Kamis, 7 Mei 2026

Berita Langsa 

RSUCM Langsa Gelar Edukasi Pencegahan TBC, Ketahui Gejala dan Cara Penularannya

RSU Cut Meutia Langsa bersama PT Cut Meutia Medika Nusantara menggelar edukasi pencegahan TBC kepada pasien dan pengunjung.

Tayang:
Penulis: Zubir | Editor: Saifullah
Serambinews.com/HO
EDUKASI TBC - Dr Ghaskhan saat memberikan edukasi cara pencegahan dan penanganan serta mengetahui gejalan penyakit TBC di Poliklinik Rawat Jalan RSUCM Langsa, Senin (2/2/2026). Foto Humas RSUCM Langsa 

Selanjutnya batuk berdarah, sesak napas, keringat berlebih pada malam hari, serta penurunan berat badan secara drastis tanpa sebab yang jelas.

Dijelaskannya lagi, kelompok yang berisiko tinggi tertular TBC meliputi orang yang melakukan kontak erat dengan pasien TBC, penderita HIV.

Lalu, perokok, pasien diabetes melitus (DM), serta bayi, anak-anak, dan lansia yang tinggal serumah atau sering berinteraksi dengan penderita TBC

"Selain itu, masyarakat yang tinggal di lingkungan padat penduduk juga memiliki risiko lebih tinggi," papar dokter ini. 

Meski berbahaya, timpal dokter umum yang bertugas di bagian IGD RSU Cut Meutia Langsa ini, TBC bukan penyakit yang tidak dapat disembuhkan. 

Baca juga: Penyebab 13 Calon Petugas Haji Dicopot, Indisipliner hingga Palsukan MCU TBC

Pengobatan TBC harus dijalani minimal selama 6 bulan dan tidak boleh terputus agar bakteri benar-benar mati dan tidak menimbulkan resistensi obat.

Pemerintah juga memastikan bahwa obat TBC dapat diperoleh secara gratis pada fasilitas pelayanan kesehatan.

Upaya pencegahan TBC dapat dilakukan melalui berbagai langkah, yaitu pemberian vaksin BCG sejak dini, pemeriksaan kontak erat dengan pasien TBC.

Berhenti merokok, menjaga kebersihan diri dan lingkungan, serta membiasakan cahaya matahari masuk ke dalam rumah dan menghindari lingkungan yang lembab.

Kepada pasien ataupun masyarakat diimbau untuk tidak takut memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan terdekat apabila mengalami gejala mengarah pada penyakit TBC

"Deteksi dini dan pengobatan yang tuntas menjadi kunci utama dalam memutus rantai penularan, demi terwujudnya Indonesia Bebas TBC 2050," pungkas dr Ghaskan Shah Ghanar.(*)

 

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved