Jumat, 8 Mei 2026

Banjir Landa Aceh

Kerusakan Tambak di 14 Kecamatan Aceh Utara Capai 10.660 Hektare, Kerugian Ditaksir Rp14 Miliar

Total luas tambak terdampak mencapai 10.660,78 hektare yang tersebar di 14 kecamatan, dengan estimasi kerugian ditaksir mencapai Rp14 miliar.

Tayang:
Penulis: Jafaruddin | Editor: Faisal Zamzami
Serambinews.com/HO
TAMBAK - Tambak di kawasan Desa Lancok Kecamatan Syamtalira Bayu Kabupaten Aceh Utara berubah menjadi kuala baru setelah bencana banjir pada akhir 2025. 

Ringkasan Berita:
  • Bencana banjir yang melanda Kabupaten Aceh Utara pada 26 November 2035 menyebabkan ribuan hektare tambak udang dan bandeng rusak.
  • Total luas tambak terdampak mencapai 10.660,78 hektare yang tersebar di 14 kecamatan, dengan estimasi kerugian ditaksir mencapai Rp14 miliar.
  • Berdasarkan data yang diperoleh Serambinews.com, tingkat kerusakan tambak diklasifikasikan menjadi beberapa kategori: Sedang, berat, dan berat sekali.

 

Laporan Wartawan Serambi Indonesia,  Jafaruddin | Aceh Utara

SERAMBINEWS.COM, LHOKSUKON – Bencana banjir yang melanda Kabupaten Aceh Utara pada 26 November 2035 menyebabkan ribuan hektare tambak udang dan bandeng rusak.

Total luas tambak terdampak mencapai 10.660,78 hektare yang tersebar di 14 kecamatan, dengan estimasi kerugian ditaksir mencapai Rp14 miliar.

Tambak yang mengalami kerusakan tersebar di Kecamatan Nisam, Syamtalira Bayu, Tanah Jambo Aye, Seunuddon, Baktiya, Baktiya Barat, Lhoksukon, Samudera, Syamtalira Aron, Tanah Pasir, Lapang, Muara Batu, Dewantara, hingga Sawang.

Berdasarkan data yang diperoleh Serambinews.com, tingkat kerusakan tambak diklasifikasikan menjadi beberapa kategori.

Tambak dengan rusak ringan tercatat seluas 6.634,64 hektare, rusak sedang seluas 3.650,12 hektare, rusak berat mencapai 369,78 hektare, dan rusak berat sekali seluas 6,24 hektare.

Komoditas utama yang terdampak adalah udang dan bandeng, serta sebagian kerapu dan kakap, khususnya di wilayah Kecamatan Syamtalira Bayu.

Seluruh unit pembudidayaan yang terdampak umumnya bergerak pada segmen pembesaran dengan teknologi budidaya tradisional dan dikelola secara berkelompok.

Baca juga: Pemkab Aceh Utara Ajukan Permohonan Jadup dan Bantuan Perbaikan Rumah ke Kementerian Sosial

Kerusakan paling dominan terjadi pada sarana dan prasarana tambak, terutama pematang dan saluran air yang terendam serta tertutup sedimen lumpur akibat banjir.

“Kondisi ini menyebabkan terganggunya siklus produksi dan menurunnya produktivitas tambak secara drastis,” ujar M Nasir, petani tambak Aceh Utara, kepada Serambinews.com, Selasa (10/2/2026).

Beberapa kecamatan mengalami dampak kerusakan cukup besar.

Kecamatan Seunuddon tercatat sebagai wilayah terdampak terluas dengan 3.864,65 hektare dan estimasi kerugian lebih dari Rp5 miliar.

Disusul Baktiya Barat seluas 2.787,19 hektare dengan kerugian lebih dari Rp3 miliar, serta Tanah Jambo Aye seluas 1.157,94 hektare dengan estimasi kerugian sekitar Rp1,5 miliar.

Sementara itu, di Kecamatan Lapang, luas tambak terdampak mencapai 920,07 hektare dengan estimasi kerugian Rp1,24 miliar, dan di Kecamatan Samudera seluas 543,74 hektare dengan kerugian sekitar Rp734 juta.

Selain tambak rakyat, banjir juga berdampak pada Balai Benih Ikan (BBI) di Kecamatan Sawang.

“Estimasi kerugian di BBI Sawang mencapai sekitar Rp500 juta,” ujar Plt Kepala Pelaksana BPBD Aceh Utara, Fauzan MAP, kepada Serambinews.com. (*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved