Banjir Landa Aceh
Bantuan Relawan Berkurang, Sejumlah Kampung Krisis Air Bersih dan MCK
Minimnya pasokan air bersih ini memaksa masyarakat menggunakan air alur sungai yang keruh untuk seluruh kebutuhan, termasuk minum.
Penulis: Rahmad Wiguna | Editor: Mursal Ismail
Ringkasan Berita:
- Kampung Juar dan Pematangdurian, Kecamatan Sekerak, Aceh Tamiang, krisis air bersih setelah relawan distribusi air truk berkurang.
- Warga terpaksa memakai air alur sungai yang keruh untuk mandi, cuci, hingga minum; kondisi makin buruk karena ada aktivitas BAB di lokasi yang sama akibat MCK rusak.
- Pascabanjir bandang dua bulan, banyak rumah hanyut dan warga masih mengungsi; listrik belum pulih sehingga malam hari mengandalkan genset, berharap pasokan air dan listrik segera ditangani.
Laporan Wartawan Serambi Indonesia Rahmad Wiguna | Aceh Tamiang
SERAMBINEWS.COM, KUALASIMPANG – Sejumlah kampung di Aceh Tamiang mengalami krisis air bersih menyusul mulai berkurangnya relawan yang selama ini mendistribusikan air menggunakan truk.
Minimnya pasokan air bersih ini memaksa masyarakat menggunakan air alur sungai yang keruh untuk seluruh kebutuhan, termasuk minum.
“Kami terpaksa berkumpul di alur, mandi, mencuci sampai minum pakai air alur,” kata Datok Penghulu Kampung Juar, Abdul Azis, Jumat (23/1/2026).
Mirisnya aktivitas di alur ini dilakukan bersamaan dengan warga lain yang buang air besar (BAB).
“Bagaimana lagi, banyak rumah yang hanyut, kalaupun ada rumah yang selamat, tetap MCK-nya belum bisa digunakan,” kata dia.
Krisis MCK ini diakuinya juga sangat memprihatinkan. Sejak dua bulan dihantam banjir bandang, warga di desa ini tidak memiliki tempat membuang hajat yang layak.
Baca juga: Anak Sering Marah dan Tantrum? Ini 5 Cara Efektif Orang Tua Mengatasinya
“Kalau gak di alur, ya lari ke sawit-sawit (kebun kelapa sawit), sudah biasa di sini,” ungkapnya.
Persoalan yang sama juga dialami desa tetangga, Kampung Pematangdurian.
Kedua desa ini sama-sama terletak di Kecamatan Sekerak. Dampak kerusakan di kecamatan ini terbilang parah dan banyak desa yang mengalami status desa hilang.
“Rumah-rumah hanyut, sekarang ini ya masih di pengungsian,” kata Sekretaris Kampung Pematangdurian, Burhan.
Sepakat dengan Azis, dia juga merasakan desanya krisis air bersih sejak para relawan angkat kaki dari Aceh Tamiang.
Warga semakin susah karena jaringan listrik di daerah ini juga belum pulih.
Baca juga: Lhokseumawe Butuh Rp1,2 Triliun untuk Rehab Rekon Pascabencana, Ini Data Lengkapnya
“Harapan kami agar listrik dan air ini bisa diselesaikan, setiap malam kami hanya mengandalkan genset,” ucapnya. (mad)
| Penyeberangan Lewat Jembatan Apung Kepala Hiudi Peusangan Siblah Krueng Lancar Kembali |
|
|---|
| Pasca Banjir, Abrasi Krueng Peusangan di Pante Baro Kumbang Semakin Meluas |
|
|---|
| Salurkan Bantuan ke Korban Banjir di Pedalaman Aceh Utara, Polres Lhokseumawe Tinjau Jembatan Bailey |
|
|---|
| Tegas, Napi yang tidak Kembali ke LP Kualasimpang Berpotensi Ditetapkan DPO |
|
|---|
| Baru 45 Narapidana yang Kembali ke Lapas Kualasimpang, Tenggat Penyerahan Diri Berakhir 17 Mei |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/air-keruh-23012026.jpg)