Kamis, 30 April 2026

Citizen Reporter

Kisah Sungai yang Jadi Nadi Kehidupan di Kuala Lumpur

Kondisi yang sama juga terbaca pada morfologi Kota Banda Aceh dengan Krueng Aceh-nya

Tayang:
Editor: mufti
IST
Dr. SYLVIA AGUSTINA, S.T., M.U.P.,  anggota Tim Persiapan Prodi Magister Perencanaan Wilayah dan Kota Universitas Syiah Kuala (MPWK-USK), melaporkan dari Kuala Lumpur, Malaysia 

Dr. SYLVIA AGUSTINA, S.T., M.U.P.,  anggota Tim Persiapan Prodi Magister Perencanaan Wilayah dan Kota Universitas Syiah Kuala (MPWK-USK), melaporkan dari Kuala Lumpur, Malaysia

Kuala Lumpur (KL) yang menjadi nama ibu kota Malaysia dilakabkan dari toponimi lokasi pertemuan antara Sungai Gombak dan Sungai Klang yang berlumpur. Pertemuan kedua sungai ini berada dekat masjid tertua di KL, yaitu Masjid Jamek.

Kawasan sekitar masjid kini menjadi salah satu titik ikonik di KL. Posisi masjid pada titik pertemuan dua sungai merupakan bukti dinamika pertumbungan kota dan peran masjid sebagai rumah ibadah  sekaligus fasilitas publik bagi muslim di pusat kota, serta menegaskan pentingnya sungai sebagai jalur transportasi di masa lalu.

Kondisi yang sama juga terbaca pada morfologi Kota Banda Aceh dengan Krueng Aceh-nya. Seperti halnya banyak kota di negara Asia, hubungan KL dengan sungai—dulunya menjadi sumber kehidupan utama—mengalami kemunduran ketika transportasi darat mulai mendominasi. Kondisi kawasan sungai pun berubah menjadi kawasan kumuh.

Untuk mengatasi hal ini, pada tahun 2011, Pemerintah Kota Kuala Lumpur meluncurkan proyek ‘River of Life’ (Sungai Kehidupan), yaitu program revitalisasi Sungai Gombak dan Sungai Klang. Kedua sungai beserta anak sungainya tidak hanya membentuk sistem drainase utama kota, tetapi juga menjadi bagian dari sejarah, budaya, dan tantangan pengelolaan air dan banjir di Kuala Lumpur.

Tujuan utama proyek ini, menghidupkan kembali bantaran sungai sebagai ruang publik yang berkualitas sekaligus memperbaiki kualitas lingkungan dan mendukung sektor pariwisata. Proyek ini mencakup wilayah seluas 781 hektare lahan dan 63 hektare badan air, serta merevitalisasi sungai sepanjang 10,7 km (https://rolkl.jwp.gov.my/en).

‘River of Life’ merupakan inisiatif besar revitalisasi sungai yang mengintegrasikan pendekatan lingkungan, sosial, budaya, dan ekonomi. Setidaknya  ada tujuh elemen kunci dalam proyek ini.

Pertama, peningkatan kualitas air sungai dari kondisi tercemar berat menjadi air yang memungkinkan aktivitas kontak langsung seperti rekreasi air. Upaya ini dilakukan melalui pembangunan fasilitas pengolahan air limbah, sistem perangkap sampah, serta relokasi industri di sepanjang bantaran sungai;

Kedua, pengembangan kawasan tepi sungai  secara bertahap sepanjang 10,7 km, dari Titiwangsa hingga Mid Valley, dengan pembangunan jalur pedestrian, jalur sepeda, ruang terbuka hijau, dan elemen lanskap kota yang ramah pejalan kaki;

Ketiga, penguatan zona warisan budaya dan ikonik di sekitar pertemuan Sungai Klang dan Gombak, yaitu kawasan Masjid Jamek, yang dilengkapi dengan pencahayaan arsitektural malam hari (blue pool illumination) serta elemen interpretasi sejarah dan budaya.

Keempat, peningkatan aksesibilitas dan konektivitas kota dengan membangun jembatan penyeberangan, serta integrasi dengan sistem transportasi publik seperti bus, LRT dan MRT. Mesjid Jamek merupakan salah satu ‘hub’ transportasi multimoda di KL. Kawasan masjid juga terhubung sangat baik dengan Pasar Seni dan Dataran Merdeka;

Kelima, ‘River of Life’ juga fokus pada penguatan ekonomi lokal dan pariwisata, melalui pengembangan zona komersial, aktivasi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), serta penyelenggaraan kegiatan berbasis komunitas;

Kenam, partisipasi masyarakat menjadi bagian penting melalui edukasi lingkungan dan pelibatan publik untuk menumbuhkan kesadaran kolektif dalam menjaga sungai; dan

Ketujuh, proyek ini dilengkapi dengan sistem pemantauan sungai berbasis teknologi (smart monitoring) dan pendekatan manajemen terpadu lintas instansi.

Proyek ‘River of Life’ telah menunjukkan sejumlah keberhasilan penting dalam mengubah wajah sungai perkotaan menjadi kawasan lebih baik. Namun, proyek ini juga mendapat kritik dari kalangan akademisi, aktivis, dan masyarakat. Salah satu kritik utama adalah revitalisasi lebih menitikberatkan pada aspek estetika dan pariwisata, sedangkan aspek ekologi dan keberlanjutan jangka panjang belum sepenuhnya terintegrasi. Misalnya, naturalisasi bantaran sungai dan perlindungan habitat alami masih dianggap minim sehingga ekosistem air tidak sepenuhnya pulih.

Kritik lain menyasar proses relokasi komunitas informal di sepanjang sungai yang dinilai kurang partisipatif. Beberapa pihak juga menilai bahwa manfaat proyek masih berpusat di kawasan inti kota dan belum menjangkau komunitas di hulu dan hilir secara adil. Selain itu, ada kekhawatiran bahwa pemeliharaan dan keberlanjutan proyek ini akan menjadi tantangan besar di masa depan.

Meski begitu, proyek ‘River of Life’ tetap dianggap sebagai model penting revitalisasi sungai perkotaan di kawasan Asia Tenggara, yang memberikan pelajaran tentang pentingnya sinergi antara perencanaan fisik, pelibatan komunitas, dan pengelolaan lingkungan secara terpadu.

‘The River of Life’ di KL memberikan sejumlah pembelajaran penting yang relevan bagi upaya revitalisasi Sungai Krueng Aceh di Banda Aceh. Pertama, sungai harus diposisikan kembali sebagai ruang publik strategis, bukan sekadar saluran drainase, dengan penataan bertahap tepi sungai menjadi kawasan pedestrian, ruang terbuka hijau, dan zona budaya.

Kedua, peningkatan kualitas air harus menjadi prioritas melalui pengelolaan limbah dan relokasi sumber pencemar.

 Ketiga, revitalisasi perlu mengangkat nilai sejarah dan budaya lokal, seperti narasi tsunami dan warisan Islam, untuk memperkuat identitas kota.

Keempat, partisipasi masyarakat penting dalam menjaga keberlanjutan, melalui edukasi, kegiatan komunitas, dan pemberdayaan UMKM.

Kelima, diperlukan manajemen terpadu antarinstansi agar penataan sungai berjalan konsisten dan efektif. Terakhir, fungsi ekonomi sungai dapat diperkuat dengan menjadikan Krueng Aceh sebagai destinasi wisata air dan budaya yang memberdayakan ekonomi lokal.

Dengan menerapkan pembelajaran ini, Banda Aceh dapat membangun hubungan baru yang harmonis dengan sungainya sebagai sumber kehidupan dan identitas kota yang berkelanjutan.

Pembelajaran penting lain yang dapat diterapkan di Banda Aceh adalah pentingnya edukasi publik dan sistem penanda interpretatif dalam membangun hubungan antara warga dan sungai. Di Kuala Lumpur, keberhasilan proyek ini didukung oleh penyediaan ‘signage ‘informatif, mural edukatif, dan panel interpretatif di sepanjang koridor sungai, yang menjelaskan sejarah, fungsi ekologis, serta budaya sekitar sungai. Elemen-elemen ini menjadi alat pembelajaran visual yang efektif bagi pengunjung dan masyarakat lokal.

Untuk Krueng Aceh, pendekatan serupa dapat dilakukan dengan menghadirkan penanda naratif tentang sejarah tsunami, peran sungai dalam kehidupan masyarakat Aceh, dan pentingnya menjaga ekosistem air. Penanda ini dapat dipadukan dengan aktivitas komunitas, seperti sekolah sungai atau tur edukatif, guna memperkuat literasi lingkungan dan keterlibatan warga dalam menjaga sungai.

Dalam ‘River of Life’, profesi perencana kota memegang peran sentral sebagai penghubung antara visi tata ruang, kebutuhan masyarakat, dan kelestarian lingkungan. Perencana  terlibat sejak tahap perencanaan awal, mulai dari penataan koridor sungai, desain kawasan tepi air, hingga integrasi fungsi ekologis, sosial, dan ekonomi dalam satu kesatuan ruang publik yang inklusif. Mereka juga bertanggung jawab merancang zonasi tematik, mengatur konektivitas antarruang kota, serta memastikan bahwa desain kawasan mencerminkan identitas budaya dan warisan sejarah.

Selain itu, perencana berperan dalam mendorong partisipasi masyarakat dan menyusun sistem interpretasi ruang melalui ‘signage’, jalur edukatif, dan peta interaktif. Di Banda Aceh, peran ini menjadi krusial untuk mentransformasi Krueng Aceh sebagai sumbu ekologis dan kultural kota, dengan perencana kota berperan sebagai pengarah transformasi fisik sekaligus fasilitator perubahan sosial menuju kota yang berkelanjutan dan tangguh.

 

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved