Opini
Cuaca Ekstrem di Aceh: Urgensi Perbaikan Infrastruktur dan Kolaborasi Masyarakat
Hujan deras yang turun secara terus-menerus tidak hanya menyebabkan suhu dingin khas daerah dataran tinggi dan mengganggu rutinitas masyarakat
Oleh: Sadna Maulita, Mahasiswi Fakultas Kedokteran Program Studi Kesehatan Masyarakat - S2
KABUPATEN Bener Meriah, khususnya wilayah Lampahan, tengah menghadapi tantangan besar akibat cuaca ekstrem yang semakin sering terjadi belakangan ini.
Hujan deras yang turun secara terus-menerus tidak hanya menyebabkan suhu dingin khas daerah dataran tinggi dan mengganggu rutinitas masyarakat, tetapi juga memicu bencana banjir dan tanah longsor yang mengancam keselamatan serta kesejahteraan penduduk.
Kejadian ini menjadi alarm penting bagi pemerintah daerah dan masyarakat untuk segera bertindak, terutama dalam mengatasi sistem drainase yang kurang memadai, parit tersumbat, serta kondisi geografis berbukit yang memperbesar risiko bencana.
Data dari penelitian yang dilakukan oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Wilayah Aceh menunjukkan peningkatan kejadian cuaca ekstrem selama beberapa tahun terakhir.
Menurut laporan tersebut, intensitas curah hujan di wilayah tengah Aceh, termasuk Kabupaten Bener Meriah, meningkat signifikan terutama pada puncak musim hujan. Kondisi ini meningkatkan risiko banjir bandang dan tanah longsor, khususnya di wilayah perbukitan dan pemukiman yang berada di lereng.
Pada periode tertentu, curah hujan tinggi di Lampahan menyebabkan meluapnya parit dan saluran air hingga menggenangi badan jalan serta area permukiman.
BMKG juga mengimbau masyarakat di beberapa kabupaten dataran tinggi Aceh, termasuk Bener Meriah, untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap bencana hidrometeorologi seperti banjir, longsor, dan angin kencang.
Situasi ini berdampak langsung pada kesehatan masyarakat, antara lain meningkatnya risiko penyakit infeksi saluran pernapasan, diare, serta penyakit kulit akibat lingkungan yang lembap dan sanitasi yang terganggu.
Cuaca ekstrem bukanlah fenomena yang bisa dianggap remeh, terutama karena dampaknya terhadap kesehatan dan lingkungan.
Di Lampahan, suhu udara yang relatif rendah saat hujan berkepanjangan, disertai kelembapan tinggi, dapat menurunkan daya tahan tubuh masyarakat.
Genangan air dan lumpur akibat drainase yang tidak optimal juga berpotensi menjadi sumber penyakit serta menghambat aktivitas ekonomi dan sosial warga.
Selain data dari BMKG, beberapa kajian akademik di Aceh menunjukkan bahwa wilayah dataran tinggi seperti Bener Meriah memiliki kerentanan tersendiri terhadap cuaca ekstrem.
Topografi berbukit, pembukaan lahan, serta keterbatasan infrastruktur pendukung memperbesar risiko longsor dan kerusakan jalan.
Oleh karena itu, diperlukan upaya mitigasi bencana yang terencana, seperti penguatan lereng, perbaikan saluran drainase, serta pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan.
Penting bagi masyarakat Lampahan untuk memahami langkah-langkah menjaga kesehatan di tengah cuaca ekstrem.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Sadna-Maulita-7.jpg)