Sabtu, 13 Juni 2026

Berita Internasional

Penyair Fikar W. Eda Membawa Puisi dan Canang ke Panggung Dunia Busan

Lelaki itu adalah Fikar W. Eda, penyair Aceh yang selama empat hari berturut-turut tampil membacakan puisi di salah satu festival tari internasional

Tayang: | Diperbarui:
Editor: Subur Dani
Dok SERAMBINEWS.COM/HO
Fikar W Eda tampil bersama tim saman di Busan 

Laporan dari Busan, Korea Selatan

SERAMBINEWS.COM, BUSAN - Di tengah gemuruh tepuk tangan ribuan penonton Busan International Dance Festival (BIDF) 2026, seorang lelaki berbalut busana adat Gayo melangkah perlahan menuju pusat panggung. 

Di lehernya tergantung sebuah canang, alat musik tradisional dari dataran tinggi Gayo. Di tangannya berkibar kain Upuh Ulen-Ulen, simbol kehormatan masyarakat Gayo.

Lelaki itu adalah Fikar W. Eda, penyair Aceh yang selama empat hari berturut-turut tampil membacakan puisi di salah satu festival tari internasional paling bergengsi di Korea Selatan. 

Baca juga: Saman Getarkan Busan: Ketika Warisan Gayo Menjadi Bahasa Dunia

Puisi berjudul "Seribu Saman" mengawali seluruh rangkaian pertunjukan delegasi Indonesia yang mewakili Aceh pada BIDF 2026 yang berlangsung pada 5–9 Juni di Busan. Sebuah pilihan artistik yang tidak lazim untuk sebuah festival tari kontemporer internasional.

Ketika video singkat tentang Tari Saman selesai diputar, Fikar muncul dari sisi panggung. Ia bergerak menyerupai elang yang sedang membentangkan sayap. Kain Upuh Ulen-Ulen yang dikibarkannya menambah kesan dramatik. 

Sesekali terdengar denting canang yang dimainkan sendiri olehnya, menciptakan suasana magis yang mengundang perhatian penonton.

Di saat yang sama, sekelompok pemuda berkostum Saman memasuki arena. Mereka membentuk lingkaran sambil bertepuk tangan, menunggu aba-aba yang akan membawa penonton memasuki dunia Gayo.

Baca juga: BUMDes di 49 Gampong di Indrajaya Miliki Sertifikat AHU, Begini Alur Pendaftarannya

Lalu suasana menjadi hening. Ketukan canang terdengar sekali lagi. Fikar mulai membaca puisi.

Suara penyair itu mengalun di ruang pertunjukan, mengantar kisah tentang Saman yang lahir dari tanah pegunungan Gayo dan menjelma menjadi warisan dunia. Kata-kata yang diucapkannya bukan sekadar pembuka pertunjukan, melainkan jembatan yang menghubungkan penonton internasional dengan ruh budaya yang akan mereka saksikan.

Ketika puisi mencapai bagian akhir, sorot lampu menimpa tubuhnya. Dengan suara lantang ia meneriakkan:

"Aku kirimkan Saman untukmu!"

Kalimat itu menjadi penutup pembacaan puisi sekaligus penanda dimulainya Tari Saman.

Fikar kemudian meninggalkan panggung perlahan. Para penari mengambil alih ruang pertunjukan. 

Salam pembuka bergema, disusul gerak-gerak ritmis yang padu, cepat, dan memukau. Penonton Busan pun larut dalam pesona salah satu warisan budaya paling terkenal dari Aceh.

Baca juga: Aceh Butuh Wirausaha Sosial Kerah Putih, Orasi Kepala Bappeda di FISIP UIN

Bagi banyak orang, kehadiran puisi dalam panggung tari internasional merupakan sesuatu yang baru.

M. Aris dari Lembaga Seni Budaya Gayo Aceh menilai perpaduan tersebut menjadi kekuatan tersendiri dalam penampilan delegasi Indonesia.

"Ini ajang tari kontemporer, tetapi kita membawakan puisi juga. Saya kira itu sesuatu yang bagus di Busan International Dance Festival," ujarnya.

Hal serupa disampaikan Aminnulah Adnan, CEO Duta Saman Institute. Menurutnya, pertunjukan tersebut lahir dari kolaborasi berbagai disiplin seni yang saling menguatkan.

Selain menghadirkan Fikar W. Eda sebagai pembaca puisi, delegasi Indonesia juga melibatkan penata musik dan seni pertunjukan Zulhasfan Nasution yang memberikan sentuhan artistik modern pada keseluruhan pementasan.

"Sentuhan beliau membuat nuansa pertunjukan menjadi sangat adaptif dengan teknologi," kata Aminnulah.

Selama empat hari penyelenggaraan BIDF, formula yang sama terus dipertahankan. Fikar membuka pertunjukan dengan puisi "Seribu Saman", lalu Tari Saman mengambil alih panggung hingga akhir. 

Penampilan berlangsung dua hari di Haeundae Beach Stage, panggung terbuka yang berada di bibir pantai Busan, sebelum kemudian tampil di Geoje Arts Centre Grand Theater pada 9 Juni 2026 sebagai bagian dari rangkaian resmi BIDF.

Baca juga: Golkar Aceh Adakan Nobar Piala Dunia 2026, Sediakan Makanan dan Terbuka Untuk Umum

Setiap pertunjukan berakhir dengan cara yang sama.

Setelah Tari Saman selesai dimainkan, Fikar kembali naik ke atas panggung. Ia berdiri bersama seluruh pemain, membungkuk memberi penghormatan kepada penonton, lalu meninggalkan arena diiringi gemuruh tepuk tangan.

Momen itu bukan hanya tentang seorang penyair yang membacakan puisi di negeri orang. Lebih dari itu, ia sedang membawa suara kebudayaan dari wilayah Aceh ke panggung dunia.

Melalui puisi, canang, Upuh Ulen-Ulen, dan gerak simbolik yang ia tampilkan, Fikar menghadirkan wajah lain dari Aceh—sebuah daerah yang tidak hanya memiliki Tari Saman, tetapi juga tradisi sastra yang hidup dan terus bergerak melintasi batas-batas negara.

Baca juga: Jalan Singkil–Kuala Baru yang Belum Benar-Benar Tembus

Keikutsertaan Aceh dalam BIDF 2026 menjadi bagian dari perjalanan panjang diplomasi budaya yang selama ini dilakukan para pegiat seni Aceh di berbagai belahan dunia. Melalui Tari Saman dan puisi "Seribu Saman", pesan persahabatan itu kembali disampaikan dari Busan kepada dunia.

Kehadiran delegasi Aceh pada BIDF 2026 difasilitasi sepenuhnya oleh Pemerintah Aceh melalui Dinas Pemuda dan Olahraga Aceh atas atensi Gubernur Aceh dan Sekretaris Daerah Aceh, M. Nasir.(*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

Update Jadwal & Skor
Grup B - Matchday 1
Sabtu, 13 Juni 2026 | 02:00 WIB
Canada
Kanada
1 - 1
Bosnia
Bosnia
Grup D - Matchday 1
Sabtu, 13 Juni 2026 | 08:00 WIB
United States
Amerika Serikat
VS
Paraguay
Paraguay
Lihat Selengkapnya
Semua Jadwal Laga
© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved