Berita Sabang
Hunian Hotel di Sabang Merosot, Pendapatan Pelaku Usaha Menyusut
Kondisi tersebut berdampak langsung terhadap pendapatan pelaku usaha perhotelan dan mencerminkan melemahnya pergerakan wisatawan di awal tahun.
Penulis: Aulia Prasetya | Editor: Mursal Ismail
Ringkasan Berita:
- Tingkat hunian kamar hotel di Kota Sabang anjlok sejak libur Nataru hingga pertengahan Januari 2026, menandakan melemahnya pergerakan wisatawan awal tahun.
- Sejumlah hotel hanya mengandalkan tamu lokal dengan okupansi sangat rendah, menyebabkan pendapatan turun drastis dibandingkan kondisi normal.
- Pelaku usaha berharap dukungan dan langkah konkret pemerintah untuk memulihkan sektor pariwisata dan meningkatkan kunjungan wisatawan.
Laporan Wartawan Serambi Indonesia Aulia Prasetya | Sabang
SERAMBINEWS.COM, SABANG - Tingkat hunian kamar hotel di Kota Sabang menurun tajam sejak libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) hingga pertengahan Januari 2026.
Kondisi tersebut berdampak langsung terhadap pendapatan pelaku usaha perhotelan dan mencerminkan melemahnya pergerakan wisatawan di awal tahun.
Pantauan di lapangan, sejumlah hotel melaporkan okupansi kamar turun signifikan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Bahkan, sebagian besar penginapan kini hanya mengandalkan tamu lokal dengan jumlah yang sangat terbatas.
Resepsionis Hotel Z House, Aidil, mengatakan tingkat hunian kamar menurun drastis sejak menjelang Natal hingga pertengahan Januari. Menurutnya, wisatawan dari luar Aceh hampir tidak terlihat.
“Sejak sebelum Natal sampai sekarang masih sepi. Paling hanya satu atau dua kamar yang terisi, itu pun tamu dari Banda Aceh. Wisatawan dari Medan atau luar Aceh hampir tidak ada,” ujar Aidil, Rabu (21/1/2026).
Baca juga: WNA Diduga Lakukan Tambang Emas Ilegal di Aceh Jaya, Keuchik Buka Suara
Minimnya jumlah tamu turut berdampak pada pendapatan hotel.
Jika pada kondisi normal seluruh 18 kamar dapat terisi dengan omzet harian mencapai Rp3 juta hingga Rp4 juta, saat ini pemasukan hanya berkisar Rp200 ribu hingga Rp300 ribu per kamar.
Kondisi serupa juga dialami Hotel Montana Sabang. Resepsionis Hotel Montana, Rafi, menyebutkan tingkat hunian kamar sejak awal Januari 2026 sangat rendah, bahkan banyak pemesanan yang dibatalkan.
“Dari tanggal 1 sampai 20 Januari hanya empat kamar yang terisi. Jauh menurun dibandingkan tahun lalu,” kata Rafi.
Ia menambahkan, pada periode normal hotel mampu mencatat omzet kotor hingga Rp60 juta per bulan.
Namun memasuki awal 2026, tingkat hunian kamar belum mencapai 50 persen dan pendapatan belum menunjukkan tanda-tanda pemulihan.
Baca juga: Layanan Pertanahan Tamiang Normal Kembali, Kanwil BPN Aceh Lakukan Pemulihan Menyeluruh Pascabanjir
Penurunan okupansi ini menjadi indikasi melemahnya sektor pariwisata Sabang pada awal tahun.
Pelaku usaha berharap adanya langkah konkret dari pemerintah dan pemangku kepentingan terkait untuk mendorong kembali kunjungan wisatawan, sehingga roda ekonomi sektor pariwisata dapat kembali bergerak. (*)
| HRD Siap Perjuangkan Infrastruktur untuk Kemajuan Sabang |
|
|---|
| Polsubsektor Pelabuhan Usulkan Pos Imigrasi di Balohan, Koordinasi Dinilai Belum Maksimal |
|
|---|
| Pasang Surut Perairan Sabang - Banda Aceh Terpantau Normal, Gelombang Tenang |
|
|---|
| 575 KK di Kuta Ateuh Sabang Terima Subsidi Listrik, Total Rp155 Juta |
|
|---|
| Jumat 24 April 2026, Berikut Daftar Khatib dan Imam Shalat Jumat di Sabang |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/hotel-sepi-21012026.jpg)