Jumat, 8 Mei 2026

Banjir Landa Aceh

Cerita 2 Asesor, Terjebak Longsor 4 Hari di Jalur Takengon–Bireuen hingga Jalan Kaki 37 Km

Keduanya terjebak longsor di Dusun Mina, Desa Krueng Simpo, Kecamatan Juli, Kabupaten Bireuen.

Tayang:
Penulis: Indra Wijaya | Editor: Nur Nihayati
Serambinews.com/HO/serambinews
BERJALAN KAKI - Rombongan dua asesor akreditasi dan masyarakat berjalan kaki melintasi jalur Takengon-Bireuen. Foto: Dok Fadhillah. 

Keduanya terjebak longsor di Dusun Mina, Desa Krueng Simpo, Kecamatan Juli, Kabupaten Bireuen. 

Laporan Wartawan Serambi Indonesia Indra Wijaya | Banda Aceh

SERAMBINEWS.COM, BANDA ACEH - Dua asesor akreditasi BAN PDM Provinsi Aceh, Fadhillah dan Cut Novayanti, mengalami peristiwa dramatis saat perjalanan pulang dari penugasan akreditasi di Gayo Lues. 

Keduanya terjebak longsor selama empat hari di jalur Takengon–Bireuen hingga harus berjalan kaki puluhan kilometer serta mengungsi di beberapa lokasi sebelum akhirnya tiba kembali di Banda Aceh dengan selamat.

Fadhillah kepada Serambinews.com menceritakan bahwa peristiwa itu terjadi pada Selasa malam menjelang Rabu, 26 November 2025 sekitar pukul 03.00 WIB.

Keduanya terjebak longsor di Dusun Mina, Desa Krueng Simpo, Kecamatan Juli, Kabupaten Bireuen. 

JEMBATAN PUTUS - Kondisi jembatan teupin mane yang putus di ujung jalan, air naik ke ruas jalan hingga banyak sampah yg tersangkut. Foto: Dok Fadillah.
JEMBATAN PUTUS - Kondisi jembatan teupin mane yang putus di ujung jalan, air naik ke ruas jalan hingga banyak sampah yg tersangkut. Foto: Dok Fadillah. (Serambinews.com/HO/serambinews)

Dimana jalur di depan tertutup total oleh amblasnya jalan longsor, sementara jalan kembali menuju Takengon juga tak dapat dilalui akibat longsor susulan dan pohon tumbang. 

Kondisi tersebut membuat mereka benar-benar terisolasi.

“Hujan deras tidak berhenti, jalan tertutup di kedua arah. Kami tidak bisa bergerak ke mana-mana,” kata Fadhillah, Sabtu (29/11/2025).

Mereka terpaksa menginap dua malam di Meunasah Dusun Mina bersama beberapa rombongan lainnya yang juga terdampak. 

Situasi semakin sulit karena warga kehabisan bahan makanan dan sulit menemukan kios yang masih beroperasi.

Pada Kamis pagi, rombongan memutuskan untuk berjalan kaki menuju arah Bireuen. 

Mereka menempuh lebih dari tiga jam perjalanan melewati sedikitnya sepuluh titik longsor hingga tiba di Jembatan Teupin Mane yang terputus selebar sekitar 60 meter. 

Sejumlah rumah warga di kawasan tersebut dilaporkan hanyut terbawa arus.

Malam harinya, kedua asesor kembali bermalam di Meunasah Teupin Mane bersama para pengungsi yang kehilangan tempat tinggal akibat banjir dan longsor.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved