Senin, 20 April 2026

Opini

Pemimpin Menyesatkan, Lebih Bahaya dari Dajjal

Bahaya Dajjal, sehebat apa pun, bersifat eksplisit dan mudah diidentifikasi oleh orang beriman yang kokoh ilmunya. Sedangkan bahaya pemimpin

|
Editor: Ansari Hasyim
hand over dokumen pribadi
Prof Dr Apridar SE MSi, adalah guru Besar Ilmu Ekonomi dan Ketua Dewan Pakar ICMI Orwil Aceh.  

Oleh: Apridar*)

DALAM wacana eskatologi Islam, figur Dajjal seringkali mendominasi diskusi tentang akhir zaman. Sosok ini digambarkan dalam berbagai hadis sebagai ujian terbesar umat manusia, dengan kekuatan supranatural yang mampu mempertontonkan keajaiban palsu, bahkan menghidupkan orang mati.

Namun, ada sebuah perspektif mendalam yang justru menempatkan bahaya lain di tingkat yang lebih mengkhawatirkan. 

Rasulullah SAW dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, bersabda: "Allah SWT tidaklah mengangkat ilmu dengan mencabutnya dari diri manusia, tetapi ilmu diangkat dengan cara mewafatkan para ulama sehingga tidak ada seorang ulama pun, lalu manusia mengangkat pemimpin dari kalangan orang-orang bodoh.

Jika mereka ditanya (tentang suatu urusan), mereka menjawab tanpa ilmu, akhirnya mereka sesat dan menyesatkan."

Sabda Nabi ini bukan hanya peringatan, tetapi sebuah diagnosis sosial-politik yang akurat. Ia menunjuk pada sebuah fenomena di mana kualitas kepemimpinan merosot drastis, digantikan oleh kepemimpinan yang digerakkan oleh kebodohan, bukan ilmu. 

Baca juga: Binasanya Kaum yang Merongrong Syariat: Pelajaran Abadi dari Tanah Rencong

Dalam konteks inilah, pernyataan bahwa "pemimpin yang menyesatkan umatnya lebih berbahaya dari Dajjal" menemukan pijakan rasional dan teologisnya.

Bahaya Dajjal, sehebat apa pun, bersifat eksplisit dan mudah diidentifikasi oleh orang beriman yang kokoh ilmunya.

Sedangkan bahaya pemimpin yang menyesatkan bersifat sistemik, subtil, dan justru bekerja dalam struktur kekuasaan yang sah.

Dajjal: Musuh yang Terlihat Jelas

Mari kita bedah terlebih dahulu ancaman Dajjal. Ciri-cirinya telah jelas dijelaskan dalam hadis: mata buta sebelah, tulisan "kafir" di dahinya yang hanya bisa dibaca oleh orang beriman, dan ditemani oleh sungai api dan surga. Ia adalah personifikasi dari kebatilan yang nyata.

Fitnahnya besar, tetapi ia datang sebagai entitas asing, sebagai "musuh dari luar" yang dengan jelas berseberangan dengan nilai-nilai ketauhidan.

Seorang muslim yang berpegang teguh pada ajaran agamanya diharapkan dapat mengenali dan menolak tipu dayanya. Dajjal adalah ujian final yang memisahkan iman dan kemunafikan dengan garis yang tegas.

Pemimpin yang Menyesatkan: Kanker dalam Tubuh Umat

Lalu, bagaimana dengan pemimpin yang menyesatkan? Ia adalah "musuh dari dalam." Bahayanya justru terletak pada kemampuannya menyusup ke dalam sistem dan dianggap sah oleh masyarakat.

Hadis Nabi yang dikutip di awal dengan tegas menggambarkan siklusnya: kematian para ulama (pemegang otoritas ilmu) dimana vakum kepemimpinan, kemudian munculnya pemimpin bodoh, dimana kebijakan dan ucapan tanpa landasan ilmu, hasilnya kesesatan yang massal.
Proses ini bukan metafora. Kita dapat menyaksikan manifestasinya dalam dunia kontemporer:

Pertama Kebijakan yang Anti-Ilmu Pengetahuan. Seorang pemimpin yang menyesatkan akan mengabaikan data, riset, dan konsensus ilmiah demi kepentingan politik sesaat atau keyakinan pribadi yang keliru.

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved