Opini
Bencana Berulang, Manusia Sering Lupa
Gempa bukan satu-satunya ancaman, di daratan, Banda Aceh dan sekitarnya berada di antara dua patahan aktif--Segmen Aceh dan Seulimum
Oleh: Dr H T Ahmad Dadek SH MH, doktor hukum spesialis bencana, perencana ahli utama Bappeda Aceh
ACEH adalah wilayah yang akrab dengan bencana. Gempa bumi, tsunami, dan banjir besar bukanlah peristiwa kebetulan, melainkan bagian dari siklus alam yang berulang.
Catatan geologis, riset ilmiah, dan ingatan kolektif masyarakat Aceh sama-sama memberi pesan tegas: bencana di Aceh bukan soal “jika”, melainkan “kapan”.
Temuan tsunami purba di Gua Ek Leuntie, Aceh Besar, yang berusia sekitar 7.400 tahun, membuktikan bahwa pesisir Aceh telah berkali-kali diterjang gempa laut dan tsunami besar.
Baca juga: Ulama Tegur Pemuda Aceh, Jangan Asyik Main Game di Warkop Saat Rakyat Menderita
Penelitian ilmiah menyebutkan setidaknya 17 kali gempa besar purba disertai tsunami pernah terjadi. Peristiwa 26 Desember 2004--dengan magnitudo sekitar 9,1–9,3 Mw--bukanlah yang pertama, tetapi yang paling mematikan dalam sejarah modern Aceh.
Ironisnya, meski bukti alam dan sejarah begitu jelas, manusia sering lupa.
Kita berkabung saat bencana datang, berjanji akan berubah, lalu perlahan kembali abai ketika keadaan normal.
Padahal, sejarah tidak pernah berhenti memberi peringatan.
Tsunami 2004 adalah titik balik paling pahit. Ratusan ribu jiwa melayang, laporan IFRC mencatat korban meninggal dan hilang di Indonesia mencapai 173.741 orang, sebagian besar di Aceh. Lebih dari 139 ribu rumah hancur atau rusak. Infrastruktur publik luluh lantak.
Kerugian ekonomi mencapai puluhan triliun rupiah. Aceh seakan dihapus dari peta kehidupan normal dalam hitungan menit.
Gempa bukan satu-satunya ancaman, di daratan, Banda Aceh dan sekitarnya berada di antara dua patahan aktif--Segmen Aceh dan Seulimum--bagian dari Sistem Patahan Sumatera.
Penelitian TDMRC Aceh menunjukkan adanya potensi gempa darat yang signifikan, dengan pergeseran kerak bumi yang terus berlangsung. Ancaman ini senyap, tetapi nyata.
Di sisi lain, banjir besar menjadi bencana yang kian sering dan meluas. Sejarah mencatat banjir besar Januari 1978 yang merendam Banda Aceh dan Aceh Besar, menghancurkan ribuan hektare sawah dan infrastruktur.
Banjir kembali berulang pada November 2000, Mei 2020, hingga puncaknya pada Banjir Aceh 2025.
Banjir 2025 bukan banjir biasa. Ia melanda 18 kabupaten/kota, hampir 200 kecamatan, dan ribuan gampong.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Pj-Bupati-Pijay-Dr-Ahmad-Dadek-SH-MH-memberi-pengarahan-kepada-puluhan-kepala-SKPK.jpg)