Opini
Merajut Kebijakan Stabilisasi untuk Aceh Tangguh
Data Bappeda Aceh mengonfirmasi diagnosis ini. Investasi di Aceh pada 2022 mencapai Rp12,57
Saat ini, respons terhadap bencana masih mengandalkan refocusing anggaran yang memakan waktu. Dengan dana kontinjensi yang siap pakai, intervensi penawaran agregat bisa dilakukan dalam hitungan hari, bukan minggu.
Pemulihan dana transfer Rp1,7 triliun harus diikuti dengan komitmen bahwa alokasi serupa akan tersedia secara otomatis ketika indikator kerentanan terpenuhi.
Ketiga, membangun sistem logistik yang tahan banting. Pelajaran dari bencana Desember-Januari menunjukkan bahwa kerusakan jalan adalah kerusakan ekonomi. Pemerintah Aceh harus memiliki peta logistik darurat yang mengidentifikasi rute alternatif, gudang penyangga di setiap kabupaten, dan kontrak darurat dengan penyedia jasa transportasi. Stabilisasi harga tidak boleh bergantung pada heroisme helikopter Hercules setiap kali bencana datang. Ini harus menjadi sistem, bukan aksi.
Dari Siklus ke Loncatan
Ekonomi Aceh saat ini berada di persimpangan. Kita bisa memilih untuk terus terperangkap dalam siklus boom-bust yang melelahkan, boom saat harga komoditas tinggi, bust saat bencana datang atau harga global jatuh. Atau kita bisa memilih untuk melakukan lompatan: menggunakan setiap krisis sebagai momentum transformasi.
Data BPS menunjukkan bahwa IPH Aceh telah terkoreksi, inflasi terkendali, dan harga kebutuhan pokok berangsur stabil. Itu kabar baik. Tapi kabar baik tidak boleh membuat kita terlena. Stabilitas hari ini adalah hasil intervensi darurat, bukan buah dari struktur ekonomi yang tangguh.
Aceh membutuhkan kebijakan stabilisasi yang tidak hanya pandai memadamkan api, tetapi juga membangun rumah yang tahan api. Kita membutuhkan kebijakan fiskal yang ekspansif di saat yang tepat, moneter yang adaptif di sektor riil, dan yang paling penting, keberanian untuk melakukan diversifikasi struktural.
Fluktuasi akan terus datang. Bencana mungkin kembali melanda. Harga komoditas akan tetap naik-turun. Tapi jika fondasi ekonomi kita sudah kokoh, jika industri pengolahan sudah tumbuh, jika sistem logistik sudah tahan banting, maka kita tidak akan mudah terperosok ke dalam jurang setiap kali badai datang.
Siklus bisnis adalah hukum ekonomi. Kemiskinan bukanlah takdir. Kita bisa memilih untuk menjadi lebih kuat. Mari kita buktikan.
Wallahu a'lam bishawab.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/apridarrr.jpg)