Opini
Pemimpin Menyesatkan, Lebih Bahaya dari Dajjal
Bahaya Dajjal, sehebat apa pun, bersifat eksplisit dan mudah diidentifikasi oleh orang beriman yang kokoh ilmunya. Sedangkan bahaya pemimpin
Oleh: Apridar*)
DALAM wacana eskatologi Islam, figur Dajjal seringkali mendominasi diskusi tentang akhir zaman. Sosok ini digambarkan dalam berbagai hadis sebagai ujian terbesar umat manusia, dengan kekuatan supranatural yang mampu mempertontonkan keajaiban palsu, bahkan menghidupkan orang mati.
Namun, ada sebuah perspektif mendalam yang justru menempatkan bahaya lain di tingkat yang lebih mengkhawatirkan.
Rasulullah SAW dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, bersabda: "Allah SWT tidaklah mengangkat ilmu dengan mencabutnya dari diri manusia, tetapi ilmu diangkat dengan cara mewafatkan para ulama sehingga tidak ada seorang ulama pun, lalu manusia mengangkat pemimpin dari kalangan orang-orang bodoh.
Jika mereka ditanya (tentang suatu urusan), mereka menjawab tanpa ilmu, akhirnya mereka sesat dan menyesatkan."
Sabda Nabi ini bukan hanya peringatan, tetapi sebuah diagnosis sosial-politik yang akurat. Ia menunjuk pada sebuah fenomena di mana kualitas kepemimpinan merosot drastis, digantikan oleh kepemimpinan yang digerakkan oleh kebodohan, bukan ilmu.
Baca juga: Binasanya Kaum yang Merongrong Syariat: Pelajaran Abadi dari Tanah Rencong
Dalam konteks inilah, pernyataan bahwa "pemimpin yang menyesatkan umatnya lebih berbahaya dari Dajjal" menemukan pijakan rasional dan teologisnya.
Bahaya Dajjal, sehebat apa pun, bersifat eksplisit dan mudah diidentifikasi oleh orang beriman yang kokoh ilmunya.
Sedangkan bahaya pemimpin yang menyesatkan bersifat sistemik, subtil, dan justru bekerja dalam struktur kekuasaan yang sah.
Dajjal: Musuh yang Terlihat Jelas
Mari kita bedah terlebih dahulu ancaman Dajjal. Ciri-cirinya telah jelas dijelaskan dalam hadis: mata buta sebelah, tulisan "kafir" di dahinya yang hanya bisa dibaca oleh orang beriman, dan ditemani oleh sungai api dan surga. Ia adalah personifikasi dari kebatilan yang nyata.
Fitnahnya besar, tetapi ia datang sebagai entitas asing, sebagai "musuh dari luar" yang dengan jelas berseberangan dengan nilai-nilai ketauhidan.
Seorang muslim yang berpegang teguh pada ajaran agamanya diharapkan dapat mengenali dan menolak tipu dayanya. Dajjal adalah ujian final yang memisahkan iman dan kemunafikan dengan garis yang tegas.
Pemimpin yang Menyesatkan: Kanker dalam Tubuh Umat
Lalu, bagaimana dengan pemimpin yang menyesatkan? Ia adalah "musuh dari dalam." Bahayanya justru terletak pada kemampuannya menyusup ke dalam sistem dan dianggap sah oleh masyarakat.
Hadis Nabi yang dikutip di awal dengan tegas menggambarkan siklusnya: kematian para ulama (pemegang otoritas ilmu) dimana vakum kepemimpinan, kemudian munculnya pemimpin bodoh, dimana kebijakan dan ucapan tanpa landasan ilmu, hasilnya kesesatan yang massal.
Proses ini bukan metafora. Kita dapat menyaksikan manifestasinya dalam dunia kontemporer:
Pertama Kebijakan yang Anti-Ilmu Pengetahuan. Seorang pemimpin yang menyesatkan akan mengabaikan data, riset, dan konsensus ilmiah demi kepentingan politik sesaat atau keyakinan pribadi yang keliru.
Dalam konteks pandemi Covid-19, kita menyaksikan pemimpin di berbagai belahan dunia yang meremehkan virus, mendukung pengobatan yang tidak teruji, dan menolak protokol kesehatan berbasis sains.
Akibatnya, bukan hanya nyawa yang melayang, tetapi juga kepercayaan publik pada institusi sains menjadi terkikis. Ini adalah bentuk "kesesatan" modern yang berbalut kebijakan publik.
Kedua Narasi Populis yang Memecah Belah. Pemimpin seperti ini seringkali berbicara tanpa dasar ilmu, tetapi penuh retorika yang membangkitkan emosi dan prasangka.
Mereka menciptakan musuh bersama (baik dari dalam maupun luar negeri) untuk menyatukan basis pendukungnya. Narasi kebencian, sentimen SARA, dan teori konspirasi menjadi senjata andalan.
Data dari Lembaga surveilans seperti Setara Institute atau Indonesian Police Watch sering mencatat peningkatan ujaran kebencian dan intoleransi yang justru difasilitasi atau diabaikan oleh pemimpin. Ucapan tanpa ilmu itu tidak hanya menyesatkan persepsi publik, tetapi juga merobek sosial fabric bangsa.
Ketiga Korupsi dan Penyia-nyiaan Amanah. Hadis lain dari Bukhari melengkapi gambaran ini: "Apabila amanah (kepercayaan) sudah disia-siakan maka tunggulah datangnya hari kiamat."
Ditanyakan, "Bagaimana menyia-nyiakannya?" Beliau bersabda, "Apabila suatu urusan diserakan kepada yang bukan ahlinya (bidangnya) maka tunggulah datangnya hari kiamat."
Penunjukan pejabat berdasarkan loyalitas politik, kedekatan keluarga, atau transaksi balas jasa, tidak berdasarkan kompetensi dan integritas, adalah bentuk nyata "menyerahkan urusan kepada yang bukan ahlinya."
Korupsi yang masif, seperti yang terus diungkap oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), adalah puncak dari penyia-nyiaan amanah.
Kebijakan yang lahir dari sistem yang korup pada hakikatnya adalah kebijakan yang menyesatkan, karena ia mengalihkan sumber daya publik untuk kepentingan segelintir orang, bukannya untuk kemaslahatan rakyat.
Mengapa Lebih Berbahaya dari Dajjal?
Perbandingan ini menjadi jelas ketika kita melihat mekanisme kerjanya. (a) Dajjal menyesatkan dengan keajaiban palsu; Pemimpin menyesatkan dengan kebijakan dan wewenang nyata. Seorang Dajjal perlu "menipu" mata dengan sihir.
Seorang pemimpin yang bodoh dan jahat cukup mengeluarkan peraturan, instruksi, atau keputusan yang secara struktural memaksa rakyatnya untuk mengikuti jalur yang salah.
Seorang Dajjal tidak bisa memaksa Anda membayar pajak untuk proyek yang tidak jelas; seorang pemimpin yang korup bisa.
(b) Dajjal mudah dikenali; Pemimpin menyesatkan justru sering dikultuskan. Identitas Dajjal sebagai musuh sudah jelas. Sebaliknya, pemimpin yang menyesatkan seringkali dibungkus dengan citra religiusitas, nasionalisme, atau narasi penyelamat.
Pengkultusan ini membuat kritik menjadi tabu dan kesalahan mereka sulit untuk dikoreksi. Pengikutnya akan membela mati-matian kebijakan yang jelas-jelas merugikan mereka sendiri sebuah fenomena yang dalam psikologi sosial dikenal sebagai "cognitive dissonance."
(c) Dajjal merusak dari luar; Pemimpin menyesatkan merusak dari dalam fondasi masyarakat. Kerusakan yang dibawa Dajjal bersifat fisik dan spiritual individual. Sedangkan pemimpin yang menyesatkan merusak sistem hukum, pendidikan, ekonomi, dan sosial.
Ia mengikis kepercayaan, menghancurkan tatanan, dan melemahkan bangsa dari dalam untuk jangka panjang. Sebuah negara bisa selamat dari serangan luar, tetapi sulit bangkit dari kerusakan sistemik yang dilakukan oleh pemimpinnya sendiri.
Menjaga Ilmu dan Amanah
Oleh karena itu, peringatan Nabi ini bukanlah ramalan pasif, melainkan seruan untuk bertindak. Menghadapi Dajjal, kita diajarkan untuk membaca sepuluh ayat awal Surah Al-Kahfi. Menghadapi pemimpin yang menyesatkan, "immunisasi"-nya adalah dengan menjaga dan menghidupkan tradisi ilmu serta amanah.
Masyarakat harus dididik untuk kritis dan memilih pemimpin berdasarkan track record kompetensi dan integritas, bukan sekadar retorika.
Para ulama dan cendekiawan (sebagai pewaris Nabi) harus tetap vokal menyuarakan kebenaran berdasarkan ilmu, mengkritik kebijakan yang salah, dan tidak membiarkan ruang publik dikuasai oleh "orang-orang bodoh."
Sementara itu, sistem checks and balances harus diperkuat untuk memastikan bahwa setiap urusan diserahkan kepada ahlinya.
*) PENULIS adalah guru Besar Ilmu Ekonomi dan Ketua Dewan Pakar ICMI Orwil Aceh.
Isi artikel ini menjadi tanggung jawab penulis.
Email: apridar@usk.ac.id
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/apridarrr.jpg)