Senin, 8 Juni 2026

Berita Banda Aceh

Legislator Kembali Sorot Mahalnya Harga Tiket Pesawat Aceh-Jakarta

Munawar menyebut bahwa persoalan mahalnya harga tiket pesawat bukan hal baru di Aceh, tapi sudah berlangsung lama. 

Tayang:
Penulis: Masrizal Bin Zairi | Editor: Amirullah
Serambinews.com/HO
Anggota DPRA Fraksi PKB Munawar Ngohwan kembali menyoroti mahalnya harga tiket pesawat rute Aceh–Jakarta yang dinilai sudah lama memberatkan masyarakat. Ia menyebut warga Aceh bahkan kerap memilih terbang ke Jakarta lewat Malaysia karena ongkos lebih murah, serta mendesak pemerintah segera menghadirkan solusi konkret. 

Celah ini, menurut Agus, banyak dimanfaatkan melalui penjualan tiket lewat online travel agent (OTA).

Sisi industri

Dari sisi industri, mantan Presiden Direktur Lion Air Group Edward Sirait menjelaskan bahwa sekitar 85 persen biaya operasional penerbangan bergantung pada valuta asing, terutama dollar AS.

Hampir seluruh komponen utama, mulai dari sewa pesawat, avtur, suku cadang, asuransi, simulator pilot, hingga ban pesawat, dibeli dengan dollar karena tidak diproduksi di dalam negeri. 

"Yang berbasis rupiah itu cuma sekitar 14 persen, sebagian besar untuk gaji pegawai dan biaya umum," kata Edward.

Karena itu, fluktuasi nilai tukar, inflasi, dan kondisi ekonomi makro sangat memengaruhi harga tiket pesawat. Ia menegaskan industri penerbangan merupakan bisnis dengan margin tipis.

"Untung 5 persen saja itu sudah luar biasa," ujarnya. 

Edward juga meluruskan anggapan soal tiket domestik yang disebut-sebut mencapai belasan juta rupiah.

Menurut dia, angka tersebut umumnya berlaku untuk kelas bisnis yang tidak diatur tarifnya. Sementara kelas ekonomi tetap tunduk pada tarif batas atas. 

"Untuk ekonomi, tidak mungkin lebih dari TBA. Yang mahal itu kelas bisnis, karena harganya berdasarkan kesepakatan pasar," jelasnya. 

Agus Pambagio menambahkan, selama pertumbuhan ekonomi Indonesia masih berada di kisaran 4–5 persen, sulit berharap harga tiket pesawat bisa murah.

Menurut dia, berbagai upaya efisiensi yang dilakukan selama ini justru lebih banyak dibebankan ke pengelola bandara, bukan ke maskapai.

"Selama ekonomi kita belum kuat, jangan berharap tiket pesawat murah. Bahkan konsep low cost carrier di banyak negara sekarang juga makin sulit karena harga avtur yang tinggi," pungkas Agus.

(Serambinews.com/Masrizal/Kompas.com)

Halaman 3/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved