Kamis, 7 Mei 2026

Citizen Reporter

Dari Pinggiran Sungai Meunasah Bie ke Bumi Para Nabi

Qadarullah, saya satu-satunya dari Aceh dan membawa nama Yayasan Pendidikan Islam (YPI) Ummul Ayman serta Sekolah Tinggi Ilmu Syariah

Tayang:
Editor: mufti
for serambinews/IST
M. AIDIL ADHAA, putra asal Pante Garot, mengabdi di STIS dan Dayah Ummul Ayman 3, Pidie Jaya, melaporkan dari Kairo, Mesir 

Sebanyak 45 peserta berkumpul di Jakarta dan setelah menempuh perjalanan sebelas jam, kami pun tiba di Bandara Kairo saat azan magrib dikumandangkan.

Mesir, negeri yang selama ini hanya saya temui dalam buku sejarah Islam, dalam kisah para ambiya, atau dalam peta imajiner yang jauh, kini menjadi tujuan nyata. Suhu dengan 9 oCelcius menyapa kami. Bumi Kinanah, negeri yang disebut-sebut sebagai jantung peradaban Islam, tempat Al-Azhar berdiri berabad-abad, melahirkan ulama dan pemikir lintas zaman.

Saya sadar, rihlah ini bukan sekadar perjalanan geografis, melainkan juga perjalanan batin.

Kairo menyambut kami dengan hiruk pikuk yang tak pernah tidur. Jalanan ramai. Suara klakson kendaraan bersahutan.

Pelajar lintas negara bertemu dalam satu asrama. Kami ditempatkan di Asrama Bu’uts, asrama Al-Azhar yang diperuntukkan bagi pelajar peraih beasiswa dari seluruh dunia.

Semenjak di sini, saya tentu harus belajar berdamai dengan kebisingan klakson. Namun, di balik itu, ada kehangatan yang saya terima, berupa senyuman mahasiswa dari berbagai negara, sapaan dalam bahasa Arab yang beragam logatnya, dan rasa persaudaraan yang tumbuh karena tujuan yang sama, yakni menuntut ilmu.

Kegiatan pendidikan intensif berlangsung setiap hari, kecuali Jumat dan Sabtu. Setiap pagi, bus bertuliskan Al-Azhar Asy-Syarif selalu sigap mengantarkan kami ke Majma’ Al-Buhuts Al-Islamiyah (Islamic Research Academy). Lembaga ini merupakan salah satu lembaga di bawah naungan Universitas Al-Azhar yang fokus di bidang

penelitian dan memiliki aktivitas Pengkajian Masalah Keislaman.

Lembaga ini juga dikenal sebagai lembaga Pengembangan Ilmu Keislaman dengan melakukan kajian ilmiah keislaman dengan menggali sumber asli dan klasik, serta mengembangkan ilmu dan kebudayaan Islam.

Majma Al-Buhuts Al-Islamiyyah bekerja sama dengan lembaga pendidikan Islam lainnya di dunia. Bahkan saat ini, ratusan pelajar dari 13 negara sedang mengikuti pendidikan intensif di bidang yang berbeda, termasuk kami dari Indonesia.

Selain itu, Majma Al-Buhuts Al-Islamiyah juga melakukan penerbitan buku-buku tentang keislaman, termasuk tafsir, fikih dan hadis.

Lima belas hari berada di Mesir teraasa singkat, tetapi sarat makna. Setiap hari diisi dengan kajian, diskusi, dan kunjungan ilmiah.

Mesir mengajarkan saya disiplin ilmiah, yakni bagaimana bertanya dengan adab, bagaimana berbeda pendapat tanpa merendahkan, dan bagaimana menghormati sanad keilmuan.

Saya belajar bahwa ilmu bukan sekadar hafalan, melainkan akhlak. Bahwa menjadi penuntut ilmu berarti siap rendah hati, siap diuji, dan siap berkhidmah.

Di sela-sela jadwal resmi, saya sempatkan menelusuri jejak sejarah. Masjid-masjid tua, perpustakaan dan lorong-lorong Kairo Lama menjadi saksi bisu perjalanan panjang umat ini. Bahkan, meskipun jauh, saya pernah berjalan kaki dari asrama ke Masjid Al-Azhar, hanya untuk menikmati suasana lingkungan Kaironya.

Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved