Selasa, 12 Mei 2026

Banjir Landa Aceh

Menggantung di Tali Atas Sungai, Relawan Aceh Antar Bantuan ke Desa Terisolir di Ketol Aceh Tengah

“Seluruh rumah di desa ini telah hancur, semua warga mengungsi ke SMPN 32 yang dekat dengan kampung,” ujar Jamaluddin, Senin (19/1/2026).

Tayang:
Penulis: Agus Ramadhan | Editor: Nurul Hayati
Serambinews.com/HO
Bantuan yang dibawa oleh Tim Relawan Aceh terpaksa menggantungkan di tali kecil yang terhubung antara kedua sisi sungai agar dapat mencapai desa tujuan, yaitu Desa Bintang Pepara di Ketol, Aceh Tengah. 

Menggantung di Tali Atas Sungai, Relawan Aceh Antar Bantuan ke Desa Terisolir di Ketol Aceh Tengah

SERAMBINEWS.COM, TAKENGON - Empat relawan dari Banda Aceh pada Minggu (18/1/2026) berangkat ke desa terisolir di Kecamatan Ketol, Aceh Tengah untuk mengantar bantuan dari donatur.

Mereka terdiri dari Jamaluddin Jamil ST MM, Dr Safwan Gade, Edi dan Hasan Basri M Nur PhD.

Mereka menerima amanah dari donatur PT Artha Graha Jakarta untuk menyalurkan bantuan kepada korban bencana banjir di daerah terisolir yang mimim dari perhatian.

Ketua tim relawan yang juga Ketua KOSGORO Aceh, Jamaluddin Jamil, menyebutkan, pihaknya berkomunikasi dengan pengurus KOSGORO kabupaten dan kemudian menetapkan Desa Bintang Pepara Kecamatan Ketol, Aceh Tengah sebagai salah satu tujuan bantuan.

Tim relawan memutuskan berangkat dengan mobil rental untuk mengangkut bantuan yang terdiri dari pakaian baru, kain sarung, mukena, kelambu, susu balita, makanan dan beberapa jenis kebutuhan pokok lainnya.

Mereka memfoluskan pada satu desa yang terletak di paling ujung yaitu Desa Bintang Pepara agar maksimal manfaatnya. 

“Seluruh rumah di desa ini telah hancur, semua warga mengungsi ke SMPN 32 yang dekat dengan kampung,” ujar Jamaluddin, Senin (19/1/2026).

Baca juga: 9.880 Warga Aceh Tengah Masih Terisolir, Distribusi Logistik Lewat Udara

Tim relawan menuju Desa Bintang Pepara dengan melalui jalan rusak, berlobang dan berlumpur.

Bahkan terdapat jembatan menuju desa tersebut telah roboh dan belum dibangun jemabatan pengganti yang setara.

Tim relawan terpaksa menggantung di tali kecil yang terhubung antara kedua sisi sungai agar dapat mencapai desa tujuan.

Bantuan juga diangkut dengan cara yang sama.

“Dag dig dug saat kami menggantung di tali itu, takut terjatuh atau tali terputus. Tapi harus kami beranikan diri agar tiba di lokasi tujuan,” ujar Hasan Basri M Nur, yang juga dosen UIN Ar-Raniry.

Di seberang sungai tim relawan harus naik ojek dan melalui jalan yang sangat rusak sebelum akhirnya tiba di lokasi.

Di sana, tim relawan disambut ramah oleh Kepala Desa atau Reje Misran SH dan 99 KK pengungsi di SMPN 32 Aceh Tengah.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved