Citizen Reporter
Warisan Dunia di India, Bukan Cuma Taj Mahal
Udara dingin Dehradun menyambut saya ketika menjejakkan kaki di India. Perjalanan ini bukan sekadar kursus, melainkan juga sebuah eksplorasi
Salah satu kunjungan yang paling berkesan adalah ke Wadia Institute of Himalayan Geology.
Sebagai seorang geologist, kunjungan ini terasa sangat relevan. Saya semakin memahami dinamika pembentukan Himalaya, proses tektonik tumbukan dua lempeng raksasa yang terus
berlangsung hingga kini. Kondisi tektonik ini mengingatkan saya pada Aceh. Bukankah kita juga hidup di wilayah tektonik aktif? Bukankah jejak gempa dan tsunami adalah bagian dari warisan geologi kita?
Saya melihat bagaimana penelitian geologi di India mendukung pengelolaan warisan alam, sekaligus memberi inspirasi bagi rencana pengembangan Geoheritage dan Geopark Aceh.
Geopark bukan sekadar label, melainkan sebuah konsep yang menghubungkan ilmu pengetahuan, konservasi, pendidikan, dan pembangunan berkelanjutan.
Aceh, dengan kekayaan geologi dan budayanya, memiliki potensi besar untuk menjadi bagian dari jaringan geopark dunia.
Puncak eksplorasi kami adalah tur penuh ke berbagai situs UNESCO World Heritage. Dari Keoladeo National Park yang kaya burung migran, hingga Taj Mahal yang megah dan penuh makna sejarah. Kami juga mengunjungi Humayun’s Tomb dan National Museum di Delhi.
Di Keoladeo, saya merasakan keajaiban alam yang menjadi rumah bagi ratusan spesies burung.
Di Taj Mahal, saya terpesona oleh keindahan arsitektur yang menjadi simbol cinta abadi.
Marmer putih yang menghiasi Taj Mahal terbentuk melalui proses geologi yang sangat panjang: metamorfosis batu gamping di lingkungan laut dangkal selama jutaan tahun. Melihatnya, saya merasa seolah ilmu geologi dan seni arsitektur berpadu dalam satu karya agung.
Di Humayun’s Tomb dan National Museum, saya belajar bagaimana warisan budaya dipelihara dan ditafsirkan untuk generasi masa depan. Semua kunjungan ini memberi pelajaran baru: bahwa warisan dunia adalah jembatan antara masa lalu, masa kini, dan masa depan.
Pengalaman di Dehradun
Selain belajar, saya juga merasakan pengalaman religius yang unik. Saat shalat Jumat di salah satu masjid di Dehradun, saya mendapati perbedaan tradisi dengan Aceh. Di sana, setelah masuk
waktu zuhur, imam memberikan ceramah sekitar 45 menit. Baru kemudian khatib naik mimbar, azan dikumandangkan, khutbah Jumat disampaikan singkat sesuai rukun, lalu shalat dimulai.
Bagi saya, ini adalah pengalaman spiritual yang memperkaya pandangan tentang keberagaman praktik Islam. Islam memang satu, tetapi cara umat melaksanakan ibadah bisa berbeda sesuai dengan tradisi dan budaya setempat.
Penulis Citizen Reporter
Citizen Reporter
Penulis CR
Warisan Dunia di India Bukan Cuma Taj Mahal
TEUKU MUKHLIS
Serambi Indonesia
Serambinews.com
Serambinews
| Student Exchange Ke Brunei: Melihat Langsung Negara yang Religius, Tertib, dan Lestarikan Hutan |
|
|---|
| Rahasia di Balik Kemajuan dan Keteraturan Singapura |
|
|---|
| Indonesia Kaya SDA, Tapi Mengapa Rakyat Miskin dan Bodoh? |
|
|---|
| Student Exchange UIN Ar-Raniry Kunjungi Masjid Jame' Asr Hassanil Bolkiah, Brunei Darussalam |
|
|---|
| Jemput Ilmu dan Jaringan Internasional: 13 Mahasiswa UIN Ar-Raniry Terbang ke Brunei Darussalam |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/TEUKU-MUKHLIS-OKE.jpg)