Banjir Landa Aceh
Masih Ada Desa Terisolir, Pemerintah Aceh Pacu Distribusi Logistik via Udara
“Pengiriman bantuan via udara difokuskan ke gampong-gampong yang masih terisolir akibat terputusnya akses darat,” M. NASIR, Sekda Aceh
“Pengiriman bantuan via udara difokuskan ke gampong-gampong yang masih terisolir akibat terputusnya akses darat,” M. NASIR, Sekda Aceh
SERAMBINEWS.COM, BANDA ACEH - Bencana banjir bandang dan tanah longsor yang menerjang Aceh saat ini sudah memasuki hari ke-40. Tetapi ternyata masih ada beberapa wilayah yang terisolir dan belum dapat diakses secara optimal melalui jalur darat.
Hal itu diungkapkan Ketua Pos Komando Penanganan Banjir dan Longsor Aceh, M. Nasir, Minggu (3/1/2026). Oleh sebab itu, Pemerintah Aceh terus memacu distribusi logistik via udara. Sekda menyebutkan, hingga sabtu kemarin, penyaluran logistik via udara telah menjangkau 52 kecamatan di 10 kabupaten/kota.
“Berdasarkan laporan yang diterima Posko hari ini, distribusi logistik via udara telah dilakukan ke 52 kecamatan. Distribusi tersebut disesuaikan dengan titik koordinat desa yang berada dalam masing-masing kecamatan, dan hari ini distribusi masih terus dilakukan sesuai titik koordinat yang telah terdata” kata M. Nasir.
Nasir yang juga Sekda Aceh ini menyebutkan bahwa distribusi bantuan dilakukan berdasarkan titik koordinat desa terisolir yang tersebar di setiap kecamatan terdampak. Adapun bantuan logistik yang dikirim melalui jalur udara pada Sabtu meliputi wilayah Kabupaten Pidie Jaya, Aceh Utara, Aceh Timur, Aceh Tengah, Nagan Raya, Aceh Barat, Bireuen, Gayo Lues, Aceh Tamiang, dan Bener Meriah.
“Pengiriman bantuan via udara difokuskan ke gampong-gampong yang masih terisolir akibat terputusnya akses darat,” ujarnya.
Nasir melanjutkan, Pemerintah Aceh mengimbau pemerintah kabupaten/kota untuk segera menyampaikan koordinat wilayah yang belum dapat diakses secara maksimal agar distribusi bantuan dapat tepat sasaran. “Di saat yang sama, pemerintah masih terus berupaya membuka kembali akses darat agar arus bantuan dan aktivitas ekonomi masyarakat dapat segera pulih,” ucapnya.
Ia menambahkan, bahwa pemerintah berkomitmen dan terus memaksimalkan distribusi logistik ke seluruh wilayah terdampak, baik daerah yang masih terisolir maupun wilayah yang aksesnya telah terbuka.
Hal serupa juga disampaikan Juru Bicara Pos Komando Tanggap Darurat Bencana Hidrometeorologi Aceh, Murthalamuddin, yang dikonfirmasi secara terpisah. Ia menyampaikan. hingga kini masih terdapat sejumlah daerah di Aceh yang terisolasi akibat akses darat masih terputus. Sejumlah daerah itu tersebar di beberapa kabupaten/kota, seperti di Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh Tengah, Aceh Timur, serta Gayo Lues.
“Daerah terisolir seperti di Kecamatan Sekerak, Tamiang; Kampung Bidari (Aceh Timur), Sebagaian Kecamatan Pining dan Putri Betung (Gayo Lues), serta ada beberapa desa di Aceh Tengah,” kata Murthalamuddin.
Kendati masuk ketegori terisolasi, Murthalamuddin menegaskan bahwa kebutuhan logistik hingga saat ini sudah sampai ke daerah-daerah yang dimaksud. “Logistik sudah masuk dengan cukup. Cuma akses jalan aja yang sulit,” ujarnya.
Ia menambahkan, bahwa pihaknya tidak mengantongi data konkret terkait daerah-daerah yang dianggap masih terisolasi. “Tidak ada data konkret (terkait daerah yang masih terisolasi), karena sifatnya tentatif. Lagian kalau terisolir secara devisikan tergantung cara pandang,” ungkapnya.
Sewa Alat Berat
Sementara itu, warga korban banjir bandang di Kabupaten Aceh Tamiang dan Aceh Timur terpaksa menyewa alat berat secara swadaya untuk membersihkan lumpur yang masih menimbun permukiman mereka. Langkah ini diambil karena hingga lebih dari sebulan pascabanjir, belum ada alat berat pemerintah yang dikerahkan ke lingkungan tempat tinggal warga.
Salah seorang warga Perumahan BTN Satelit Graha, Kecamatan Karangbaru, Aceh Tamiang, Zahlul, mengatakan pembersihan selama ini dilakukan secara gotong royong. Namun, volume lumpur yang sangat besar membuat tenaga manusia tidak lagi memadai. “Kami bersihkan sendiri, gotong royong, tapi tidak sebanding dengan tumpukan lumpur yang sangat banyak,” ujarnya, Minggu (4/1/2026).
Zahlul mengungkapkan, sebagian warga mulai putus asa karena lumpur tak kunjung habis meski dibersihkan setiap hari. Akibatnya, akses jalan permukiman tetap berlumpur dan menyulitkan warga kembali beraktivitas. Harapan warga terhadap bantuan alat berat pemerintah pun belum terwujud, meski di wilayah lain alat berat telah dikerahkan dan kondisi permukiman mereka sudah disampaikan ke instansi terkait.
Di tengah tuntutan untuk kembali menjalani aktivitas normal, termasuk pelajar yang telah masuk sekolah sejak 5 Desember lalu, warga akhirnya menggalang dana untuk menyewa alat berat. Biaya sewa yang tinggi semakin memberatkan, dengan tarif pembersihan satu lorong mencapai Rp 40 juta.
Warga berharap pemerintah daerah segera turun tangan menyediakan alat berat agar proses pemulihan pascabanjir dapat berlangsung lebih cepat dan beban masyarakat tidak semakin berat.
Hal yang sama juga disampaikan seorang warga Blang Gleum, Kecamatan Julok, Aceh Timur. Warga tersebut mengaku terpaksa menyewa beko dengan tarif Rp 600 ribu per jam dan selama dua jam pengerukan, ia menghabiskan Rp 1,2 juta. Uang itu berasal dari bantuan sanak keluarga di luar daerah.
Meski sebagian lumpur telah dikeruk, kondisi di sekitar rumah masih memprihatinkan, dengan sisa lumpur setinggi pinggang di beberapa bagian. Sementara jalanan tampak licin dan sulit dilalui. Warga menyebut pengerukan dengan alat berat menjadi satu-satunya pilihan untuk memulihkan lingkungan.
Korban Banjir
Data terbaru dari Pos Komando Tanggap Darurat Bencana Hidrometeorologi Aceh, yang diupdate Minggu (4/1/2026) pukul 20.34 WIB, mencatat jumlah korban meninggal dunia mencapai 542 orang dan sebanyak 31 orang masih dinyatakan hilang.
Bencana yang dipicu curah hujan ekstrem ini melanda 202 kecamatan dan 3.543 gampong. Total korban terdampak tercatat sebanyak 670.842 kepala keluarga (KK) atau 2.583.376 jiwa. Selain korban meninggal dan hilang, sebanyak 4.939 orang mengalami luka ringan, dan 474 orang mengalami luka berat.
Saat ini tercatat 1.008 titik pengungsian dengan jumlah 55.416 KK atau 217.780 jiwa. Jumlah pengungsi mulai berkurang karena sebagian warga kembali ke rumah keluarga atau kerabat yang tidak terdampak banjir.
Kerusakan infrastruktur dan fasilitas umum dilaporkan cukup signifikan. Hingga kini tercatat 227 unit perkantoran rusak, 638 tempat ibadah rusak, 1.027 sekolah rusak, 180 rumah sakit dan puskesmas rusak, dan 670 pondok pesantren rusak.
Sektor transportasi juga terdampak parah, dengan 1.593 titik badan jalan dan 468 jembatan mengalami kerusakan. Kerusakan harta benda juga cukup luas, meliputi 144.865 rumah, 51.335 hektare sawah, 25.074 hektare kebun, dan 39.910 hektare tambak.(ra/mad)
Banjir Landa Aceh
Banjir dan Longsor di Aceh
Masih Ada Desa Terisolir
Menembus Desa Terisolir
desa terisolir
Serambi Indonesia
Serambinews.com
Serambinews
| Bupati Bireuen Tinjau Lokasi Pembangunan Huntap |
|
|---|
| Mendagri Kirim 7 Alat Berat Untuk Pemulihan Aceh Tengah dari Bencana |
|
|---|
| Penyeberangan Lewat Jembatan Apung Kepala Hiudi Peusangan Siblah Krueng Lancar Kembali |
|
|---|
| Pasca Banjir, Abrasi Krueng Peusangan di Pante Baro Kumbang Semakin Meluas |
|
|---|
| Salurkan Bantuan ke Korban Banjir di Pedalaman Aceh Utara, Polres Lhokseumawe Tinjau Jembatan Bailey |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/MASIH-ADA-DESA-TERISOLIR.jpg)