Berita Kesehatan
Kasus Campak di Aceh Menurun, Dinkes: KLB Masih Terjadi Akibat Rendahnya Imunisasi
Dinas Kesehatan Aceh mencatat trend kasus campak mulai menurun pada 2026, setelah sempat melonjak tinggi pada awal 2025.
Penulis: Indra Wijaya | Editor: Muhammad Hadi
Ringkasan Berita:Dinas Kesehatan Aceh menyebut kasus campak 2026 menurun, namun KLB masih terjadi akibat rendahnya imunisasi.Menurut Iman Murahman, 93,5 persen kasus konfirmasi terjadi pada anak yang belum pernah imunisasi campak.
Laporan Wartawan Serambi Indonesia Indra Wijaya | Banda Aceh
SERAMBINEWS.COM, BANDA ACEH – Dinas Kesehatan Aceh mencatat trend kasus campak mulai menurun pada 2026, setelah sempat melonjak tinggi pada awal 2025.
Meski demikian, Kejadian Luar Biasa (KLB) campak masih terjadi di sejumlah kabupaten/kota akibat rendahnya cakupan imunisasi.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Aceh, dr Iman Murahman, mengatakan lonjakan kasus terjadi pada awal 2025, dengan puncak pada Januari dan Februari.
“Pada Januari 2025 tercatat 755 kasus suspek dengan 241 konfirmasi, kemudian Februari 702 suspek dengan 226 konfirmasi. Setelah itu tren mulai menurun hingga akhir tahun,” katanya kepada Serambi, Selasa (14/4/2026).
Memasuki 2026, lanjutnya, penurunan kasus terlihat cukup signifikan. Dalam periode Januari hingga Maret 2026 hanya tercatat 724 kasus suspek dengan 124 kasus terkonfirmasi.
“Angka ini jauh lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun 2025 yang mencapai sekitar 1.400 lebih suspek.
Namun demikian, KLB masih terjadi di beberapa daerah, sehingga kewaspadaan tetap harus ditingkatkan,” katanya.
Baca juga: Dokter Muda Meninggal Saat Intership di RSUD, Diduga Terpapar Campak
Secara kumulatif, sepanjang 2025 tercatat 5.204 kasus suspek campak dengan 1.241 kasus terkonfirmasi, serta 6 kasus rubela.
Sementara pada 2026 hingga Maret, terdapat 724 suspek, 124 konfirmasi campak, dan 1 kasus rubela.
Ia menjelaskan, beberapa daerah dengan kasus tinggi pada 2025 antara lain Aceh Besar, Bireuen, Pidie, Aceh Barat Daya, dan Banda Aceh. Bahkan, Pidie mencatat KLB terbanyak hingga tujuh kali dalam setahun.
Sementara pada awal 2026, Aceh Besar masih menjadi daerah dengan kasus tertinggi, disusul Aceh Barat Daya dan Aceh Jaya.
Menurut dr Iman, tingginya kasus campak di Aceh sangat berkaitan dengan rendahnya cakupan imunisasi di masyarakat.
“Sebanyak 93,5 persen kasus konfirmasi terjadi pada anak yang belum pernah mendapatkan imunisasi campak sama sekali. Ini menunjukkan bahwa kelompok yang tidak diimunisasi menjadi sangat rentan,” jelasnya.
Ia menambahkan, kelompok usia yang paling terdampak adalah anak usia 1 hingga 4 tahun dan 5 hingga 9 tahun, yang seharusnya sudah mendapatkan imunisasi dasar lengkap.
Baca juga: Tujuh Kabupaten Butuh Atensi Khusus, Campak dan TBC Intai Pengungsi
| Kabar Gembira! 70 Persen Kasus Epilepsi Bisa Diobati, Simak Penjelasan Spesialis Saraf |
|
|---|
| Banyak tidak Tahu, Kopi Naikkan Tekanan Darah, Tapi tak Sebabkan Hipertensi |
|
|---|
| Ini Tips Puasa Sehat dan Bugar di Bulan Ramadhan ala Ketua IDI Aceh Timur |
|
|---|
| Teliti Dampak HIV AIDS di Aceh, Nurul Husna Raih Gelar Doktor dengan Predikat Cumlaude di USU |
|
|---|
| Ingin Kulit Anda Aman dari Flek Hitam Usai Waxing, Lakukan 7 Tips Ini |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Kepala-Bidang-Pencegahan-dan-Pengendalian-Penyakit-Dinas-Kesehatan-Aceh-dr-Iman-Murahman.jpg)