Breaking News
Selasa, 21 April 2026

Banjir Landa Aceh

Bantuan Relawan Berkurang, Sejumlah Kampung Krisis Air Bersih dan MCK

Minimnya pasokan air bersih ini memaksa masyarakat menggunakan air alur sungai yang keruh untuk seluruh kebutuhan, termasuk minum.

Penulis: Rahmad Wiguna | Editor: Mursal Ismail
Serambinews.com/HO
KRISIS AIR BERSIH – Warga Pematangdurian, Aceh Tamiang terpaksa memakai air keruh dan berlumpur dampak krisis air bersih yang melanda kampung mereka sejak berkurangnya relawan mendistribusikan air menggunakan truk 
Ringkasan Berita:
  • Kampung Juar dan Pematangdurian, Kecamatan Sekerak, Aceh Tamiang, krisis air bersih setelah relawan distribusi air truk berkurang.
  • Warga terpaksa memakai air alur sungai yang keruh untuk mandi, cuci, hingga minum; kondisi makin buruk karena ada aktivitas BAB di lokasi yang sama akibat MCK rusak.
  • Pascabanjir bandang dua bulan, banyak rumah hanyut dan warga masih mengungsi; listrik belum pulih sehingga malam hari mengandalkan genset, berharap pasokan air dan listrik segera ditangani.
 

Laporan Wartawan Serambi Indonesia Rahmad Wiguna | Aceh Tamiang

SERAMBINEWS.COM, KUALASIMPANG – Sejumlah kampung di Aceh Tamiang mengalami krisis air bersih menyusul mulai berkurangnya relawan yang selama ini mendistribusikan air menggunakan truk.

Minimnya pasokan air bersih ini memaksa masyarakat menggunakan air alur sungai yang keruh untuk seluruh kebutuhan, termasuk minum.

“Kami terpaksa berkumpul di alur, mandi, mencuci sampai minum pakai air alur,” kata Datok Penghulu Kampung Juar, Abdul Azis, Jumat (23/1/2026).

Mirisnya aktivitas di alur ini dilakukan bersamaan dengan warga lain yang buang air besar (BAB).

“Bagaimana lagi, banyak rumah yang hanyut, kalaupun ada rumah yang selamat, tetap MCK-nya belum bisa digunakan,” kata dia.

Krisis MCK ini diakuinya juga sangat memprihatinkan. Sejak dua bulan dihantam banjir bandang, warga di desa ini tidak memiliki tempat membuang hajat yang layak.

Baca juga: Anak Sering Marah dan Tantrum? Ini 5 Cara Efektif Orang Tua Mengatasinya

“Kalau gak di alur, ya lari ke sawit-sawit (kebun kelapa sawit), sudah biasa di sini,” ungkapnya.

Persoalan yang sama juga dialami desa tetangga, Kampung Pematangdurian.

Kedua desa ini sama-sama terletak di Kecamatan Sekerak. Dampak kerusakan di kecamatan ini terbilang parah dan banyak desa yang mengalami status desa hilang.

“Rumah-rumah hanyut, sekarang ini ya masih di pengungsian,” kata Sekretaris Kampung Pematangdurian, Burhan.

Sepakat dengan Azis, dia juga merasakan desanya krisis air bersih sejak para relawan angkat kaki dari Aceh Tamiang.

Warga semakin susah karena jaringan listrik di daerah ini juga belum pulih.

Baca juga: Lhokseumawe Butuh Rp1,2 Triliun untuk Rehab Rekon Pascabencana, Ini Data Lengkapnya

“Harapan kami agar listrik dan air ini bisa diselesaikan, setiap malam kami hanya mengandalkan genset,” ucapnya. (mad)

 

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved