Berita Internasional
Penyair Fikar W. Eda Membawa Puisi dan Canang ke Panggung Dunia Busan
Lelaki itu adalah Fikar W. Eda, penyair Aceh yang selama empat hari berturut-turut tampil membacakan puisi di salah satu festival tari internasional
Laporan dari Busan, Korea Selatan
SERAMBINEWS.COM, BUSAN - Di tengah gemuruh tepuk tangan ribuan penonton Busan International Dance Festival (BIDF) 2026, seorang lelaki berbalut busana adat Gayo melangkah perlahan menuju pusat panggung.
Di lehernya tergantung sebuah canang, alat musik tradisional dari dataran tinggi Gayo. Di tangannya berkibar kain Upuh Ulen-Ulen, simbol kehormatan masyarakat Gayo.
Lelaki itu adalah Fikar W. Eda, penyair Aceh yang selama empat hari berturut-turut tampil membacakan puisi di salah satu festival tari internasional paling bergengsi di Korea Selatan.
Baca juga: Saman Getarkan Busan: Ketika Warisan Gayo Menjadi Bahasa Dunia
Puisi berjudul "Seribu Saman" mengawali seluruh rangkaian pertunjukan delegasi Indonesia yang mewakili Aceh pada BIDF 2026 yang berlangsung pada 5–9 Juni di Busan. Sebuah pilihan artistik yang tidak lazim untuk sebuah festival tari kontemporer internasional.
Ketika video singkat tentang Tari Saman selesai diputar, Fikar muncul dari sisi panggung. Ia bergerak menyerupai elang yang sedang membentangkan sayap. Kain Upuh Ulen-Ulen yang dikibarkannya menambah kesan dramatik.
Sesekali terdengar denting canang yang dimainkan sendiri olehnya, menciptakan suasana magis yang mengundang perhatian penonton.
Di saat yang sama, sekelompok pemuda berkostum Saman memasuki arena. Mereka membentuk lingkaran sambil bertepuk tangan, menunggu aba-aba yang akan membawa penonton memasuki dunia Gayo.
Baca juga: BUMDes di 49 Gampong di Indrajaya Miliki Sertifikat AHU, Begini Alur Pendaftarannya
Lalu suasana menjadi hening. Ketukan canang terdengar sekali lagi. Fikar mulai membaca puisi.
Suara penyair itu mengalun di ruang pertunjukan, mengantar kisah tentang Saman yang lahir dari tanah pegunungan Gayo dan menjelma menjadi warisan dunia. Kata-kata yang diucapkannya bukan sekadar pembuka pertunjukan, melainkan jembatan yang menghubungkan penonton internasional dengan ruh budaya yang akan mereka saksikan.
Ketika puisi mencapai bagian akhir, sorot lampu menimpa tubuhnya. Dengan suara lantang ia meneriakkan:
"Aku kirimkan Saman untukmu!"
Kalimat itu menjadi penutup pembacaan puisi sekaligus penanda dimulainya Tari Saman.
Fikar kemudian meninggalkan panggung perlahan. Para penari mengambil alih ruang pertunjukan.
Salam pembuka bergema, disusul gerak-gerak ritmis yang padu, cepat, dan memukau. Penonton Busan pun larut dalam pesona salah satu warisan budaya paling terkenal dari Aceh.
Baca juga: Aceh Butuh Wirausaha Sosial Kerah Putih, Orasi Kepala Bappeda di FISIP UIN
| Saman Getarkan Busan: Ketika Warisan Gayo Menjadi Bahasa Dunia |
|
|---|
| Drone Ditembak Jatuh, Iran Balas Gempur Pangkalan Militer AS di Kawasan Teluk |
|
|---|
| AS Makin 'Mesra' dengan Israel! Upaya Demokrat Gagalkan Kerja Sama Militer Gagal Total |
|
|---|
| Israel-Lebanon Sepakat Gencatan Senjata, Berlaku Jika Hizbullah Hentikan Serangan ke Wilayah Israel |
|
|---|
| AS Tampar Rencana Inggris, Misi Buka Selat Hormuz Dinilai Tak Masuk Akal di Tengah Ketegangan Iran |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/FIKAR-W-EDA-SAMAN.jpg)