Senin, 4 Mei 2026

Berita Kesehatan

Kabar Gembira! 70 Persen Kasus Epilepsi Bisa Diobati, Simak Penjelasan Spesialis Saraf

Sekitar 70 persen penderita epilepsi dapat dikendalikan dengan pengobatan standar yang tersedia di layanan BPJS, seperti fenitoin & karbamazepin.

Tayang:
Penulis: Indra Wijaya | Editor: Saifullah
Serambinews.com/HO
PENGOBATAN EPILEPSI - Dokter Spesialis Saraf Konsultan, Dr dr Nova Dian Lestari, SpS(K) mengungkapkan, bahwa 70 persen kasus epilepsi bisa dikendalikan dengan pengobatan standar dan tercover BPJS. 

Ringkasan Berita:
  • Sekitar 70 persen penderita epilepsi dapat dikendalikan dengan pengobatan standar yang tersedia di layanan BPJS, seperti fenitoin, karbamazepin, valproat, dan levetiracetam.
  • Cannabidiol hanya dipertimbangkan untuk kasus epilepsi resisten obat, namun efektivitasnya masih terbatas dan regulasinya ketat di Indonesia.
  • Selain obat, penanganan darurat saat kejang lebih dari lima menit serta edukasi masyarakat tentang epilepsi sangat penting untuk mencegah kesalahpahaman dan menjaga keselamatan pasien.

 

Laporan Wartawan Serambi Indonesia Indra Wijaya | Banda Aceh

SERAMBINEWS.COM, BANDA ACEH - Epilepsi merupakan salah satu penyakit saraf yang cukup sering dijumpai.

Namun kabar baiknya, sekitar 70 persen kasus dapat dikendalikan dengan pengobatan standar.

Hal ini disampaikan oleh Spesialis Saraf Konsultan, Dr dr Nova Dian Lestari, SpS(K).

Dokter Nova menegaskan, bahwa obat-obatan seperti fenitoin, karbamazepin, valproat, hingga levetiracetam, sudah tersedia dalam layanan BPJS dan terbukti efektif bagi sebagian besar pasien.

Dengan pengobatan yang tepat, penderita epilepsi dapat menjalani kehidupan normal tanpa gangguan berarti.

Meski demikian, terdapat sebagian kecil pasien yang mengalami epilepsi resisten obat.

Yaitu kondisi di mana kejang tidak terkontrol meski sudah menggunakan minimal dua jenis obat dengan dosis dan cara yang benar.

Pada kasus seperti ini, terapi alternatif seperti cannabidiol (turunan ganja) mulai dipertimbangkan.

Baca juga: Diduga Epilepsi Kambuh, Tumiran Ditemukan Meninggal di Tepi Sungai, Dilaporkan Hilang Dua Hari

Nova menjelaskan, bahwa penggunaan cannabidiol bukanlah terapi utama, melainkan opsi terakhir yang masih dalam tahap penelitian.

Hasil studi menunjukkan, adanya perbaikan sekitar 40 persen pada pasien epilepsi berat yang menggunakan cannabidiol.

Namun efektivitasnya belum signifikan dan regulasi penggunaannya masih terbatas, termasuk di Indonesia.

Selain pengobatan, Nova menekankan pentingnya penanganan darurat pada kondisi status epileptikus, yaitu kejang yang berlangsung lebih dari lima menit. 

Situasi ini dapat merusak sel otak dan harus segera ditangani di IGD.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved