Senin, 4 Mei 2026

Banjir Landa Aceh

Kisah Keluarga di Aceh Timur, Terjebak Banjir Bandang dan Bertahan Hidup dengan Makanan Hanyut

"Saat itu saya hanya berpikir bagaiamana anak-anak dan istri saya harus tetap hidup, saya melihat ada kerupuk-kerupuk hanyut bersamaan dengan...

Tayang:
Penulis: Maulidi Alfata | Editor: Nurul Hayati
Serambinews.com/ Maulidi Alfata
Jahidin warga Dusun Rantau Panjang, Desa Sijudo, Kecamatan Pante Bidari, Kabupaten Aceh Timur, ia merupakan korban banjir bandang yang bertahan hidup selama tiga hari-tiga malam, Senin (15/12/2025). 

Ia menyeberangi sungai dengan sampan kecil dan kemudian berjalan kaki ke Lubok Pusaka bersama istrinya dengan menggendong dua putri kecilnya.

Mereka menempuh perjalanan yang ditutupi lumpur setinggi 60 centi meter, sampai kaki anaknya sempat terluka, akibat benda tajam dari dalam lumpur.

"Kami berjalan dalam lumpur yang tebal, sampai kaki anak saya luka, kemudian saya gendong satu istri saya gendong satu, karena desa ini berbatasan langsung dengan Aceh Utara, kami menyeberangi desa untuk minta bantuan, meskipun kami tau Aceh Utara juga diterjang banjir, tapi kami tetap usaha agar anak kami tidak lapar dan bisa sembuh," tuturnya.

Beruntungnya perjuangan Jahidin tak sia-sia.

Ia mendapatkan obat darurat untuk anaknya di tenda darurat untuk kesehatan Lubuk Pusaka.

Obat tersebut kemudian yang mengobati anaknya dan bisa terus bertahan hidup.

Pria 37 tahun itu mengingat kembali, kapan pertama kami air merendam rumahnya dalam wawancaranya kepada wartawan Serambinews.com (Serambi Indonesia), Maulidi Alfata, pada Jumat (12/12/2025).

Ia menjelaskan, air masuk ke rumahnya dan rumah warga pada Rabu 26 November 2025 sekitar pukul 04.00 WIB.

Saat itu ia dibangunkan oleh istrinya.

"Saya dibangunin okeh istri saya, pak-pak air sudah masuk ke dalam rumah, lalu saya bangun dan melihat air sudah setinggi lutut," tuturnya

Saat melihat kondisi tersebut, Jahidin dan istri langsung teringat kepada sang buah hati.

Bergegas, ia bersama istri menggendong kedua putri kecilnya untuk lari dari genangan air. 

Karena arus semakin deras, Jahidin terpaksa menggunakan sampan untuk bisa ke luar dari titik banjir bandang itu.

Usai bertahan hidup di dalam banjir, hari kelima baru aparat desa dari dusun sebelah bisa menerobos ke dusun Rantau Panjang dan mengevakuasi Jahidin dan keluarga.

Banjir yang menerjang dua desa di Pante Bidari yaitu, Sijudo dan Sahraja, menimbulkan kerusakan parah, ratusan rumah warga, gedung fasilitas umum seperti masjid dan sekolah hancur total di desa tersebut.

Perkampungan yang awalnya ramai dan padat, kini hanya tersisa reruntuhan dan tanah berlumpur akibat disapu bersih oleh banjir setinggi 8 meter.(*)

 

 

 

 

 

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved