Senin, 11 Mei 2026

Pojok Humam Hamid

Bantuan Internasional Non-Negara dan Bencana: Akankah Pemerintah “Ikhlas”?

Bantuan pangan, obat-obatan, perlengkapan darurat, hingga dukungan psikososial dapat tiba lebih cepat karena digerakkan.

Tayang:
Editor: Ansari Hasyim
SERAMBINEWS.COM/HANDOVER
Prof. Dr. Ahmad Humam Hamid, MA, Sosiolog dan Guru Besar Universitas Syiah Kuala Banda Aceh. 

Oleh: Ahmad Humam Hamid*)

INDONESIA telah lama dikenal sebagai salah satu wilayah paling rawan bencana alam di dunia.

Gempa bumi, tsunami, banjir, dan longsor hadir berulang kali, meninggalkan kerusakan luas sekaligus menguji daya tahan sosial masyarakatnya.

Namun, setiap kali bencana melanda Sumatera, Jawa, Bali, NTB, Papua, dan wilayah Indonesia lainnya, sering muncul satu pola yang konsisten: kepedulian warga dunia.

Dari NGO internasional, yayasan kemanusiaan, hingga individu lintas negara, bantuan mengalir bukan atas nama negara atau diplomasi formal, melainkan melalui jalur bantuan non-negara yang semakin menonjol, dikenal sebagai “people to people.”

Fenomena bantuan internasional non-negara ini lahir dari kesadaran bahwa bencana tidak mengenal batas politik, administrasi, atau identitas nasional.

Jusuf Kalla dan Aceh: Tsunami II, Negara yang Lamban, dan Ilusi Kedaulatan

Ketika gempa mengguncang Aceh atau banjir menenggelamkan wilayah Nusantara lainnya, kebutuhan utama masyarakat terdampak adalah tindakan cepat, konkret, dan relevan.

Dalam konteks inilah jalur “people to people” menunjukkan keunggulannya.

Bantuan pangan, obat-obatan, perlengkapan darurat, hingga dukungan psikososial dapat tiba lebih cepat karena digerakkan oleh solidaritas, bukan menunggu ritme birokrasi antarnegara.

Solidaritas global dapat bergerak cepat

Kecepatan dan fleksibilitas menjadi kekuatan utama pendekatan ini.

NGO internasional dan individu yang terhubung melalui jejaring global dapat segera merespons begitu informasi bencana menyebar.

Pejabat Negara dan Refleksi “Sense of Humanity” Senyar25: Kepala BNPB dan Mendagri

Bantuan dapat disesuaikan dengan kebutuhan aktual di lapangan - selimut, tenda darurat, makanan siap saji, perlengkapan sekolah, bahkan alat produksi sederhana bagi masyarakat terdampak.

Fleksibilitas ini krusial karena setiap bencana menghadirkan kebutuhan yang berbeda dan berubah dengan cepat.

Dalam praktiknya, bantuan internasional non-negara bukanlah bantuan tanpa sistem. Jalur ini justru bekerja melalui kemitraan erat dengan komunitas lokal dan organisasi masyarakat sipil.

Koordinasi dilakukan untuk memetakan kebutuhan riil, menentukan jalur distribusi, serta memastikan bantuan tepat sasaran.

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved