Kamis, 7 Mei 2026

Citizen Reporter

Dari Pinggiran Sungai Meunasah Bie ke Bumi Para Nabi

Qadarullah, saya satu-satunya dari Aceh dan membawa nama Yayasan Pendidikan Islam (YPI) Ummul Ayman serta Sekolah Tinggi Ilmu Syariah

Tayang:
Editor: mufti
for serambinews/IST
M. AIDIL ADHAA, putra asal Pante Garot, mengabdi di STIS dan Dayah Ummul Ayman 3, Pidie Jaya, melaporkan dari Kairo, Mesir 

M. AIDIL ADHAA, putra asal Pante Garot, mengabdi di STIS dan Dayah Ummul Ayman 3, Pidie Jaya, melaporkan dari Kairo, Mesir

Malam itu banjir bandang menerjang pesantren (dayah) kami, Dayah Mahasiswa Ummul Ayman 3, Meunasah Bie, Meurah Dua, Pidie Jaya. Selama dua hari dua malam saya bersama 20 santri terjebak di lantai dua Masjid An-Nur di dalam kompleks dayah  tersebut.

Hari-hari selanjutnya, Ummul Ayman 3 lumpuh. Selama 14 siang dan malam listrik tidak menyala. Jalur lintas nasional Meureudu–Meurah Dua terputus akibat jembatan yang rusak diterjang banjir malam itu.

Bantuan berupa alat berat belum terlihat sama sekali hingga hari ke-35 pascabanjir.

Rumah-rumah dewan guru, kamar santri hingga rumah pimpinan pun tertanam lumpur yang bercampur pasir. Saya Bersama puluhan dewan guru dan santri menikmati hari dan malam di dayah selama itu.

Sedang asyiknya “bermain” lumpur, saya dihubungi pihak Yayasan As-Salam fil Alamin (ASFA) memberitahukan kepastian keberangkatan untuk mengikuti ‘short course’ (pendidikan intensif) di Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir, selama satu bulan.

Tentu saya senang bukan kepalang. Di sisi lain juga sedih, karena dayah masih Tertimbun lumpur. Agak tidak tega untuk meninggalkan rumah kedua saya itu dalam kondisi yang masih lumpuh.

Rihlah ilmiah ke Mesir

Dari 600-an calon peserta yang mendaftar, hanya 45 orang yang lolos ke Bumi Kinanah. 45 Orang tersebut merupakan kader dari 45 lembaga pendidikan dari 22 provinsi di Indonesia.

Qadarullah, saya satu-satunya dari Aceh dan membawa nama Yayasan Pendidikan Islam (YPI) Ummul Ayman serta Sekolah Tinggi Ilmu Syariah (STIS) Ummul Ayman Pidie Jaya.

Dengan perasaan dag-dig-dug, saya memberanikan diri untuk meminta izin kepada Ayahanda, Pembina Ummul Ayman 3 dan STIS Ummul Ayman, Syaikhuna Waled Nuruzzahri. Alhamdulillah, Waled Nu sangat mengapresiasi keberangkatan tersebut meski kondisi dayah masih belum pulih.

Tak hanya itu, Waled juga berkenan menepungtawari saya dan berlangsung di bawah tenda darurat Ummul Ayman 3.

“Puwoe yang get-get. Bek puwoe yang hana-hana get!” begitu pesan singkat dari Waled yang sarat makna.

Pesan ini menyiratkan bahwa kemanapun kita melangkah, ambillah hikmah dan kebaikan dari segala tempat yang dilewati. Jangan memandang sisi buruknya, tapi lihat, praktikkan, dan bawalah yang baik-baiknya saja dari negeri orang lain.

Dalam waktu kurang satu minggu, saya pun bersiap-siap: mengemas perlengkapan menghadapi musim dingin di Bumi Para Nabi.

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved