Kamis, 11 Juni 2026

Berita Banda Aceh

Rektor USK Luncurkan Buku MemoryGraph, untuk Membangun Budaya Keselamatan

Universitas Syiah Kuala (USK) melalui Tsunami and Disaster Mitigation Research Center (TDMRC) secara resmi meluncurkan buku MemoryGraph dalam

Tayang:
Penulis: Yarmen Dinamika | Editor: Mursal Ismail
TDMRC USK
DISKUSI BUKU - Wakil Rektor I  USK, Prof Dr Ir Agussabti MSi bersama narasumber dan peserta foto bareng dalam acara  peluncuran buku MemoryGraph: Menjaga Kenangan Aceh Lewat Foto di Gedung TDMRC USK Banda Aceh, Kamis (26/3/2026). 
Ringkasan Berita:
  • Universitas Syiah Kuala melalui TDMRC meluncurkan buku MemoryGraph sebagai upaya memperkuat ingatan kolektif dan ketahanan masyarakat terhadap bencana.
  • Buku ini mengusung pendekatan visual-partisipatif, melibatkan masyarakat dalam mendokumentasikan perubahan lanskap dan memori pascabencana.
  • Kolaborasi internasional dan lintas disiplin menjadikan MemoryGraph sebagai alat edukasi, riset, serta penguatan budaya sadar bencana di masa depan.

Laporan Wartawan Serambi Indonesia Yarmen Dinamika l Banda Aceh

SERAMBINEWS.COM, BANDA ACEH - Universitas Syiah Kuala (USK) melalui Tsunami and Disaster Mitigation Research Center (TDMRC) secara resmi meluncurkan buku MemoryGraph dalam sebuah acara yang berlangsung di Auditorium Dr Ir M Ridha MEng, TDMRC USK, Darussalam, Banda Aceh, Kamis (26/3/2026) pagi.

Peluncuran ini menjadi momentum penting dalam menguatkan peran ingatan kolektif sebagai bagian dari upaya membangun ketahanan masyarakat terhadap bencana.

Buku MemoryGraph menghadirkan pendekatan visual dan partisipatif yang menghubungkan lanskap, memori, dan keterlibatan masyarakat dalam mendokumentasikan perubahan di lokasi tertentu pascabencana.

Direktur TDMRC USK, Prof Dr Syamsidik MEng, dalam sambutannya menekankan pentingnya
menjaga ingatan bencana dalam konteks perubahan sosial dan generasi.

“Banyak studi menunjukkan bahwa masyarakat cenderung semakin melupakan kejadian bencana besar yang pernah terjadi, terutama seiring dengan pergantian generasi.

Buku ini menjadi salah satu upaya penting dalam membangun ‘safety culture’ yang harus terus-menerus disampaikan dan diwariskan,” ujarnya.

Baca juga: Aipda Maulizar Terima Piagam Penghargaan atas Aksi Heroik Selamatkan Warga dari Banjir Bandang

Sementara itu, Prof Dr Ir Agussabti MSi, Wakil Rektor Bidang Akademik USK yang mewakili Rektor Prof Mirza Tabrani meluncurkan secara resmi buku yang ditulis Yoshimi Nishi, Alfi Rahman, Rizanna Rosemary, Eka Husnul Hidayati, Rizka Puspitasari, dan Arie Julianda itu.

Buku setebal 80 halaman dan ‘full colour’ ini disunting oleh Yarmen Dinamika, Redaktur Harian Serambi Indonesia yang juga Pembina Forum Aceh Menulis (FAMe).

Prof Agussabti menyampaikan apresiasi atas kolaborasi internasional yang melatarbelakangi lahirnya buku penting ini.

“Kami menyampaikan apresiasi yang luar biasa atas inisiatif yang telah lama diinisiasi oleh CSEAS Kyoto University bersama para peneliti di Aceh.

Ini menunjukkan pentingnya kerja kolaboratif lintas negara dalam pengembangan pengetahuan dan praktik kebencanaan,” ungkapnya.

Setelah membuka acara atas nama Rektor USK, Prof Agussabti juga diminta tetap berada di panggung untuk menerima penyerahan buku secara simbolis dari Prof Yoshimi Nishi PhD, mewakili tim penulis.

Baca juga: Bantah Isu Mundur, Dokter Tifa Tegaskan Tetap Kritik Ijazah Jokowi Meski Absen Selama Ramadan

Nishi juga menyerahkan buku kepada sepuluh tokoh lainnya yang mewakili berbagai organisasi maupun personal.

Buku ini merupakan hasil perjalanan panjang yang berakar dari pengalaman lapangan, mulai dari Aceh Tsunami Mobile Museum, pengembangan pendekatan ‘memory hunting’, hingga
lahirnya konsep MemoryGraph sebagai metode dokumentasi berbasis ‘repeat photography’.

Salah satu penulis buku, Dr Alfi Rahman, menjelaskan bahwa MemoryGraph lahir dari refleksi atas
perubahan lanskap pascabencana yang tidak selalu diikuti dengan upaya menjaga ingatan masyarakat.

“Pascabencana besar, kita sering melihat perubahan fisik yang sangat cepat.

Namun, dampak yang sering luput adalah hilangnya ingatan yang melekat pada ruang tersebut.

Padahal, lanskap adalah penyimpan ingatan kolektif. Bencana bukan hanya kehilangan fisik, tetapi
juga kehilangan memori,” jelasnya.

Baca juga: Romy Soekarno Tolak WFH Hari Jumat, Khawatir Picu Long Weekend dan Turunkan Produktivitas

Pendekatan MemoryGraph menempatkan masyarakat sebagai aktor utama dalam proses dokumentasi.

Melalui praktik visual berbasis foto, masyarakat diajak untuk merekam ulang lokasi-lokasi penting yang memiliki nilai historis dan emosional.

Dalam kesempatan yang sama, akademisi dari Jepang, Prof Yoshimi Nishi PhD, menegaskan
bahwa pendekatan ini memiliki nilai penting dalam studi memori dan kebencanaan.

“Ingatan tidak hanya tersimpan dalam arsip formal, tetapi juga hidup dalam pengalaman sehari-hari masyarakat.

MemoryGraph memungkinkan kita untuk menangkap dan memahami dimensi tersebut secara lebih utuh,” ujar Yoshimi Nishi yang juga penulis buku.

Dari perspektif pengalaman lapangan, Rizka Puspitasari, peneliti muda TDMRC USK, berbagi refleksi dari keterlibatannya di wilayah terdampak bencana badai Senyar.

Baca juga: 56 Titik Panas Terpantau, Ini Prediksi Cuaca saat Weekend Libur Lebaran di Banda Aceh

“Pengalaman di lapangan menunjukkan bahwa ingatan masyarakat sering kali tersimpan dalam cerita sederhana dan pengalaman sehari-hari.

Namun, perlahan memudar jika tidak didokumentasikan.

Pendekatan seperti MemoryGraph membantu menjembatani pengalaman tersebut agar tetap hidup dan bermakna,” ujarnya.

Dari sisi kearsipan, Eka Husnul Hidayati, arsiparis Balai Arsip Statis Tsunami ANRI,
menekankan peran arsip dalam menjaga keberlanjutan pengetahuan.

“Arsip merupakan jembatan antara masa lalu, masa kini, dan masa depan. Melalui pendekatan seperti MemoryGraph, arsip tidak hanya disimpan, tetapi juga dihidupkan kembali dalam pengalaman masyarakat,” jelasnya.

Dari perspektif literasi dan jurnalistik, Yarmen Dinamika menyoroti pentingnya pendekatan visual dalam memperluas partisipasi masyarakat.

Baca juga: Usai Libur Lebaran, KPAI Ingatkan Sekolah Jangan Langsung Bebani Siswa dengan Materi Berat

“Literasi melalui foto ini sangat penting dan relevan dengan perkembangan media saat ini.

Ini sejalan dengan praktik seperti citizen reporter, misalnya di Serambi Indonesia, yang memungkinkan masyarakat terlibat langsung dalam produksi informasi.

MemoryGraph membuka peluang besar untuk mendorong partisipasi publik dalam mendokumentasikan realitas mereka sendiri,” jelasnya.

Menurut Yarmen, MemoryGraph juga dapat membantu wartawan dan fotografer menghasilkan foto jurnalistik yang lebih presisi dalam merekam perubahan.

Bukan sekadar estetis, tetapi juga merupakan foto berisi data visual yang dapat dipertanggungjawabkan.

Sementara itu, Kepala Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI), Dr Mego Pinandito MEng, dalam sambutannya di awal acara menegaskan komitmen institusi dalam mendukung pemanfaatan arsip bencana secara lebih
luas.

“ANRI sangat mendukung berbagai upaya agar arsip bencana tidak hanya tersimpan, tetapi juga dapat dimanfaatkan oleh berbagai pihak, terutama dalam membangun kehidupan yang lebih baik ke depan. Arsip harus hidup dan memberi manfaat bagi masyarakat,” tegasnya.

Perwakilan dari Balai Arsip Statis dan Tsunami Arsip Nasional Republik Indonesia (BAST ANRI) juga menekankan bahwa pendekatan seperti MemoryGraph dapat memperkaya praktik kearsipan dengan melibatkan masyarakat secara langsung, sehingga arsip tidak hanya menjadi milik institusi, tetapi juga milik bersama.

Selain sebagai karya akademik, buku MemoryGraph diharapkan menjadi alat edukasi yang dapat digunakan dalam pendidikan tinggi, penelitian, serta pengabdian kepada masyarakat.

Pendekatan ini membuka ruang pembelajaran berbasis pengalaman (experiential learning) yang menghubungkan mahasiswa dengan realitas sosial di lapangan.

Acara peluncuran ini dihadiri oleh berbagai pihak, termasuk akademisi, peneliti, pemerintah,
Komunitas literasi, sejumlah guru, mahasiswa, serta mitra kolaborasi nasional dan internasional.

Diskusi dipandu Rizanna Rosemary PhD dari FISIP USK dan diakhiri dengan foto bersama.

Diskusi yang berlangsung tiga jam penuh itu menunjukkan bahwa menjaga ingatan bukan hanya tentang masa lalu, tetapi juga tentang masa depan.

“Ketahanan masyarakat tidak hanya dibangun melalui infrastruktur, tetapi juga melalui kemampuan menjaga ingatan dan mendengarkan suara yang selama ini terabaikan,” tutup Dr Alfi Rahman. (*)

 

 

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved