Jumat, 8 Mei 2026

Wawancara Eksklusif

Terkait Cicilan Pinjaman Nasabah Korban Banjir, Pemutihan Kredit Harus Jadi Opsi

Supaya tidak membebani neraca dan NPF kredit bisa dihapus buku. Ini pahit, tapi bisa jadi pilihan kebijakan, tergantung pemetaan kondisi korban

Tayang:
Editor: mufti
COVER KORAN SERAMBI INDONESIA/KORAN SERAMBI INDONESIA
HEADLINE KORAN SERAMBI INDONESIA EDISI RABU 20260225 

“Supaya tidak membebani neraca dan NPF (non performing financing), kredit bisa dihapus buku. Ini pahit, tapi bisa jadi pilihan kebijakan, tergantung pemetaan kondisi korban.” Rustam Effendi, Pengamat Ekonomi Aceh

PENGANTAR - Bencana yang melanda Aceh tak hanya merusak infrastruktur, tetapi juga menghantam denyut ekonomi rakyat. Rumah hanyut, areal sawah dan tambak rusak. Berbagai bidang usaha gulung tikar. Yang tersisa tagihan bulanan kredit dari berbagai lembaga keuangan, yang kini menjadi beban besar bagi korban banjir dan longsor di Aceh. Sebagian mereka bahkan telah kehilangan ‘segala-galanya’.

Pengamat Ekonomi Aceh Dr Rustam Effendi mengulas dampak bencana tersebut terhadap pertumbuhan ekonomi, UMKM, hingga kredit macet masyarakat terdampak. Berikut penuturan lengkap dosen Fakultas Ekonomi Universitas Syiah Kuala itu kepada Yocerizal, Koordinator Liputan Khusus Serambi, bersama Videografer, Hendri:

Seberapa besar dampak bencana ini terhadap ekonomi masyarakat?

Dampaknya sangat besar karena langsung menyentuh fondasi ekonomi warga. Jika dilihat secara keseluruhan, hampir 60 persen aktivitas ekonomi terdampak. Tepatnya sekitar 58,8 persen lapangan usaha terkena imbas bencana ini.

Ada 17 lapangan usaha yang terdampak, mulai dari perdagangan, administrasi pemerintahan, angkutan, pergudangan, kesehatan, infokom, akomodasi makan-minum, hingga jasa-jasa lain. Salah satu dampak paling besar adalah sektor listrik dan air, karena selama hampir satu bulan aktivitas masyarakat praktis terhenti. Berbeda dengan tsunami dulu yang cakupannya terbatas di wilayah pesisir, bencana kali ini menjangkau 18 kabupaten/kota, sehingga dampaknya jauh lebih luas.

Sektor apa yang paling besar terdampak?

Yang paling besar terdampak antara lain: Administrasi pemerintahan (banyak fasilitas lumpuh), Pertambangan dan penggalian, listrik, perdagangan dan lapangan usaha, dan UMKM. UMKM ikut terpukul karena mereka berada di hilir: kios rusak, pasar terdampak, dan akses perdagangan terputus.

Bagaimana pengaruhnya terhadap pertumbuhan ekonomi Aceh?

Sejak Desember sudah terjadi bencana. Akibatnya, pertumbuhan ekonomi Aceh menjadi negatif. Secara quarter to quarter (TW 4 dibanding TW 3) tercatat minus 0,05 persen. Secara year on year bahkan minus 1,91 persen.

Padahal biasanya TW 4 selalu positif dan bisa mencapai 4-4,6 persen. Tahun ini justru jatuh. Dampaknya, pertumbuhan ekonomi Aceh tahun 2025 yang biasanya sekitar 4,26 persen, turun menjadi hanya 2,47 persen. Ini karena angka tersebut merupakan akumulasi TW 2, TW 3, dan TW 4 yang kemudian dibagi empat.

Kalau melihat ke depan, apakah pemulihan bisa cepat?

Pemulihan dalam waktu singkat sangat sulit. Mengubah angka negatif menjadi positif dari TW 4 ke TW 1 tahun berikutnya bukan perkara mudah. Tanpa upaya yang masif dan strategis, pertumbuhan positif kemungkinan hanya kecil, bahkan bisa stagnan di angka 1 persen.

Masalah utamanya adalah banyak pelaku usaha mikro dan kecil yang benar-benar kehilangan sumber penghidupan: kios rusak, pasar hancur, lahan pertanian tidak bisa digarap. Untuk memulihkan kondisi awal butuh effort besar.

Berkaitan dengan hal itu, bencana ini juga berdampak pada meningkatnya kredit masyarakat. Apa yang seharusnya dilakukan?

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved