum, jika ada, berjalan dengan bahasa yang dimengerti warga biasa. Bukan perkara dendam. Ini perkara kepercayaan bahwa negara dan masyarakat bisa menuntaskan sesuatu tanpa mengulang luka. Saat arsip dibuka dan proses dijalankan, kita mengirim pesan sederhana. Kita berani jujur sekaligus berani merawat yang tersisa.

Keadilan yang menyentuh tubuh dan hati memerlukan ketekunan. Tidak ada sihir yang bisa menyelesaikannya dalam semalam. Tetapi kita bisa memulai dari langkah yang tidak rumit. Mengirim petugas yang ramah ke rumah-rumah korban. Menjaga agar setiap upacara peringatan tidak jatuh pada seremoni, melainkan pada tindakan lanjutan.

Memastikan bahwa pengalihan dana untuk program pemulihan tidak bocor di jalan. Dengan cara begitu, kata keadilan tidak hanya terdengar baik, tetapi juga terasa sampai ke meja makan.

Kado Ketiga. Kesejahteraan yang Bisa Dihitung dan Dirasakan

Kita sering terjebak pada dua kutub. Di satu sisi ada harapan yang besar. Di sisi lain ada angka yang kecil. Agar tidak habis oleh kekecewaan, kita perlu menjembatani keduanya. Kado ketiga adalah kesejahteraan yang bisa dihitung sekaligus dirasakan.

Ia bukan istilah indah, melainkan daftar kerja yang jelas. Masyarakat perlu melihat peta yang hidup, bukan rencana di lembar presentasi.
Kita bisa mulai dari tiga meja kerja yang sederhana. Meja laut, meja kebun, dan meja pasar.

Di meja laut, nelayan perlu akses bahan bakar yang wajar, pendingin yang terjangkau, dan jalur lelang yang adil. Di meja kebun, petani perlu bibit yang tahan cuaca, akses pupuk yang tidak mematahkan dompet, dan peralatan pascapanen yang bisa dipakai bersama. Di meja pasar, pelaku usaha kecil membutuhkan kepastian ruang berdagang yang bersih, biaya distribusi yang tidak menghisap, dan akses pembiayaan yang tidak menjerat.

Semua itu tidak akan terlihat jika angkanya tersembunyi. Karena itu, sudah waktunya kita menyalakan papan di balai desa yang memperlihatkan ke mana dana otonomi khusus pergi. Bukan angka total yang mengintimidasi, melainkan rincian yang bersahabat. Berapa untuk jalan tani. Berapa untuk koperasi nelayan.

Berapa untuk beasiswa. Berapa untuk layanan kesehatan jiwa. Papan sederhana seperti itu bisa mengubah rasa menjadi percaya. Ketika warga melihat namanya ada dalam daftar penerima manfaat dan bisa memantau progresnya, mereka merasa diajak ikut serta, bukan sekadar ditonton.

Kesejahteraan yang bisa dihitung juga butuh tenggat waktu yang manusiawi. Mari buat janji yang konkret. Seribu rumah nelayan yang layak dalam dua tahun. Seribu beasiswa anak keluarga korban tiap tahun. Peralatan pascapanen di seratus gampong dalam satu tahun anggaran. Mesin pendingin komunal di dua puluh pangkalan pendaratan ikan sebelum akhir musim barat. Ini bukan angka ajaib. Ini angka kerja. Jika kita gagal pada satu target, kita mengakui dan memperbaiki.

Transparansi membuat kegagalan menjadi pelajaran, bukan bahan malu. Di samping angka, ada rasa. Kesejahteraan juga berarti trotoar yang tidak bolong, air bersih yang mengalir tanpa drama, bus sekolah yang berangkat tepat waktu. Ia berarti ruang bermain yang aman agar anak bisa berlarian tanpa orang tua cemas.

Ia berarti ibu pulang dari puskesmas sambil tersenyum karena urusan beres dalam satu kunjungan. Hal-hal demikian kecil tetapi membuat hidup terasa ringan. Jika urusan kecil tertata, urusan besar lebih mudah diraih.
Kesejahteraan yang adil tidak melupakan yang di hulu. Para pekerja yang mengurusi data, administrasi, dan kebijakan perlu diberi pelatihan yang menumbuhkan kepekaan. Mereka bukan penjaga gerbang yang menolak, melainkan pemandu yang menolong orang menemukan jalannya.

Kita juga perlu merawat para pelaku budaya yang selama ini menjadi jembatan emosi. Seniman, peneliti, guru, jurnalis. Mereka adalah penjaga kata dan makna. Mereka memastikan agar angka dan kebijakan punya wajah dan suara.

Pada akhirnya, kesejahteraan yang adil akan menyalakan kebahagiaan kecil yang jujur. Tawa yang tidak dibuat-buat di warung kopi. Pujian yang singkat dari warga kepada petugas yang bekerja baik. Doa yang pelan di ruang keluarga. Kebahagiaan kecil ini menandai bahwa perdamaian sudah berubah menjadi kebiasaan. Ia tidak lagi menegangkan. Ia terasa wajar dan dekat.
 
Tiga kado ini sederhana. Kebenaran yang berani diucapkan. Keadilan yang menyentuh tubuh dan hati. Kesejahteraan yang bisa dihitung dan dirasakan. Di baliknya ada hormat yang dalam kepada semua yang pernah berhadapan dan kini memilih berjalan bersama.

Kepada para perunding yang mengalahkan amarahnya. Kepada keluarga yang memeluk kehilangan. Kepada masyarakat Aceh yang menjaga agar dendam tidak jadi kebiasaan. Kepada sahabat-sahabat di seluruh Indonesia yang mendoakan tanpa henti.
Kita memperingati dua dekade Helsinki bukan dengan mengulang slogan. Kita memperingatinya dengan mengirim tiga kado dari Aceh untuk Indonesia. Kado yang menghapus sedikit sedih, menyalakan harapan, dan menyisakan kegembiraan yang tenang.

Semoga doa yang dulu mengantar pertemuan itu terus memayungi kita sampai anak-anak yang hari ini berlari di halaman tumbuh menjadi orang dewasa yang tak lagi mengerti apa itu suara peluru. Yang mereka mengerti hanya satu hal. Indonesia yang adil terasa hangat di rumah, juga di Aceh.
 
*) PENULIS lahir dan tumbuh hingga SMA di Banda Aceh, melanjutkan bidang kompetensi seni dan kebudayaan di ISI Yogyakarta, University of Hawa’i at Manoa, dan Monash University. Email: teras.dr.ari@gmail.com

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved