Kamis, 23 April 2026

Banjir Landa Aceh

Bener Meriah Masih Terisolir, Ratusan Perantau Padati Bandara Rembele

“Sudah beberapa hari kami mendengar suara pesawat yang mondar-mandir jadi kami berharap bisa pulang ke rumah orang tua dengan menumpang...

Editor: Nurul Hayati
Serambinews.com/Dokumen: Bustami
Suasana warga mengantri di Bandara Rembele Bener Meriah, Kamis (4/12/2025). 

Ringkasan Berita:
  • Kamis (4/12/2025), ratusan masyarakat dan perantau di Kabupaten Bener Meriah memadati Bandara Rembele untuk melarikan diri dari ancaman kelaparan pascabanjir bandang dan longsor.
  • Terlihat banyak lansia, anak-anak, dan bayi berharap bisa dievakuasi ke luar daerah.
  • Para perantau hanya membawa pakaian seadanya, tampak lesu dan penuh kesedihan.
  • Persediaan logistik dan perlengkapan bayi sangat menipis dan hampir habis.
  • Warga mengeluhkan pasar dan warung tutup, sementara bantuan belum sampai.

Laporan Bustami I Bener Meriah 

SERRAMBINEWS.COM, REDELONG - Ratusan masyarakat dan perantau di Kabupaten Bener Meriah padati Bandara Rembele, guna melarikan diri dari ancaman kelaparan imbas dari bencana alam banjir bandang dan longsor.

Berdasarkan pantauan di lapangan, Kamis (4/12/2025), dari ratusan masyarakat tersebut terlihat sejumlah lansia, anak-anak hingga bayi yang mengharapkan untuk dievakuasi ke luar dari daerah tersebut.

Tidak hanya itu, para perantau yang hanya membawa baju yang melekat di badan juga tampak lesu dengan raut wajah yang menunjukkan kesedihan dengan harapan besar dapat pulang kampung segera.

Diana, satu di antara warga yang menunggu adanya pesawat untuk membawanya terbang ke Kota Medan mengatakan bahwa saat ini ancaman kelaparan sudah di depan mata.

Diana yang juga memiliki bayi berusia 9 bulan menuturkan, saat ini persediaan logistik hingga perlengkapan bayi sangat menipis dan hampir habis.

“Kami tidak tau kegentingan ini berakhir sampai kapan, kami tidak tau upaya apa yang saat ini Pemerintah siapkan. Sedangkan perlengkapan bayi hingga logistik kami menipis,” ujarnya.

Suara pesawat herkules yang terdengar setiap harinya, membuat Diana berharap untuk dapat pulang kampung ke kediaman orang tuanya dengan segera.

“Sudah beberapa hari kami mendengar suara pesawat yang mondar-mandir jadi kami berharap bisa pulang ke rumah orang tua dengan menumpang pesawat hercules,” paparnya.

Baca juga: Usai Dipasok Pertamina Patra Niaga Melalui Udara, Pemkab Bener Meriah Distribusi BBM, Sekejap Ludes

Dijumpai terpisah, seorang ibu dengan dua orang anak yaitu Shinta juga mengatakan hal serupa.

Kegentingan dan suasana yang mencekam mendorongnya untuk melarikan diri dengan segera.

“Anak saya sudah makan pakai kecap saja karna kami mengirit persediaan yang ada, makanan bayi instan kami punya juga sudah menipis,” katanya.

Kekhawatiran bukan untuk dirinya, melainkan untuk kedua putrinya yang masih membutuhkan banyak nutrisi.

“Belum lagi penyakit seperti diare, gatal-gatal yang bisa saja menjangkit anak kami,” paparnya.

Katanya, logistik yang ada saat ini di rumahnya merupakan sisa logistik yang dibelinya sebelum terjadinya bencana alam yang menimpa bumi Aceh, termasuk Kabupaten Bener Meriah.

Market sudah tutup warung juga tutup jadi kemana kami membeli, sedangkan bantuan belum ada yang sampai,” pungkasnya.(*)

 

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved