Banjir Landa Aceh
Terobos Medan Ekstrem ke Simpang Jernih, Stafsus Gubernur Aceh Ultimatum PT. 66 Soal Akses Jalan
"PT 66 harus menunjukkan komitmen nyata. Keberadaan perusahaan di sini wajib dibarengi tanggung jawab sosial, terutama dalam kondisi darurat.
Penulis: Maulidi Alfata | Editor: Nurul Hayati
Laporan Maulidi Alfata | Aceh Timur
SERAMBINEWS.COM, IDI - Penderitaan warga Dusun Bidari, Desa Rantau Panjang, Kecamatan Simpang Jernih, yang terisolir selama bertahun-tahun memicu reaksi keras dari Pemerintah Aceh melalui Staf Khusus (Stafsus) Gubernur Aceh, Faisal Rizal dan Hendra Fauzi, saat menorobos jalur hutan untuk sampai ke lokasi warga yang menjadi korban banjir.
Perjalanan menuju titik bencana didampingi komunitas motor trail IM-Trax dan mobil garden tanda (4x4).
Tim harus berjibaku melewati tanjakan curam dan kubangan lumpur.
Di lokasi, Staf Khusus Gubernur Aceh memberikan peringatan keras kepada PT 66, perusahaan yang beroperasi di wilayah tersebut. Perusahaan diminta tidak menutup mata dan segera mengerahkan alat berat untuk membuka akses jalan yang selama ini terputus.
"PT 66 harus menunjukkan komitmen nyata. Keberadaan perusahaan di sini wajib dibarengi tanggung jawab sosial, terutama dalam kondisi darurat. Kami mendesak mereka segera menurunkan alat berat agar jalur darat kembali bisa dilalui warga," tegas Faisal Rizal Hasan di tengah peninjauan.
Kondisi Memprihatinkan Usai Dihantam Banjir
Kondisi Dusun Bidari saat ini kian memprihatinkan karena hantaman banjir yang memutus satu-satunya harapan akses warga.
Selama ini masyarakat terpaksa bertaruh nyawa dan biaya menggunakan jalur sungai dengan dampak kayu mengarungi sungai selama 2 jam hanya untuk mencapai pusat kecamatan.
Sementara jalur darat, mereka harus memutar melewati Kabupaten Aceh Tamiang dan Kota Langsa untuk sampai ke Aceh Timur dengan jarak tempuh 8 jam.
Kunjungan ke lokasi kali ini upaya pengumpulan fakta untuk mendorong percepatan pembangunan infrastruktur di wilayah terpencil Aceh Timur.
Faisal menegaskan Pemerintah Aceh akan terus mengawal persoalan ini hingga PT 66 dan pihak terkait menjalankan kewajibannya.
"Akses jalan bukan sekedar fasilitas, melainkan sarana transportasi bagi masyarakat Bidari untuk bisa menempuh perjalanan yang layak," tuturnya.(*)
Baca juga: Pembangunan Huntara oleh Hutama Karya di Aceh Timur Capai 97 Persen
| Tamiang Butuh Rp 500 M untuk Perbaiki Tambak |
|
|---|
| Sempat Banjir Susulan, Kabdisdik Wilayah Aceh Utara Instruksikan Sekolah Gotong Royong |
|
|---|
| Kejar Ketertinggalan Belajar Pascabanjir, Murid SD di Aceh Tamiang Belajar Metode Berhitung Gasing |
|
|---|
| 4 Bulan Pascabanjir, Ratusan Sekolah di Aceh Utara Masih Belajar di Lantai |
|
|---|
| Al-Farlaky Kembali Uji Publik Bantuan Rumah BNPB |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Stafsus-Gubernur-Aceh-Faisal-Rizal-saat-menerobos-ke-Simpang-Jernih-Jumat-1612026.jpg)