Selasa, 2 Juni 2026

Opini

Jam Beker vs Toa: Ramadan antara Sunnah dan Gangguan di Tanah Syariat

Di balik kemeriahan yang dianggap sebagai bentuk syiar dan produktivitas ibadah tersebut, tersimpan keresahan yang tak boleh diabaikan.

Tayang:
Editor: Ansari Hasyim
hand over dokumen pribadi
Prof. Dr. Apridar, S.E., M.Si, Dosen FEB-USK dan Ketua Dewan Pakar ICMI Orwil Aceh. 

Proporsional berarti menggunakan speaker luar (eksternal) hanya untuk hal-hal esensial seperti azan, itupun dengan volume yang wajar, bukan malah memekakkan telinga. Sementara untuk tadarus, ceramah, atau kegiatan lainnya, cukup gunakan speaker dalam yang hanya bisa didengar oleh jamaah di dalam masjid.

Selanjutnya, untuk urusan bangun sahur, kita harus mulai membiasakan diri dengan "teknologi individual" yang lebih santun: jam beker. Di era digital ini, hampir setiap orang memiliki ponsel pintar yang dilengkapi fitur alarm. Argumen bahwa orang akan kesulitan bangun tanpa teriakan toa adalah anggapan yang perlu dikoreksi.

Justru dengan mengandalkan alarm, kita melatih diri untuk lebih bertanggung jawab atas ibadah kita sendiri, tanpa membebani orang lain. Jika satu keluarga memiliki pembagian tugas menyiapkan sahur, maka yang bertugas memasaklah yang cukup bangun lebih awal, sementara anggota keluarga lainnya dapat beristirahat tenang hingga waktu makan tiba. Inilah esensi dari ta'awun (saling tolong-menolong) yang tidak merugikan pihak ketiga.

Kesimpulan: Mengembalikan Esensi Ibadah yang Menenteramkan

Sebagai daerah yang menerapkan syariat Islam, Aceh memiliki tanggung jawab moral untuk menjadi contoh bagaimana hukum Islam dijalankan dengan penuh kebijaksanaan (hikmah) dan kelembutan. Toa bukanlah musuh, tetapi penggunaannya harus tunduk pada etika. Mempertahankan volume toa pada level yang mengganggu sama saja dengan mengabaikan hak-hak tetangga yang dilindungi syariat, seperti hak untuk beristirahat dan hak untuk tidak diganggu.

Sudah saatnya kita melakukan "revolusi santun" dalam beribadah. Mari kita gunakan toa secara proporsional untuk menjaga kekhusyukan di dalam masjid, dan beralih ke jam beker untuk urusan pribadi seperti bangun sahur.

Dengan cara ini, kita merayakan Ramadan tidak hanya dengan banyaknya amalan, tetapi juga dengan tingginya akhlak. Kita menghidupkan malam dengan Al-Quran tanpa mematikan hak orang lain untuk tidur nyenyak. Karena pada akhirnya, seindah-indahnya syiar adalah yang tidak melukai, dan setinggi-tingginya ibadah adalah yang membawa kedamaian bagi semesta.

 

 

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved