Banjir Landa Aceh
Banyak Tambak di Bireuen Beralih Fungsi
Sejak enam bulan terakhir pascabanjir bandang dan longsor, belasan hektare tambak udang/ikan di sejumlah gampong di Kecamatan Jangka
Ringkasan Berita:
- Sejak enam bulan terakhir pascabanjir bandang dan longsor, belasan hektare tambak udang/ikan di sejumlah gampong di Kecamatan Jangka, Bireuen, sudah beralih fungsi
- Areal tambak yang mulai dialihkan menjadi areal persawahan diantaranya di Gampong Alue Bayeu Utang, Alue Kuta, Kuala Ceurape, dan juga di Ulee Ceu
- Program normalisasi pemerintah belum berjalan, maka ia bersama warga lainnya menanam padi walaupun hasilnya belum maksimal
SERAMBNEWS.COM, BIREUEN – Sejak enam bulan terakhir pascabanjir bandang dan longsor, belasan hektare tambak udang/ikan di sejumlah gampong di Kecamatan Jangka, Bireuen, sudah beralih fungsi. Di mana kini menjadi areal sawah dan sudah ditanami padi.
Penyuluh Perikanan Dinas Pangan, Kelautan dan Perikanan Bireuen, Fandi Sulasa kepada Serambi, Selasa (9/6/2026), mengatakan, hasil kunjungan di lapangan diakuinya ada tambak yang sudah dialihfungsikan menjadi areal sawah. Hal itu terjadi setelah dibersihkan menjadi areal persawahan.
Fandi menyebutkan, areal tambak yang mulai dialihkan menjadi areal persawahan diantaranya di Gampong Alue Bayeu Utang, Alue Kuta, Kuala Ceurape, dan juga di Ulee Ceu. “Kalau di Alue Bayeu Utang, Kuala Ceurape, dan Alue Kuta sudah terlihat jelas dan informasi dari keuchik. Sementara di Ulee Ceu belum sempat ditanyakan pada keuchik berapa luasnya,” ujarnya.
Ia mengakui, sebagian besar areal sawah baru itu dulunya tambak udang. Kemudian, dipenuhi endapan lumpur banjir saat bencana alam akhir November. Kini, sebagian dialihkan menjadi sawah.
“Ada yang sudah panen. Lalu, sedang menunggu panen dan ada juga yang baru menabur benih. Kondisinya bervariasi tergantung ketersediaan air di dekat areal tersebut,” ujarnya.
Menjawab Serambi penyebab warga mengalihkan fungsi menjadi persawahan, Fandi menyebutkan, areal tambak di sejumlah gampong saat banjir dipenuhi endapan lumpur. Di sisi lain, proses penanganan mandiri normalisasi tambak tidak sanggup dilakukan dan masyarakat masih menunggu perhatian pemerintah untuk perbaikan tambak.
Namun, karena desakan berbagai kondisi dan proses normalisasi cukup lama dan sudah mencapai 8 bulan lebih belum terlaksana, sehingga petambak mencoba inovasi dari kegiatan budidaya ikan ke budidaya padi di dalam tambak.
“Di Gampong Alue Bayeu Utang merupakan lokasi perdana tambak beralih fungsi. Luas tambak yang sudah beralih fungsi di beberapa desa mencapai 5 hektare lebih, dan kini akan terus diperluas,” ujarnya.
Diperkirakan, katanya, luas tambak yang kemungkinan beralih fungsi menjadi areal persawahan mencapai 50 hektare. Di mana tersebar di Alue Bayeu Utang, Alue Kuta, Kuala Ceurape dan Ulee Ceu. “Sebagian terlihat sudah dibersihkan untuk menjadi lahan sawah,” ujarnya.
Fandi mengaku sudah melakukan koordinasi dengan pelaku usaha setempat. Ternyata, sejauh ini mereka mengaku lebih nyaman budidaya padi di areal tambak. Karena, untuk mengembalikan tambak seperti semula tentu saja membutuhkan biaya besar dan waktu lama.
Kini, warga Jangka berharap adanya perhatian pemerintah membantu dari sisi sarana dan prasarana untuk tanaman padi. Kegiatan alih fungsi belum memadai karena banyak saluran pascabanjir masih tersumbat, penuh lumpur dan dibutuhkan sarana mengalirkan air ke tambak.
Fandi selaku penyuluh berharap dukungan dari dinas terkait, supaya pembinaan kepada mereka yang mulai bangkit dari pascabanjir dapat meningkatkan ekonominya.(yus)
Karena Ekonomi Susah
udabalia, warga Alue Bayeu Utang yang sedang menjaga padi dari serangan burung pipit mengatakan, saat banjir sekitar 2 hektare lebih tambaknya dipenuhi endapan lumpur tebal.
Dua bulan usai banjir melihat tambak perlu normalisasi sepenuhnya dan butuh biaya besar, namun tidak ada biaya, ia berinisiatif menanam padi. “Melihat tambak penuh lumpur, saya pergi ke Kutablang untuk beli benih dan langsung disemai. Beberapa hari kemudian mulai saya tanam, kini banyak warga lainnya mulai menanam padi,” ujarnya.
Ia mengaku, sebagian padi sudah panen. Namun, hasilnya kurang menggembirakan kemungkinan perawatan kurang dan sebagian tidak diberi pupuk karena di bagian tengah tambak tanah masih berlumpur tebal, dan sulit dijangkau.
Banjir Landa Aceh
Banyak Tambak di Bireuen Beralih Fungsi
tambak jadi sawah
tanam padi di tambak
Normalisasi Tambak
tambak terdampak banjir
kerusakan tambak
teknisi tambak
Penyebab tambak tak produktif
Serambi Indonesia
Serambinews.com
Serambinews
| Soal Penanganan Bencana Aceh, Mualem: Aduh, Bandum Butuh Penanganan |
|
|---|
| Sawah Rusak Berat di Pidie Butuh Penanganan Segera |
|
|---|
| UMKM Korban Bencana Dapat Rp 3 Juta, Prabowo Siapkan Banpres Rp 1,2 Triliun |
|
|---|
| Sawah Terdampak Banjir Sedang Dinormalisasi, Ini Harapan Kadistanbun Bireuen |
|
|---|
| Puluhan Huntara Penyintas Banjir di Aceh Utara Porak-Poranda Diterpa Angin Kencang |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Areal-tambak-di-Desa-Alue-Bayeu-Utang-sudah-beralih-fungsi-menjadi-areal-persawahan.jpg)