Breaking News
Senin, 25 Mei 2026

Salam

PLN oh PLN

Listrik adalah denyut kehidupan modern. Tanpa listrik, roda ekonomi tersendat, aktivitas sosial lumpuh, bahkan secangkir kopi di warung

Tayang:
Editor: mufti
COVER KORAN SERAMBI INDONESIA/KORAN SERAMBI INDONESIA
HEADLINE KORAN SERAMBI INDONESI EDISI AHAD 2060524 

Listrik adalah denyut kehidupan modern. Tanpa listrik, roda ekonomi tersendat, aktivitas sosial lumpuh, bahkan secangkir kopi di warung pun kehilangan maknanya. Namun di Aceh, listrik hidup-mati atau byarpet sudah menjadi cerita lama yang terus berulang. Masyarakat bukan hanya terganggu, tetapi juga menderita kerugian besar akibat ketidakprofesionalan PLN dalam menjalankan tugasnya.

Kita masih ingat betul, pascabencana banjir dan longsor akhir November lalu, ribuan pelanggan PLN di Aceh harus menanggung pemadaman berhari-hari. Peternak kehilangan ratusan juta rupiah karena mesin pendingin mati. Usaha kecil nyaris gulung tikar. Warung kopi yang menjadi denyut nadi pergaulan Aceh pun terpaksa menyalakan genset dengan biaya operasional yang membengkak. Semua itu terjadi tanpa ada pertanggungjawaban, tanpa kompensasi. Gugatan sempat diajukan, tetapi prosesnya tertatih-tatih, seakan melawan tembok tebal bernama “perusahaan negara.”

Kini, gangguan kembali terjadi. Cuaca ekstrem di Jambi memicu kerusakan transmisi SUTET 275 kV Muara Bungo–Sungai Rumbai. Efek domino menjalar hingga ke Aceh. PLN berdalih melakukan “manajemen beban” untuk menjaga kestabilan sistem. Ratusan personel dikerahkan, puluhan gardu induk dipulihkan, genset mobile digerakkan. Angka-angka pemulihan dipaparkan dengan bangga: 19 dari 21 gardu induk di Aceh sudah bertegangan, 8,3 juta pelanggan di Sumatra kembali menikmati listrik.

Namun pertanyaan mendasar tetap menggantung: mengapa setiap kali ada gangguan, masyarakat selalu menjadi korban pertama dan terakhir? Mengapa tidak ada mekanisme kompensasi yang jelas bagi pelanggan yang dirugikan? Mengapa profesionalisme PLN selalu bersembunyi di balik alasan “cuaca ekstrem” atau “beban berat pembangkit”?

PLN adalah badan usaha milik negara. Ia mengelola hajat hidup orang banyak. Maka, standar profesionalisme yang dituntut bukan sekadar kerja teknis, melainkan juga tanggung jawab moral. Ketika listrik padam berhari-hari, bukan hanya lampu yang mati, tetapi juga harapan masyarakat yang meredup. Ketika usaha kecil merugi, bukan hanya ekonomi yang terguncang, tetapi juga kepercayaan publik terhadap negara yang terkikis.

Sudah saatnya PLN berhenti berlindung di balik jargon pemulihan sistem. Yang dibutuhkan masyarakat adalah kepastian layanan, transparansi informasi, dan kompensasi nyata atas kerugian. Jangan biarkan pameo “namanya juga perusahaan negara, ya begitulah kinerjanya” menjadi kenyataan pahit yang terus diwariskan.

Aceh, dengan segala dinamika dan tantangan pascabencana, membutuhkan PLN yang profesional, bukan PLN yang sekadar reaktif. PLN harus membuktikan bahwa ia bukan sekadar raksasa birokrasi, melainkan institusi yang benar-benar melayani rakyat.

Kita menuntut adanya reformasi menyeluruh dalam tata kelola kelistrikan. Bukan hanya soal teknis pemulihan, tetapi juga soal akuntabilitas, transparansi, dan keberanian memberi kompensasi. Jika PLN ingin tetap dipercaya sebagai tulang punggung energi negeri, ia harus berani berubah: dari sekadar pemadam kebakaran menjadi penyedia layanan yang berorientasi pada kepuasan pelanggan. Tanpa itu, setiap slogan “terus terang, terus terang” hanya akan terdengar sebagai ironi di telinga masyarakat yang sudah terlalu sering merasakan gelapnya malam tanpa listrik.(*)

POJOK

Trump pertimbangkan serangan baru ke Iran

Terus menggertak, tandra frustrasi

Menteri PU akui pemulihan bencana Aceh lamban akibat faktor geografis

Selalu ada ‘kambing hitam’

Bulog klaim stok MinyaKita masih aman

Cuma Harga yang Kurang nyaman

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved