Selasa, 5 Mei 2026

Citizen Reporter

Warisan Dunia di India, Bukan Cuma Taj Mahal

Udara dingin Dehradun menyambut saya ketika menjejakkan kaki di India. Perjalanan ini bukan sekadar kursus, melainkan juga sebuah eksplorasi

Tayang:
Editor: mufti
for serambinews/IST
TEUKU MUKHLIS 

TEUKU MUKHLIS, S.T., M.T., Penyelidik Bumi Ahli Muda pada Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral Aceh, peserta Certificate Course in Natural Heritage Management, melaporkan dari India

Udara dingin Dehradun menyambut saya ketika menjejakkan kaki di India. Perjalanan ini bukan sekadar kursus, melainkan juga sebuah eksplorasi lintas budaya, ilmu, dan spiritualitas.

Saya datang untuk mengikuti Certificate Course in Natural Heritage Management, sebuah program yang kami ikuti melalui ITEC (Indian Technical and Economic Cooperation).

Program ini adalah inisiatif Pemerintah India yang sejak lama membuka peluang bagi negara-negara berkembang untuk mengirimkan peserta mengikuti pelatihan jangka pendek.

Bagi saya, kesempatan ini sangat berharga, karena relevan dengan pekerjaan saya di Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (DESDM) Aceh, khususnya dalam pengembangan warisan alam, ‘geoheritage’ dan rencana pengembangan ‘geopark’ di Aceh.

Kursus ini berlangsung empat minggu penuh, diselenggarakan oleh Wildlife Institute of India – Category 2 Centre (WII-C2C). Lembaga ini berada di bawah naungan UNESCO dan berfokus pada pelatihan serta penelitian warisan alam dunia.

Kota Dehradun, yang terletak di kaki pegunungan Himalaya, menjadi lokasi pelatihan kami. Suasana dingin pegunungan membuat pengalaman belajar semakin berkesan, kontras dengan hangatnya Aceh.

Peserta kursus berjumlah 19 orang dari 16 negara yang tersebar di Asia, Afrika, pulau-pulau di Amerika Utara, hingga Eropa. Suasana kelas menjadi sangat berwarna, penuh pertukaran pengalaman lintas budaya.

Duduk berdampingan dengan peserta dari Afrika dan Eropa, saya merasakan betapa isu warisan alam adalah persoalan global, meski konteks lokal berbeda.

Materi yang kami pelajari mencakup pengelolaan warisan alam, warisan budaya, Outstanding Universal Value (OUV), keanekaragaman hayati, hingga perubahan iklim. Semua disampaikan dengan cara interaktif, membuat setiap sesi terasa hidup.

Setiap akhir pekan, kami diajak keluar kelas untuk ‘field visit’. Kunjungan lapangan pertama kami adalah ke Forest Research Institute (FRI), sebuah kompleks museum dan penelitian kehutanan dengan bangunan kolonial megah. Di sana saya melihat hubungan manusia dan alam yang dipamerkan di museum, mulai dari sejarah hidup pohon purba, kerumitan sistem biologis hutan, hingga kesadaran akan nilai hutan sebagai “apotek hidup” yang esensial.

Perjalanan berlanjut ke Rajaji Tiger Reserve, kawasan konservasi yang menjadi habitat harimau dan satwa liar lainnya. Melihat bagaimana kawasan tersebut dikelola dengan sistem zonasi yang

jelas dan pelibatan masyarakat sekitar, saya belajar bahwa konservasi membutuhkan komitmen jangka panjang.

Akhir pekan berikutnya, kami menyaksikan langsung bagaimana masyarakat India mengelola Sungai Gangga. Di Rishikesh, kami melihat pertunjukan di tepi sungai, dengan cahaya lampu dan nyanyian yang menciptakan suasana religius.

Semua pengalaman ini membuka mata saya bahwa warisan alam tidak hanya soal konservasi, tetapi juga keterhubungan dengan Masyarakat dan budaya.

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved