Jumat, 10 April 2026

Berita Banda Aceh

Sosiolog Sebut Antrean BBM di Aceh Dipicu Panic Buying, bukan Kelangkaan Stok

Antrian panjang BBM di Aceh lebih dipicu oleh panic buying akibat kekhawatiran masyarakat, bukan karena stok yang benar-benar langka.

|
Penulis: Indra Wijaya | Editor: Saifullah
YouTube Serambinews
PANIC BUYING - Sosiolog Aceh, Prof Humam Hamid mengungkapkan, fenomena antrian panjang di SPBU merupakan bentuk panic buying, padahal stok BBM aman. 

Ringkasan Berita:
  • Antrian panjang BBM di Aceh lebih dipicu oleh panic buying akibat kekhawatiran masyarakat, bukan karena stok yang benar-benar langka.
  • Konflik di Timur Tengah memang memengaruhi harga minyak dunia, tetapi dampaknya di Indonesia masih bersifat psikologis, bukan krisis nyata.
  • Sosiolog USK menekankan pentingnya komunikasi publik yang jelas agar masyarakat tidak bereaksi berlebihan, karena stok energi nasional sebenarnya aman.

 

Laporan Wartawan Serambi Indonesia Indra Wijaya | Banda Aceh

SERAMBINEWS.COM, BANDA ACEH - Fenomena antrean panjang BBM di Aceh saat ini lebih banyak dipicu oleh ketakutan masyarakat akan kelangkaan atau panic buying, meskipun secara stok pemerintah telah memastikan pasokan aman. 

Persepsi ini semakin diperkuat oleh pemberitaan gejolak harga minyak dunia akibat konflik Timur Tengah, terutama perang Iran versus Amerika dan Israel.

Sosiolog yang juga Guru Besar Universitas Syiah Kuala (USK), Prof Humam Hamid mengatakan, harus diakui bahwa konflik di kawasan tersebut dapat mempengaruhi pasar energi global. 

Pasalnya kata dia, jalur distribusi minyak dunia seperti Selat Hormuz berada di kawasan itu.

Sehingga setiap gangguan di wilayah tersebut dapat mendorong kenaikan harga minyak dunia. 

“Namun demikian, dampak langsung terhadap kelangkaan BBM di Indonesia, khususnya di Aceh, belum tentu terjadi dalam waktu dekat,” kata Prof Humam saat dimintai tanggapan oleh Serambinews.com, Jumat (6/3/2026).

Baca juga: Antrean Panjang Hampir Seluruh SPBU di Bireuen, Kapolres Sebut Stok BBM Aman

Namun, ia mengingatkan, dalam situasi seperti ini, komunikasi pejabat publik juga sangat mempengaruhi perilaku masyarakat. 

Pasalnya, pernyataan Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia, misalnya, dapat dengan cepat membentuk persepsi publik tentang kondisi pasokan energi. 

Menurutnya, jika pesan yang diterima masyarakat ditafsirkan sebagai potensi gangguan pasokan.

Sebagian orang cenderung membeli BBM lebih banyak dari biasanya, sehingga antrian di SPBU menjadi panjang. 

“Sebaliknya, komunikasi yang jelas dan konsisten mengenai ketersediaan stok dapat membantu meredam kepanikan,” ucapnya.

Secara fundamental, Indonesia memiliki stok energi yang cukup, dan distribusi BBM tetap berjalan normal. 

Baca juga: Kapolda Aceh Minta Masyarakat Beli BBM Sesuai Kebutuhan, Penimbun Bisa Dipidana

Dampak perang di Timur Tengah memang dapat mempengaruhi harga minyak dunia dan secara tidak langsung berdampak pada beberapa komoditas.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved