Minggu, 10 Mei 2026

Puasa Latih Sabar, Psikiater Ungkap Peran Otak dalam Kendalikan Emosi 

Puasa bukan hanya menahan lapar dan haus, tetapi juga menjadi latihan pengendalian diri yang berdampak pada kestabilan emosi. 

Tayang:
Editor: Mursal Ismail
Chat GPT
ILUSTRASI BERPUASA - Puasa bukan hanya menahan lapar dan haus, tetapi juga menjadi latihan pengendalian diri yang berdampak pada kestabilan emosi. Dengan melatih otak untuk tidak bereaksi spontan, puasa membantu memperkuat regulasi emosi, meningkatkan kontrol diri, serta mendukung kesehatan mental dan hubungan sosial yang lebih harmonis. 

Ringkasan Berita:
  • Menurut dr. Lahargo Kembaren dari PP-PDSKJI, puasa melatih pengendalian diri sehingga seseorang lebih mampu merespons emosi secara sadar, bukan reaktif.
  • Proses ini melibatkan bagian otak prefrontal cortex yang berfungsi sebagai “rem” emosi, membantu berpikir sebelum bertindak.
  • Regulasi emosi saat puasa bukan memendam perasaan, melainkan memberi jeda sebelum merespons, yang berdampak positif pada kesehatan mental dan hubungan sosial.
 
 

SERAMBINEWS.COM - Puasa bukan hanya menahan lapar dan haus, tetapi juga menjadi latihan pengendalian diri yang berdampak pada kestabilan emosi

Dengan melatih otak untuk tidak bereaksi spontan, puasa membantu memperkuat regulasi emosi, meningkatkan kontrol diri, serta mendukung kesehatan mental dan hubungan sosial yang lebih harmonis.

Psikiater Bidang Pengabdian Masyarakat PP-PDSKJI, dr Lahargo Kembaren, SpKJ, menjelaskan bahwa puasa merupakan latihan pengendalian diri yang berpengaruh pada kestabilan emosi.

Dalam keterangan yang diterima Kompas.com pada Kamis (19/2/2025), ia menyampaikan bahwa kebiasaan menahan lapar dan berbagai dorongan selama puasa melatih otak agar tidak bereaksi secara spontan.

Regulasi emosi adalah kemampuan untuk mengelola perasaan dengan baik tanpa kehilangan kendali.

Setiap orang bisa merasa marah, kecewa, cemas, atau lelah.

Baca juga: Iran Borong Rudal dan Ribuan Peluru Kendali dari Rusia, Siap Hadapi Serangan AS

Masalah muncul ketika emosi tersebut langsung dilampiaskan tanpa dipikirkan terlebih dahulu.

Puasa mengajarkan seseorang untuk menahan dorongan, termasuk dorongan emosional.

Rasa lapar dan tidak nyaman tetap dirasakan, tetapi tidak langsung dituruti. Proses inilah yang melatih pengendalian diri secara bertahap.

“Puasa melatih hati untuk merespons dengan sadar, bukan sekadar bereaksi,” ujar dr Lahargo.

Lahargo menjelaskan bahwa kemampuan menahan dorongan berkaitan dengan bagian otak yang disebut prefrontal cortex.

Bagian otak ini berfungsi sebagai pengendali atau “rem” emosi.

Baca juga: VIDEO Trump Siap Luncurkan Serangan Terbatas ke Iran Pekan Ini, Markas IRGC Jadi Target

Ketika seseorang menahan diri, bagian otak tersebut bekerja lebih aktif. Kondisi ini membantu seseorang berpikir lebih dulu sebelum bertindak.

Reaksi yang biasanya spontan menjadi lebih terkontrol dan terarah.

Latihan ini tidak hanya berlaku saat menahan lapar, tetapi juga saat menghadapi konflik atau situasi yang memancing emosi.

Sumber: Kompas.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved