Minggu, 31 Mei 2026

Banjir Landa Aceh

Mualem Akui Tantangan Pemulihan Sangat Besar ‘Berat Hati Saya Melihat Ini’

“Berat hati saya melihat rakyat seperti ini. Banyak yang kehilangan rumah, tanah, dan masa depan dalam sekejap,” MUZAKIR MANAF

Tayang:
Editor: mufti
COVER KORAN SERAMBI INDONESIA/KORAN SERAMBI INDONESIA
HEADLINE SERAMBI INDONESIA EDISI SENIN 20251222 

Ringkasan Berita:
  • Mualem tak kuasa menyembunyikan keprihatinannya menyaksikan langsung dampak bencana banjir bandang dan longsor
  • Berat hati saya melihat rakyat seperti ini. Banyak yang kehilangan rumah, tanah, dan masa depan dalam sekejap,” ujar Mualem
  • Mualem menegaskan pemerintah akan menurunkan alat berat untuk melakkan normalisasi lahan.
  • Mualem juga melepas sepuluh mobil offroad yang membawa bantuan bahan pokok ke daerah terisolasi di Kecamatan Pining

“Berat hati saya melihat rakyat seperti ini. Banyak yang kehilangan rumah, tanah, dan masa depan dalam sekejap,” MUZAKIR MANAF, Gubernur Aceh

SERAMBINEWS.COM, BLANGKEJEREN - Gubernur Aceh, Muzakir Manaf atau Mualem tak kuasa menyembunyikan keprihatinannya menyaksikan langsung dampak bencana banjir bandang dan longsor yang meluluhlantakkan sejumlah kabupaten di Aceh dalam beberapa pekan terakhir.

Kunjungan Mualem ke berbagai titik terdampak mulai dari Aceh Tenggara, Aceh Selatan, hingga Gayo Lues memperlihatkan betapa luas dan beratnya kerusakan yang terjadi. Di Gayo Lues, tepatnya di Desa Rerebe, Kecamatan Dabun Gelang, ia melihat barisan rumah yang tinggal rangka, sawah tertimbun lumpur, dan akses jalan yang hilang diseret arus.

“Berat hati saya melihat rakyat seperti ini. Banyak yang kehilangan rumah, tanah, dan masa depan dalam sekejap,” ujar Mualem saat meninjau Desa Rerebe, Sabtu (20/12/2025).

Mualem menegaskan bahwa Aceh masih berada dalam masa kritis. Pemulihan membutuhkan waktu panjang, anggaran besar, dan koordinasi kuat dari pemerintah daerah hingga pusat. Salah satu tantangan terbesar adalah kebutuhan hunian tetap (huntap) yang mencapai puluhan ribu unit. 

Pemerintah Pusat merencanakan pembangunan 1.000 unit huntap untuk Aceh, namun angka ini dinilai jauh dari cukup. “Kalau hanya 1.000 unit, itu baru untuk tahap awal. Padahal yang terdampak diperkirakan lebih dari 100 ribu rumah di seluruh Aceh. Rumah-rumah ini bukan rusak ringan, tapi hilang total,” tegasnya.

Selain hunian, banyak jembatan, jalan nasional, irigasi, dan fasilitas publik yang masih lumpuh. Di Gayo Lues, jalur Blangkejeren-Aceh Tenggara sempat terputus total lebih dari sepekan, memutus distribusi kebutuhan pokok masyarakat.

Saat melakukan peninjauan, beberapa kali Mualem terlihat berhenti lama di titik-titik yang rusak berat. Para pekerja di lapangan menyebut ia sempat meminta semua aparat daerah dan relawan tidak mengendurkan semangat.

“Rakyat menjerit, jangan biarkan mereka menunggu. Kita harus berdiri paling depan, bukan paling belakang,” katanya kepada jajaran Pemkab Gayo Lues.

Di Aceh Tenggara, sejumlah warga yang kehilangan keluarga memeluk Mualem sambil menangis. Ia tampak berkali-kali menepuk bahu warga, berusaha menenangkan kondisi yang penuh duka.

Prioritas Lahan Pertanian

Aceh sebagai wilayah agraris mengalami pukulan keras. Ribuan hektare sawah tertutup lumpur dan pasir. Di Gayo Lues, sektor pertanian kopi dan padi menjadi yang paling terdampak. Mualem menegaskan pemerintah akan menurunkan alat berat untuk melakkan normalisasi lahan.

“Kalau sawah tidak cepat ditangani, rakyat tidak bisa makan. Kita harus selamatkan dulu itu, supaya ekonomi keluarga kembali bergerak,” ucapnya.

Salah satu masalah paling dirasakan masyarakat adalah pemadaman listrik berkepanjangan akibat jaringan rusak. Mualem menginstruksikan PLN mempercepat normalisasi listrik, tidak hanya di Gayo Lues, tetapi seluruh wilayah Aceh yang terdampak.

“Listrik ini kebutuhan dasar. Pemulihan harus cepat, apalagi banyak posko dan dapur umum yang bergantung pada penerangan,” tegasnya.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved