Senin, 8 Juni 2026

Berita Banda Aceh

Legislator Kembali Sorot Mahalnya Harga Tiket Pesawat Aceh-Jakarta

Munawar menyebut bahwa persoalan mahalnya harga tiket pesawat bukan hal baru di Aceh, tapi sudah berlangsung lama. 

Tayang:
Penulis: Masrizal Bin Zairi | Editor: Amirullah
Serambinews.com/HO
Anggota DPRA Fraksi PKB Munawar Ngohwan kembali menyoroti mahalnya harga tiket pesawat rute Aceh–Jakarta yang dinilai sudah lama memberatkan masyarakat. Ia menyebut warga Aceh bahkan kerap memilih terbang ke Jakarta lewat Malaysia karena ongkos lebih murah, serta mendesak pemerintah segera menghadirkan solusi konkret. 

Merespons situasi tersebut, Budi meminta pihak-pihak terkait untuk membantu menyediakan harga tiket pesawat khusus bagi relawan Kemenkes, terutama karena mereka membawa banyak perbekalan yang berpotensi menambah biaya perjalanan.

“Jadi itu permintaan pertama kita, kalau bisa kita harganya jangan terlalu jauh dengan yang lewat Malaysia. Pak Gubernur pasti merasakan, orang-orang Aceh pasti tahu. Bahwa memang muter itu, dan lebih murahnya jauh,” kata Budi.

Ia menambahkan, kebutuhan pengiriman tenaga kesehatan ke Aceh cukup besar dan dilakukan secara berkala.

“Padahal kita butuh 700-800 kita kirim per 2 minggu untuk bantu teman-teman tenaga kesehatan Aceh, terutama di pos pengungsian dan desa terpencil,” imbuhnya.

Kenapa Harga Tiket Pesawat Masih Mahal?

Tingginya harga tiket pesawat di Indonesia kembali menjadi perhatian publik, terutama untuk rute jarak jauh seperti penerbangan Jakarta–Aceh yang dinilai masih belum terjangkau bagi banyak masyarakat.

Pakar kebijakan publik Agus Pambagio menilai mahalnya tarif penerbangan tidak bisa dilepaskan dari struktur biaya industri penerbangan nasional serta absennya kebijakan subsidi yang memadai dari pemerintah.

Menurut Agus, maskapai penerbangan pada dasarnya tidak dapat dipaksa untuk menjual tiket dengan harga murah apabila tidak disertai penugasan resmi dan dukungan anggaran dari negara.

“Kalau dikasih penugasan pemerintah tapi tidak ada dukungan, ya maskapainya bisa bangkrut,” ujar Agus di Jakarta, Selasa (13/1/2026).

Ia menjelaskan, apabila pemerintah ingin menjaga keterjangkauan harga tiket pada rute-rute tertentu yang dianggap strategis atau berdampak sosial, maka skema subsidi seharusnya berasal dari negara.

Subsidi tersebut, kata Agus, bisa dilakukan melalui koordinasi antarkementerian, seperti Kementerian Sosial dan Kementerian Perhubungan, bukan dengan membebani maskapai secara sepihak.

Agus menegaskan bahwa hingga saat ini tidak ada regulasi yang mewajibkan maskapai penerbangan memberikan subsidi secara mandiri. Di sisi lain, kondisi keuangan maskapai juga dinilai belum sepenuhnya pulih.

Ia juga menyinggung kebijakan tarif batas atas (TBA) yang pada awalnya diterapkan untuk mencegah terjadinya perang harga tidak sehat antarmaskapai, sekaligus menjaga kualitas layanan penerbangan.

"Kalau sekarang dilepas ke mekanisme pasar, ya konsekuensinya harga jadi mahal. Tidak ada lagi tiket pesawat yang benar-benar murah," kata dia.

Fenomena tiket penerbangan dari luar negeri yang lebih murah dibandingkan rute domestik juga turut disoroti. Agus mencontohkan penerbangan transit dari Australia ke Kuala Lumpur yang singgah di Jakarta. Kursi kosong pada rute Jakarta kerap dijual murah agar terisi. 

"Daripada kosong, ya dijual murah. Pajak dan biaya avtur di Malaysia juga jauh lebih rendah," ujarnya.

Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved