Rabu, 3 Juni 2026

Kesaksian Korban Banjir

Kisah Nyata Penyintas Banjir Aceh, Bertahan di Atap, Doa Malam Jumat, dan Pertolongan tak Terduga

Orang-orang hanya bisa berteriak histeris dan menangis, tak mampu berbuat apa-apa, berharap puluhan helikopter TNI dan Polri.

Tayang:
Editor: Ansari Hasyim
SERAMBINEWS.COM/HO
Sahal Muhammad AR, Penyuluh Agama Islam Aceh Tamiang. 

Oleh: Sahal Muhammad AR, Penyuluh Agama Islam Aceh Tamiang

PADA Rabu dini hari, 26 November 2025, sekitar pukul 03.00 WIB, badai angin menghantam Aceh Tamiang. 

Akibatnya, terjadi pemadaman listrik sesaat dan beberapa pohon tumbang di sejumlah lokasi, termasuk di Tualang Cut, jalan lintas Sumatera.

Badai ini kemudian disusul hujan yang sangat deras, yang telah mengguyur sejak Selasa dan berlanjut hingga siang hari Rabu. 

Kondisi ini menyebabkan beberapa kawasan seperti Seruway, Sekerak, dan Bukit Rata mulai terendam, memaksa warganya mengungsi ke rumah-rumah kerabat.

Menjelang malam, setelah Isya, sekitar pukul 21.00, air mulai memasuki Kampung Dalam, daerah tempat tinggal kami. 

Padahal, menurut penuturan warga setempat, kampung ini belum pernah terendam air bahkan saat banjir besar sekalipun.

Baca juga: Kisah Pilu Rizqi Korban Banjir Aceh Tamiang, 3 Hari 3 Malam Bertahan di Atap Rumah, Tak Ada Makanan

Namun, kami menyaksikan sebuah keanehan: meskipun ketinggian air baru sebatas betis orang dewasa, arusnya sangatlah deras, ini menunjukkan air datang dari luapan sungai dari atas gunung bukan tergenang.

Sekitar pukul 21.47, air akhirnya masuk ke dalam rumah kami. Saya dan keluarga paman segera naik ke lantai 2 untuk menyelamatkan diri. 

Kami tidak sempat membawa banyak barang, seperti makanan, pakaian, dan obat-obatan, karena kami memperkirakan air hanya akan naik setinggi lutut atau sepinggang.

Namun, Allah berkehendak lain. Listrik padam dan ketinggian air terus meningkat drastis, mencapai 1,5 meter pada Kamis, 27 November. 

Pada pagi hari Kamis itu, melihat kondisi air yang semakin tinggi, kami mencoba turun ke lantai dasar untuk mengambil beberapa makanan yang masih terselamatkan di dapur, serta gas dan kompor agar bisa memasak.

Saat itu, sinyal ponsel masih hilang timbul, dan menjelang siang, sinyal hilang total. Air terus naik dengan gelombang yang semakin besar. 

Di depan rumah, kami juga melihat beberapa narapidana yang dilepas berjalan perlahan melewati genangan air setinggi leher orang dewasa, mencari tempat berlindung.

Namun, banyak yang menolak mereka karena statusnya sebagai narapidana, dan beberapa rumah juga sudah sangat sesak di lantai duanya, seperti rumah kami yang berukuran 3x3 meter menampung 7 orang (termasuk 1 balita), dan rumah tetangga kami yang menampung 30 orang. 

Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved