Selasa, 14 April 2026

Opini

Menyatukan Spirit Kampus Darussalam

Bagi masyarakat Aceh, USK dan UINAR bukan sekadar institusi yang menjalankan rutinitas birokrasi akademik; keduanya adalah Jantong Hate.

Editor: Ansari Hasyim
IST
Prof Dr Azharsyah Ibrahim SE Ak MSOM, Guru Besar Manajemen Syariah pada Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam UIN Ar-Ranir 

Oleh: Azharsyah Ibrahim*)

DUA kampus kebanggaan masyarakat Aceh di Darussalam sedang proses transisi kepemimpinan. Selangkah lebih cepat, Universitas Syiah Kuala (USK) telah menuntaskan proses suksesi kepemimpinannya dengan elegan pada 3 Maret 2026.

Prof. Dr. Mirza Tabrani, S.E., M.B.A., D.B.A secara resmi dilantik sebagai rektor masa jabatan 2026–2031 setelah meraih dukungan mayoritas dalam sebuah proses demokrasi yang berlangsung khidmat. Di sisi lain, Universitas Islam Negeri Ar-Raniry (UINAR) juga sedang memulai prosesi serupa.

Sebagaimana diberitakan Serambi Indonesia (3/4/2026), empat akademisi terbaik Aceh, yaitu Prof. Muhammad Siddiq Ph.D, Prof. Dr. Saifullah Idris M.Ag, Prof Dr Inayatillah M.Ag, dan Prof. Dr. Mujiburrahman M.Ag telah resmi mendaftarkan diri sebagai bakal calon untuk berkontestasi menjadi menjadi rektor UINAR kedepan.

Bagi masyarakat Aceh, USK dan UINAR bukan sekadar institusi yang menjalankan rutinitas birokrasi akademik; keduanya adalah Jantong Hate. Sebagai dua lembaga pendidikan tertua, keduanya dipandang sebagai institusi penghasil intelektual yang tersebar ke setiap sendi kehidupan keagamaan, sosial, ekonomi, dan budaya di bumi Serambi Mekkah.

USK berperan sebagai jangkar kemajuan sains dan teknologi modern, sementara UINAR menjadi pilar penguat sisi keagamaan yang moderat berbasiskan etika keislaman. Meski memiliki fokus berbeda, keduanya berdiri di atas landasan yang sama: amanah untuk mencerdaskan anak bangsa sekaligus menjaga kehormatan Aceh sebagai daerah berperadaban dan religius di kancah nasional dan global.

Mengakhiri Kesan Dikotomis

Selama ini, terkesan ada semacam garis imajiner yang memisahkan kedua kampus di Darussalam ini yang menciptakan persepsi dikotomis yang usang. USK sering kali dipandang sebagai pusat sains "duniawi" yang liberal, sedangkan UINAR ditempatkan sebagai penjaga konservatif ranah “ukhrawi”. Padahal, kompleksitas persoalan Aceh saat ini, mulai dari fluktuasi kemiskinan hingga degradasi lingkungan, tidak lagi dapat dipecahkan melalui satu perspektif disiplin ilmu saja.

Di sinilah urgensi sinergisitas menemukan relevansinya melalui spirit fastabiqul khairat. Merujuk pada Al Quran Surah Al-Baqarah ayat 148 dan Al-Maidah ayat 48, konsep ini secara literal berarti "berlomba-lombalah dalam kebaikan." Dalam konteks kepemimpinan akademik modern, fastabiqul khairat bertransformasi menjadi sebuah etos kerja profesional yang menjunjung tinggi keunggulan (excellence) dan integritas. Namun, esensi "berlomba" di sini tidak boleh dimaknai secara kompetitif-eliminatif, melainkan sebuah pacuan kolaboratif untuk menghadirkan kemaslahatan publik yang lebih luas (al-manfa'ah al-'ammah).

​​Seorang pemimpin akademik yang mengadopsi spirit ini tidak akan terjebak pada sekadar "menjalankan tugas" administrasi. Kepemimpinan di universitas adalah kepemimpinan moral (moral leadership). Ia harus menjadi kompas bagi disiplin, kejujuran, dan pengorbanan melalui keteladanan (lead by example). Di sini, kompetisi kehilangan watak aslinya yang bersifat eliminatif dan berubah menjadi perlombaan dalam menciptakan kebijakan yang paling membawa maslahat bagi seluruh civitas akademika. 

Responsivitas atau kesegeraan dalam menghadirkan solusi menjadi kunci utama. Pemimpin yang berjiwa fastabiqul khairat secara alamiah akan menolak mediokritas—pencapaian yang biasa-biasa saja. Ia akan terus mendorong institusinya bergerak maju dalam semangat perbaikan berkelanjutan atau kaizen, di mana prestasi hari ini harus lebih baik dari kemarin. Kesadaran bahwa jabatan adalah amanah transendental yang akan dipertanggungjawabkan di hadapan manusia dan Tuhan membuat setiap kebijakan harus berorientasi pada keberlanjutan, bukan sekadar popularitas jangka pendek.

Dalam ranah akademik, semangat ini harus menjadi motor penggerak Tridharma Perguruan Tinggi yang lebih progresif. USK dan UINAR harus bersinergi membangun budaya riset yang membumi. Kita tidak memerlukan lagi penelitian yang hanya berakhir sebagai tumpukan kertas di perpustakaan atau sekadar mengejar angka sitasi demi angka. Dunia menanti riset yang memberikan solusi nyata bagi problematika kemiskinan, perubahan iklim, dan degradasi moral yang sedang melanda masyarakat. 

Membangun Sinergi Imperatif

Dunia akademik, seringkali dikritik sebagai "menara gading", sebuah entitas elitis yang asyik dengan dirinya sendiri sementara masyarakat di bawahnya mengerang dalam berbagai persoalan. Aceh saat ini masih bergelut dengan tantangan kemiskinan yang fluktuatif serta rendahnya literasi ekonomi dan keuangan. Di sinilah relevansi sinergi antara USK dan UINAR diuji.

Sinergi riset lintas disiplin adalah kebutuhan mendesak, bukan lagi sekadar pilihan diplomatis. Kita merindukan lahirnya kebijakan publik di Aceh yang berbasis riset kuat (evidence-based policy) dari Darussalam, bukan sekadar asumsi politik. Misalnya, pakar ekonomi pembangunan dari USK riset bersama ahli ekonomi syariah dari UINAR riset bersama untuk merumuskan model pemberdayaan ekonomi masyarakat Aceh yang aplikatif. 

Potensi besar UINAR yang menduduki peringkat ke-14 dunia dalam kategori riset berbasis keagamaan versi Scimago Institutions Rankings 2026 akan jauh lebih berdampak jika dikolaborasikan dengan jaringan industri dan akselerasi teknologi yang dimiliki USK. Sinergi ini akan menempatkan Aceh bukan lagi sebagai penonton di pinggir lapangan sejarah, melainkan pemain utama dalam kancah intelektual internasional.

Sejarah mencatat bahwa peradaban Islam mencapai puncak kejayaannya ketika ilmu agama dan ilmu umum berkelindan tanpa sekat. Kita teringat pada Baitul Hikmah di Baghdad dan Universitas Al-Qarawiyyin di Maroko yang mampu berjaya karena mengutamakan kemaslahatan publik serta visi masa depan. Di sana, para ilmuwan bekerja melampaui batasan fanatisme golongan, saling berpacu dalam menerjemahkan, meneliti, dan mengembangkan sains demi kepentingan kemanusiaan.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved