Jumat, 1 Mei 2026

Salam

Sekolah yang Terputus di Seberang Sungai

Ironisnya, peristiwa ini terjadi di wilayah yang pernah dikenal sebagai kawasan kaya sumber daya minyak dan gas.

Tayang:
Editor: mufti
Serambinews.com
Demi Sekolah, Anak-anak di Aceh Utara Bertaruh Nyawa Seberangi Sungai Sawang 

Banjir bandang yang melanda Aceh pada akhir November 2025 bukan sekadar bencana alam. Ia adalah peringatan keras tentang rapuhnya tata kelola penanganan pascabencana di daerah ini. Lebih dari sebulan berlalu, namun di Kecamatan Sawang, Aceh Utara, anak-anak masih harus mempertaruhkan keselamatan demi bisa bersekolah.

Hanyutnya rakit darurat di Sungai Sawang pada, Selasa (6/1/2026), bukan sekadar hilangnya sarana penyeberangan. Ia adalah simbol pupusnya harapan puluhan pelajar dari Gampong Gunci, Lhok Cut, Kubu, dan Blang Cut untuk kembali ke bangku sekolah. Setelah jembatan permanen putus diterjang banjir besar 26 November 2025, rakit kayu sederhana menjadi satu-satunya penghubung kehidupan di daerah ini. 

Ironisnya, peristiwa ini terjadi di wilayah yang pernah dikenal sebagai kawasan kaya sumber daya minyak dan gas. Kecamatan Sawang dan sekitarnya pernah menjadi bagian dari denyut ekonomi Aceh. Namun kini, desa-desa di sana terisolasi, seolah luput dari prioritas pemulihan. 

Fakta ini menegaskan bahwa kekayaan alam tidak otomatis berbanding lurus dengan ketangguhan infrastruktur. Penanganan darurat yang berlarut-larut menunjukkan bahwa pemulihan pascabencana di Aceh belum benar-benar selesai. 

Fokus bantuan yang kerap berhenti pada fase tanggap darurat, seperti sembako, posko, dan pendataan korban, harus segera dilanjutkan ke tahap rehabilitasi dan rekonstruksi yang nyata. Jembatan sementara, akses pendidikan, dan transportasi aman bukanlah kemewahan, melainkan kebutuhan mendesak.

Berpijak dari sini, kita mengingatkan semua pihak, baik pemerintah pusat, pemerintah daerah, dunia usaha, maupun masyarakat luas bahwa bencana tidak berakhir ketika air surut. Selama anak-anak masih harus menunggu rakit untuk menyeberang sungai, selama itu pula kita belum bisa mengatakan bahwa penanganan pascabanjir telah tuntas.

Sebelumnya diberitakan, harapan anak-anak di seberang Sungai Sawang, Aceh Utara, untuk kembali  bersekolah setelah bencana banjir bandang, kembali pupus. Rakit sederhana yang menjadi satu-satunya sarana penyeberangan, hanyut terbawa arus deras pada Selasa (6/1/2026) dini hari.

Sehari sebelumnya, rakit kayu seadanya itu berjasa mengantarkan puluhan pelajar dari Gampong Gunci, Lhok Cut, Kubu, dan Blang Cut,  menuju sekolah mereka di pusat Kecamatan Sawang.

Rekaman video yang dikirimkan oleh Khairunisak, warga Dusun Kuta Batee, menampilkan momen penuh perjuangan anak-anak menyeberangi sungai dengan rakit tersebut pada hari pertama masuk sekolah, Senin (5/1/2026).

Namun, pada hari Selasa, rekaman baru dari lokasi yang sama menunjukkan pemandangan berbeda. Dalam video itu, Khairunnisak berbagi cerita dan fakta, bahwa para pelajar generasi bangsa itu, terpaksa kembali absen ke sekolah.

Pasalnya, rakit yang sehari sebelumnya menjadi jembatan harapan, telah hanyut terbawa arus deras pada, Selasa dini hari. Untuk diketahui, seluruh akses utama berupa jembatan penyeberangan menuju ke empat desa di seberang sungai Sawang ini, telah putus dalam bencana banjir besar 26 November 2025.

Kecamatan Sawang merupakan salah satu kecamatan di Kabupaten  Aceh Utara yang dulu dikenal sebagai daerah kaya minyak dan gas alam, kini menghadapi tantangan berat. Warganya harus bergantung pada rakit darurat untuk beraktivitas.

Untuk itu, sekali lagi, kita mengingatkan bahwa rakit itu boleh saja hanyut, tetapi kepedulian tidak boleh ikut tenggelam. Aceh membutuhkan kerja nyata, bukan sekadar simpati sesaat. Semoga!

POJOK

Baitul Mal Aceh salurkan kaki palsu kepada 36 mustahik

Alhamdulillah! Yang tidak boleh diberikan ijazah palsu, kan?

70 relawan ESDM Aceh bersihkan SMPN 5 Karang Baru, Tamiang

Sebaliknya, jika mendapat imbalan namanya pekerja musiman, tahu?

Pernah digagalkan SBY, Demokrat kini dukung Pilkada dipilih DPRD

Yang namanya politik bisa berubah tiga kali dalam 24 jam, ngerti?

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved