Rabu, 3 Juni 2026

Opini

Tiga Pilar Menuju Indonesia Maju

Pernyataan otoritas kebijakan moneter mengenai perlunya sinergi untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi, berdaya tahan

Tayang: | Diperbarui:
Editor: Ansari Hasyim
hand over dokumen pribadi
Prof. Dr. Apridar, S.E., M. Si, dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis USK dan Ketua Dewan Pakar ICMI Orwil Aceh. 

Data BI mencatat, pada kuartal III 2023, nilai transaksi uang elektronik tumbuh 41,2 % (yoy), sementara pengguna QRIS telah mencapai lebih dari 45 juta merchant dan pelaku usaha mikro. Digitalisasi pembayaran adalah gerbang menuju inklusi keuangan yang lebih luas, memungkinkan UMKM masuk ke dalam ekosistem ekonomi formal, mendapatkan pembiayaan, dan memperluas pasar.

Namun, inklusi tidak hanya tentang akses keuangan, tetapi juga tentang akses pada peluang. Sinergi kebijakan moneter dan fiskal sangat vital di sini. Program pemerintah seperti Kredit Usaha Rakyat (KUR) dengan suku bunga bersubsidi, bisa lebih efektif jika dikawal dengan stabilitas makro yang menjaga daya beli masyarakat.

Pembiayaan fiskal untuk infrastruktur dasar (listrik, air, internet) di daerah tertinggal akan membuka pasar baru dan mengurangi kesenjangan. Dalam hal ini, benar bahwa “kita tidak perlu mempertentangkan moneter atau fiskal.” BI menjaga stabilitas harga dan nilai tukar, sementara APBN dialokasikan untuk pembangunan inklusif dan perlindungan sosial. Keduanya saling menguatkan.

Sinergi: Kunci Menuju Trilogi yang Terwujud

Ketiga pilar ini yaitu stabilitas, ketahanan, inklusi, harus dibangun secara simultan dan sinergis. Pemerintah dan BI telah menunjukkan komitmen dengan membentuk Tim Pengendalian Inflasi Pusat dan Daerah (TPIP/TPID) serta sinergi dalam program pemulihan ekonomi pasca pandemi.

Ke depan, sinergi harus ditingkatkan pada beberapa isu strategis:

Pertama Transisi Energi: Kebijakan moneter dan makroprudensial harus mendorong pembiayaan hijau (green financing) yang terjangkau, sementara fiskal memberikan insentif bagi investasi energi terbarukan.

Kedua Pendalaman Pasar Keuangan: Mengembangkan pasar surat berharga syariah negara dan korporasi untuk membuka alternatif pembiayaan yang stabil.

Ketiga Literasi Digital dan Keuangan: Mendorong kolaborasi BI, OJK, dan Kemendikbud untuk meningkatkan kapasitas masyarakat, khususnya pelaku UMKM, dalam memanfaatkan layanan digital dan keuangan.

Menuju Indonesia Maju 2045

Visi Indonesia Maju 2045 mensyaratkan ekonomi yang tidak hanya besar, tetapi juga tangguh dan adil. Fondasinya adalah stabilitas makroekonomi dan moneter yang dikawal oleh bank sentral yang independen dan kredibel.

Di atas fondasi itu, kita membangun dinding ketahanan dengan kebijakan makroprudensial yang inovatif dan penanganan kerentanan (seperti pangan) yang cermat. Dan akhirnya, kita menaungkupnya dengan atap inklusi yang memastikan setiap warga negara terlindungi dan terlibat dalam proses pertumbuhan.

Pertumbuhan tinggi, berdaya tahan, dan inklusif bukanlah tiga jalur yang terpisah. Ia adalah satu jalan tunggal menuju Indonesia Maju. Hanya dengan sinergi yang kuat, konsistensi kebijakan, dan komitmen pada kemandirian institusi, jalan itu dapat kita lalui dengan tegap, menghadapi ketidakpastian global, dan mewujudkan cita-cita kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia. Amin.

 

 

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved